Review: Raya and the Last Dragon (2021)

Menjadi film animasi ke-59 yang diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios, Raya and the Last Dragon merupakan usaha teranyar dari rumah produksi milik The Walt Disney Company tersebut dalam melakukan diversifikasi pada karakter maupun kisah yang ditampilkan oleh film-film yang mereka rilis. Setelah Moana (Ron Clements, John Musker, 2016) yang menampilkan sosok karakter dan kisah yang didasarkan pada sejarah maupun legenda yang berasal dari gugus kepulauan Polinesia, Raya and the Last Dragon kini memberikan fokus pada barisan karakter serta kisah yang berasal dari Asia Tenggara. Dari segi pengisahan, Raya and the Last Dragon memang tidak menghadirkan tata penuturan yang begitu berbeda dengan film-film produksi Walt Disney Animation Studios lainnya. Tetap saja, dengan garapan yang apik, Raya and the Last Dragon tidak hanya mampu menjelma menjadi sajian yang menghibur sekaligus inspiratif khas film-film animasi Disney lainnya namun, di saat yang bersamaan, juga memiliki signifikansi yang begitu terhubung dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat modern saat ini.

Diarahkan oleh Don Hall (Big Hero 6, 2014) dan Carlos López Estrada (Summertime, 2020), dibuka dengan narasi yang bercerita tentang kehidupan yang harmonis antara manusia dengan para naga di sebuah wilayah bernama Kumandra. Keharmonisan tersebut terganggu oleh sebuah kekuatan jahat yang dikenal dengan sebutan Druun yang menyerap jiwa dari setiap orang-orang yang mereka hampiri dan mengubah orang-orang tersebut menjadi batu. Tidak ingin kehidupan manusia berakhir begitu saja, para naga lantas menyatukan kekuatan mereka menjadi sebuah bola yang berkekuatan magis dan mampu mengalahkan Druun – meskipun naga-naga itu sendiri lantas berubah menjadi batu. Para penduduk Kumandra memang kemudian terlepas dari kutukan Druun namun batu berkekuatan magis yang ditinggalkan oleh para naga lantas menjadi rebutan, menyebabkan perseteruan, dan memecah Kumandra menjadi lima kelompok: Fang, Heart, Spine, Talon, dan Tail.

500 tahun kemudian, Chief Benja (Daniel Dae Kim) yang merupakan pimpinan dari kelompok Heart dan menjadi penjaga bagi bola berkekuatan magis yang ditinggalkan oleh para naga, berupaya mempersatukan kembali Kumandra dengan mengundang seluruh kepala kelompok untuk bertemu. Pertemuan tersebut awalnya berjalan lancar namun sebuah usaha pengkhianatan terjadi yang membuat bola berkekuatan magis yang dijaga oleh Chief Benja terpecah dan membangkitkan kembali kekuatan jahat Druun. Dengan segera, Chief Benja dan orang-orang yang berada di sekitarnya berubah menjadi batu. Kini, enam tahun semenjak kejadian tersebut, puteri dari Chief Benja, Raya (Kelly Marie Tran), berupaya untuk menemukan pecahan-pecahan bola berkekuatan magis guna menyatukannya kembali agar dapat memanggil kekuatan para naga yang ia harapkan dapat mengalahkan Druun sekaligus mengembalikan keberadaan sang ayah.

Selepas perilisannya, Raya and the Last Dragon memantik banyak pembicaraan seputar seberapa besar kemampuan film ini untuk menghadirkan representasi yang benar akan kultur Asia Tenggara yang begitu beragam. Well… pilihan Walt Disney Animation untuk melibatkan pengisi suara yang berasal ataupun memiliki keterikatan dengan kultur Asia Tenggara dalam jumlah yang tidak dominan jelas terasa cukup mengecewakan. Meskipun begitu, Raya and the Last Dragon jelas telah terasa maksimal dalam menyajikan sentuhan warna maupun atmosfer pengisahan yang dapat mewakili negara-negara yang berada di wilayah tersebut. Memang, sukar untuk memberikan identifikasi secara lebih jelas dan kuat akan representasi kultur tersebut ketika film ini memilih untuk melebur ragam budaya yang datang dari negara-negara semacam Indonesia, Malaysia, Thailand, ataupun Vietnam daripada memberikan kesempatan bagi masing-masing warna budaya untuk dapat hadir menonjol. Tetap saja, pengelolaan cerita yang handal cukup menjadikan representasi budaya yang coba dihadirkan film ini terasa begitu elegan.

