Review: Everything Everywhere All at Once (2022)


Tema pengisahan akan intergenerational trauma menjadi bahasan yang cukup alot dalam sejumlah rilisan film belakangan – disajikan dengan warna pengisahan horor oleh film Relic (Natalie Erika James, 2020) dan Umma (Iris K. Shim, 2022), menjadi fokus cerita dalam empat(!) film animasi teranyar rilisan Walt Disney Pictures, Raya and the Last Dragon (Carlos López Estrada, Don Hall, 2021), Luca (Enrico Casarosa, 2021), Encanto (Byron Howard, Jared Bush, 2021), dan Turning Red (Domee Shi, 2022), juga hadir dalam film Gehraiyaan (Shakun Batra, 2022) yang diproduksi Bollywood. Film terbaru garapan Daniel Kwan dan Daniel Scheinert (Swiss Army Man, 2016) – yang bersama dikenal dengan sebutan Daniels, Everything Everywhere All at Once, juga coba bertutur tentang bagaimana trauma yang dihasilkan oleh pengalaman buruk yang dialami oleh sesosok orangtua di masa lampau dan kemudian secara tidak sadar diteruskan kepada anak-anaknya tersebut. Namun, berbekal pengembangan ide cerita yang liar dan imajinatif, bahasan tadi terbungkus rapi oleh kisah petualangan yang terjadi lintas semesta!

Dengan naskah yang juga ditulis oleh duo sutradara tersebut, alur pengisahan film ini dibagi menjadi tiga bagian penceritaan yang masing-masing diberikan subjudul berdasarkan potongan kata yang terdapat pada judul film ini: Everything, Everywhere, dan All at Once. Fokus cerita berada pada keseharian dari sosok karakter perempuan paruh baya bernama Evelyn Quan Wang (Michelle Yeoh) yang bersama dengan suaminya, Waymond Wang (Ke Huy Quan), mengelola usaha penatu. Belakangan, Evelyn Quan Wang merasa hidupnya selalu dirundung dengan masalah: audit yang dilakukan oleh badan pajak terhadap usahanya berakhir dengan kekacauan, ayahnya (James Hong) yang selama ini tidak memiliki hubungan dekat dengannya akan tiba dari China, hubungannya dengan sang putri, Joy Wang (Stephanie Hsu), yang terasa terus merenggang setelah dirinya mengenalkan kekasihnya, Becky Sregor (Tallie Medel), serta penemuan surat cerai yang dimaksudkan sang suami untuk diberikan kepadanya. Di tengah gulungan problema tersebut, Evelyn Quan Wang didatangi oleh sesosok asing yang mengaku berasal dari semesta lain dan mengungkapkan bahwa Evelyn Quan Wang adalah seorang yang krusial dalam perlawanan terhadap sosok antagonis yang dikenal sebagai Jobu Tupaki dan memiliki kemampuan untuk menghancurkan keberadaan semesta-semesta yang ada.

Sesuai dengan judul yang diberikan Daniels kepada film mereka, Everything Everywhere All at Once menghadirkan banyak warna cerita yang datang dari banyak lapisan konflik yang bergerak dan berkembang secara bersamaan. Jangan terkecoh dengan paruh awal pengisahan film yang selain sering menghadirkan momen-momen bernuansa komedi juga dibalut dengan kisah petualangan penuh aksi yang akan membawa deretan karakter sekaligus para penontonnya untuk menembus barisan semesta. Dimulai dengan paparan a la The Matrix (Lana Wachowski, Lilly Wachowski, 1999) dimana karakter Evelyn Quan Wang digambarkan sebagai sosok terpilih yang dapat menyelamatkan semesta – yang sekaligus memberikannya kesempatan untuk melarikan diri dari berbagai rutinitas kekacauan yang terjadi dalam hidupnya – naskah cerita garapan Daniels secara cerdas, jeli, dan teliti lantas dibangun untuk menghasilkan tuturan yang lebih intim akan karakter tersebut. Tuturan yang kemudian akan berhasil menghasilkan gejolak emosi akan kenangan hubungan antara anak dan orangtua.

