Review: Happy Old Year (2019)

Selain menampilkan penampilan akting dari aktor Sunny Suwanmethanont – yang sebelumnya pernah ia arahkan dalam film Heart Attack (2015) dan Die Tomorrow (2017), film terbaru arahan sutradara Nawapol Thamrongrattanarit, Happy Old Year, juga menghadirkan aktris Chutimon Chuengcharoensukying yang popular berkat penampilan apiknya dalam Bad Genius (Nattawut Poonpiriya, 2017) serta turut tampil bersama Suwanmethanont dalam Die Tomorrow. Tidak mengherankan, kefamiliaran kinerja serta ritme kerja antara satu dengan yang lain begitu dapat dirasakan muncul dalam penampilan Chuengcharoensukying dan Suwanmethanont serta pengarahan yang diberikan oleh Thamrongrattanarit. Naskah cerita film yang juga ditulis oleh Thamrongrattanarit mengalir dengan atmosfer melankolis yang kental dalam menghantarkan kisahnya yang bertutur soal beranjak dari kenangan masa lalu. Tema yang mungkin terdengar begitu sederhana namun mampu dibangun Thamrongrattanarit dengan berbagai pemikiran yang mendalam serta menyentuh tentang kehidupan.

Happy Old Year memulai pengisahannya ketika Jean (Chuengcharoensukying), yang baru saja kembali ke Thailand dari masa pendidikannya di Swedia selama tiga tahun, berkeinginan untuk mengubah sebagian rumahnya menjadi kantornya sebagai seorang desainer interior. Berangan untuk memiliki wilayah kerja dengan konsep minimalis, langkah pertama yang harus diambil Jean dalam proses merenovasi rumahnya adalah dengan membuang berbagai tumpukan barang tidak berguna yang berserakan di berbagai sudut rumah – sebuah ide yang lantas mendapat tentangan keras dari sang ibu (Apasiri Chantrasmi) yang merasa bahwa semua benda memiliki sejarah emosional dan membuatnya tidak dapat dibuang begitu saja. Walau mengganggu, tentangan sang ibu tidak begitu menyita pemikiran Jean karena dirinya telah bertekad untuk segera menyelesaikan tugasnya. Namun, ketika ia kemudian menemukan barang-barang yang dahulu diberikan mantan kekasihnya, Aim (Suwanmethanont), kepada dirinya, Jean mulai menghadapi konflik emosionalnya tersendiri.

Masih ingat dengan pakar pengorganisasian rumah sekaligus pencipta metode KonMari asal Jepang bernama Marie Kondo yang sempat begitu popular lewat seri Tidying Up with Marie Kondo (2019) yang dirilis Netflix? Kondo, lewat metode KonMari-nya, mengajarkan bahwa barang-barang yang berasal dari masa lalu dan tidak lagi memiliki kegunaan di masa sekarang haruslah dibuang untuk menghindari terjadinya penumpukan barang tidak berguna yang menyita begitu banyak ruang di sebuah rumah. Well… lewat analogi yang diterapkan Kondo tersebut, Thamrongrattanarit berusaha untuk menggambarkan proses pembersihan emosional dari diri sang karakter utama – dimulai dengan usaha untuk membersihkan kamarnya, mengembalikan berbagai barang kepada para pemiliknya, menyelesaikan berbagai persoalan yang masih belum diselesaikan, hingga berkonfrontasi dan berusaha untuk berdamai dengan konflik dari masa yang lalu. Semua hal tersebut dilakukan agar sang karakter utama dapat melangkah maju ke masa yang akan datang dengan lebih leluasa. Bahasan yang luar biasa mendalam.

Dan Happy Old Year tidak hanya berbicara mengenai hubungan romansa yang terjalin antara sang karakter utama dengan karakter mantan kekasihnya. Lapisan penceritaan yang dibentuk oleh Thamrongrattanarit mampu merangkum kisah-kisah lain yang berada pada karakter-karakter lain yang berada di seputaran kehidupan karakter Jean. Harus diakui, banyaknya kisah yang ingin disajikan membuat beberapa elemen pengisahan hadir dengan fokus yang kurang matang. Contoh yang krusial adalah bagaimana karakter Jean menangani hubungannya dengan karakter sang ibu yang seringkali hanya menjadi tumpuan cerita di beberapa bagian padahal memiliki nilai kisah yang cukup kuat dan emosional. Tata pengisahan yang dipilihkan Thamrongrattanarit untuk menjadikan alur cerita filmnya sebagai ajang kontemplasi bagi sang karakter utama juga menyita cukup banyak waktu ketika disampaikan secara intim dan perlahan. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal, atmosfer melankolis yang menyelimuti pengisahan Happy Old Year semenjak awal bekerja secara efektif karena penanganan cerita Thamrongrattanarit yang begitu handal.

Tidak begitu banyak ekspresi emosional yang ditunjukkan oleh para pengisi departemen akting di sepanjang bergulirnya linimasa cerita film ini. Kebanyakan tertahan pada rasa gundah dan kelam yang mengalir begitu kuat berkat penampilan apik dari Chuengcharoensukying, Suwanmethanont, dan jajaran pemeran lainnya. Penampilan dari Chuengcharoensukying, khususnya, mampu menjadi dorongan terbesar bagi Happy Old Days untuk dapat bercerita secara lugas dalam setiap penuturan emosionalnya. Chuengcharoensukying dapat menjalin chemistry yang padu dengan Thirawat Ngosawang yang berperan sebagai sang kakak. Konflik yang terbentuk antara karakter Jean dan sang ibu juga mampu terasa begitu mendalam berkat penampilan dari Chantrasmi. Serta, tentu saja, penampilan Chuengcharoensukying dan Suwanmethanont yang lihai dalam menampilkan rasa gugup, canggung, maupun kemuraman, sekaligus pengharapan dari dua sosok mantan kekasih yang pernah menjalin sebuah kisah romansa manis namun kemudian berakhir begitu saja. Happy Old Year adalah sebuah presentasi cerita yang memiliki kekuatan untuk bergerak dan menyentuh setiap penontonnya, membuat mereka merenungkan banyak hal personal sekaligus, yang terpenting, menghasilkan empati akan berbagai situasi yang sedang mereka jalani.

Happy Old Year (2019)

Directed by Nawapol Thamrongrattanarit Produced by Nawapol Thamrongrattanarit Written by Nawapol Thamrongrattanarit Starring Chutimon Chuengcharoensukying, Sunny Suwanmethanont, Sarika Sartsilpsupa, Thirawat Ngosawang, Apasiri Chantrasmi, Patcha Kitchaicharoen, Wasu Pluemsakulthai, Bhumibhat Thavornsiri, Neennara Boonnithipaisit, Phachaya Ngamboonsin, Parkin Tangtarntana, Naphasorn Sriwilas, Kelvin Wong, Olan Netrangsi, Nattaporn Surachatchupong, Thanyathan Phonsattha, Nutda Chawawanid, Suwit Sermsiltam, Philaiwan Khamphirathat, Chengnai Tuntiviriyangkul, Jitipat Vorakitpipat, Erika Manutham, Devid Keric, Jiraphat Kidakarnpiphat, Natsahat Taweekul, Puangsoi Aksornsawang, Cai Lianjie, Akapol Sudasna Music by Jaithep Raroengjai Cinematography Niramon Ross Edited by Chonlasit Upanigkit Production company Happy Ending Film/Very Sad Pictures Running time 113 minutes Country Thailand Language Thai

Leave a Reply