Seperti halnya kebanyakan film-film animasi garapan Walt Disney Animation Studios lainnya, Raya and the Last Dragon tergarap dengan tema maupun alur pengisahan yang memiliki kesan familiar. Sulit untuk tidak memberikan perbandingan antara berbagai karakteristik cerita yang ditampilkan oleh Qui Nguyen dan Adele Lim (Crazy Rich Asians, 2018) dalam film ini dengan sejumlah karakteristik yang pernah dihadirkan dalam Moana: sosok ayah yang merupakan seorang pemimpin sebuah kelompok, karakter utama yang merupakan sosok perempuan yang pemberani, sosok pendamping yang memiliki kekuatan magis, hingga perjalanan untuk mengumpulkan sejumlah artifak sebelum dapat menyelesaikan tugas final yang sebenarnya. Namun, kefamiliaran kisah tersebut tidak lantas membuat penuturan Raya and the Last Dragon menjadi jemu. Hall dan Estrada mampu memanfaatkan tiap karakteristik cerita tersebut dengan baik sehingga menjadikan perjalanan kisah film ini menjadi tetap memikat.

Pengarahan yang diberikan oleh Hall dan Estrada juga terasa lebih dewasa dengan memberikan lebih banyak ruang bagi elemen aksi dalam jalan cerita film. Tidak mengherankan bila adegan-adegan aksi dalam Raya and the Last Dragon yang tergarap dengan baik akan mampu menarik perhatian lebih banyak penonton dewasa. Memberikan pujian pada kemampuan Walt Disney Animation Studios untuk menyajikan tampilan animasi yang tidak hanya mampu memikat mata namun juga mampu mendukung atmosfer pengisahan mungkin bukanlah sebuah hal yang terlalu krusial. Meskipun begitu, sebagai kisah yang mengeksplorasi wilayah Asia Tenggara, Raya and the Last Dragon mampu menghadirkan warna-warna tidak hanya menyenangkan untuk dilihat namun berhasil memberikan representasi yang kuat akan wilayah maupun kultur yang sedang dikisahkan. Berbagai keberhasilan teknikal ini menjadikan tuturan Raya and the Last Dragon terasa begitu segar untuk terus dinikmati.

Kisah perjalanan yang dilalui oleh karakter Raya bersama dengan karakter-karakter pendampingnya harus diakui sempat terasa melempem pada akhir paruh kedua film. Beruntung, Hall dan Estrada memiliki Tran dan sejumlah talenta pengisi suara yang mampu menghidupkan setiap karakter yang hadir di linimasa penceritaan film ini. Tran berhasil menjadikan sosok Raya yang diperankannya begitu mudah untuk disukai – tampil dengan penuh energi tinggi, cerdas, namun sangat menyenangkan. Awkwafina, yang berperan sebagai sosok naga bernama Sisu yang mendampingi perjalanan dari karakter Raya juga berhasil mencuri perhatian dengan tiap momen komikal yang sukses dieksekusinya. Jajaran pengisi suara Raya and the Last Dragon juga diperkuat dengan penampilan dari Gemma Chan, Benedict Wong, dan Sandra Oh yang semakin memastikan solidnya kualitas presentasi film ini secara keseluruhan.

 

Raya and the Last Dragon (2021)

Directed by Don Hall, Carlos López Estrada, Paul Briggs (co-director), John Ripa (co-director) Produced by Osnat Shurer, Peter Del Vecho Written by Qui Nguyen, Adele Lim (screenplay), Paul Briggs, Don Hall, Adele Lim, Carlos López Estrada, Kiel Murray, Qui Nguyen, John Ripa, Dean Wellins (story) Starring Kelly Marie Tran, Awkwafina, Izaac Wang, Gemma Chan, Daniel Dae Kim, Benedict Wong, Sandra Oh, Thalia Tran, Lucille Soong, Alan Tudyk, Dichen Lachman, Patti Harrison, Jon “Dumbfoundead” Park, Sung Kang, Sierra Katow, Ross Butler, François Chau, Gordon Ip, Paul Yen Music by James Newton Howard Cinematography Rob Dressel (layout), Adolph Lusinsky (lighting) Edited by Fabienne Rawley, Shannon Stein Production companies Walt Disney Pictures/Walt Disney Animation Studios Running time 107 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Raya and the Last Dragon (2021)”

Leave a Reply