Everything Everywhere All at Once merupakan pembuktian dari Daniels mengenai kemampuan mereka untuk menghasilkan ide cerita yang sebenarnya begitu familiar dan sederhana namun kemudian dapat mengolahnya dengan tatanan kisah yang luar biasa megah, liar, dan imajinatif. Gambaran tentang perseteruan yang terjadi dalam beberapa semesta memang terdengar rumit. Namun Daniels, dengan bantuan suntingan gambar yang benar-benar berkelas dari Paul Rogers, mampu membawa pengisahan filmnya berjalan begitu nyaman untuk diikuti. Tiap semesta mampu dihadirkan dengan keunikan dan daya tarik tersendiri – sebuah semesta berbentuk seperti presentasi film arahan Wong Kar-wai sementara satu lainnya merupakan parodi dari Ratatouille (Brad Bird, 2017) –  yang membuat kunjungan ke tiap semesta terasa begitu menggugah. Momen final ketika semesta-semesta tersebut saling bertabrakan juga dieksekusi dengan sangat cekatan. Daniels tidak pernah kehilangan pegangan atas prinsip bahwa tiap semesta memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain yang membuat momen benturan antar semesta dalam pengisahan film ini tampil rapi dan meyakinkan. Jangan ragukan eksekusi duo sutradara ini terhadap efek visual film. Begitu mengesankan.

Gegap gempita keberadaan aksi lintas semesta yang mewarnai Everything Everywhere All at Once sendiri tidak pernah terasa mengganggu kelembutan yang ditawarkan Daniels ketika mematangkan lapisan kisah tentang hubungan yang terjalin antara karakter Evelyn Quan Wang dengan para anggota keluarganya. Layaknya para semesta yang saling berhubungan dan mempengaruhi, plot fiksi ilmiah dalam film ini juga memberikan pondasi bagi drama keluarga mengharu biru yang menguak bagaimana harapan maupun ekspektasi orangtua kepada anak-anaknya seringkali meninggalkan luka ketika dipaksakan keberadaannya. Dramatisasi yang kuat akan poin konflik tersebut berhasil tersampaikan dengan baik berkat olahan karakter yang begitu mumpuni. Terlepas dari penuturan yang sering berkesan hiperbolis, karakter-karakter dalam linimasa penceritaan Everything Everywhere All at Once selalu setia berkesan familiar dan membumi. Elemen yang menjadikan karakter-karakter tersebut kemudian begitu mudah untuk membentuk talian emosi dengan setiap mata (dan hati) yang mengikuti kisah mereka.

Penampilan yang diberikan Yeoh juga menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan dari pencapaian kualitas berkelas yang berhasil dicapai Daniels lewat filmnya. Melalui tatanan pengisahan yang membutuhkan jangkauan aktingnya dari sisi aksi, drama, hingga komedi, Yeoh melampaui tiap tantangan dan menjadikan karakter Evelyn Quan Wang yang ia perankan menjadi salah satu karakter yang paling mengesankan dalam sebuah presentasi film selama beberapa tahun terahir. Sosok karakter yang mungkin hanya dapat hadir beberapa kali dalam karir seorang aktor dan Yeoh dapat mengemasnya menjadi sebuah penampilan yang ikonik. Departemen akting Everything Everywhere All at Once juga tampil tanpa cela dengan dukungan akting dari Quan dan Hsu – yang bersama dengan Yeoh menampilkan kesatuan akting yang begitu emosional – serta penampilan Jamie Lee Curtis yang dapat mencuri perhatian dalam setiap kehadiran karakternya.

Everything Everywhere All at Once adalah pencapaian sinematis monumental yang dibangun oleh performa terbaik setiap orang yang terlibat di dalamnya. An instant classic.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn-half

everything-everywhere-all-at-once-michelle-yeoh-movie-posterEverything Everywhere All at Once (2022)

Directed by Daniel Kwan, Daniel Scheinert Written by Daniel Kwan, Daniel Scheinert Produced by Joe Russo, Anthony Russo, Mike Larocca, Daniel Kwan, Daniel Scheinert, Jonathan Wang Starring Michelle Yeoh, Stephanie Hsu, Ke Huy Quan, Jenny Slate, Harry Shum Jr., James Hong, Jamie Lee Curtis, Tallie Medel, Biff Wiff, Sunita Mani, Aaron Lazar, Audrey Wasilewski, Peter Banifaz, Daniel Scheinert, Andy Le, Brian Le, Randy Newman, Dan Kwan Cinematography Larkin Seiple Edited by Paul Rogers Music by Son Lux Production companies A24/IAC Films/Gozie AGBO/Year of the Rat/Ley Line Entertainment Running time 140 minutes Country United States Languages English, Mandarin, Cantonese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s