Review: Passing (2021)


Mengikuti jejak nama-nama seperti Barbra Streisand, Sofia Coppola, Greta Gerwig, Olivia Wilde, serta Regina King, aktris Rebecca Hall terjun ke balik layar dan mengarahkan Passing, sebuah film yang naskah ceritanya diadaptasi oleh Hall dari novel berjudul sama yang ditulis oleh novelis Nella Larsen. Passing sendiri bukanlah sebuah karya literatur biasa. Diterbitkan pertama kali di kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1929 di era dimana perlakuan diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam di berbagai aspek kehidupan masih dianggap sebagai tatanan normal dalam keseharian, Passing mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan berkat kemampuan (dan keberanian) Larsen untuk menyelami sejumlah konflik yang berkenaan dengan ras, kelas, gender, dan seksualitas. Beruntung, Hall cukup lugas dalam menterjemahkan berbagai tema yang ingin disampaikan oleh Larsen dalam novelnya menjadi presentasi cerita yang tidak hanya kuat namun juga relevan bagi kondisi kehidupan modern saat ini.

Judul yang digunakan film dan novel yang menginspirasinya sendiri berasal dari istilah passing yang digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang berasal dari kelompok ras yang memiliki kulit berwarna ataupun keturunan multirasial yang mampu berasimiliasi dengan kelompok ras yang memiliki warna kulit putih akibat penampilan fisiknya yang terlihat sebagai sosok yang berasal dari kelompok ras yang memiliki warna kulit putih – meskipun, dalam perkembangannya, istilah ini juga digunakan dalam komunitas ras yang memiliki kulit berwarna untuk menyebut orang-orang yang memiliki kulit berwarna namun lebih memilih untuk berkelakuan seperti ataupun bersosialisasi dengan komunitas ras yang memiliki kulit berwarna putih.

Hal inilah yang sedang dilakukan oleh dua karakter perempuan yang berasal dari keturunan multirasial, Irene Redfield (Tessa Thompson) dan Clare Bellew (Ruth Negga), ketika keduanya bertemu di wilayah kota New York yang didominasi oleh komunitas ras berkulit putih. Irene Redfield menggunakan “keuntungan” memiliki warna kulit yang lebih terang untuk bepergian ke wilayah-wilayah yang didominasi komunitas ras berkulit putih untuk membeli kebutuhan diri dan keluarganya. Sementara itu, dengan warna kulitnya yang lebih terang, Clare Bellew menikahi seorang pria berkulit putih, John Bellew (Alexander Skarsgård), dan kini mengidentifikasi dirinya sebagai anggota komunitas ras berkulit putih. Keduanya adalah sahabat di masa kecil yang telah sekian tahun tidak bertemu. Pertemuan tersebut membangkitkan kerinduan Clare Bellew terhadap kehidupan masa kecilnya diantara komunitas ras kulit hitam. Clare Bellew lantas mulai mengunjungi secara rutin tempat kediaman Irene Redfield dan suaminya, Brian Redfield (André Holland), yang tinggal di wilayah New York yang didominasi oleh komunitas ras berkulit hitam dan menghabiskan banyak waktunya disana.

Perbincangan mengenai ras memang menjadi bahasan utama dalam penuturan Passing. Tema tersebut yang kemudian digunakan oleh Hall untuk membangun deretan konflik yang terbangun antara kedua karakter utamanya – mulai dari konflik tentang status sosial dan pernikahan hingga interaksi yang terbentuk dengan orang-orang yang berada di sekitar mereka. Karakter Irene Redfield dan Clare Bellew digambarkan sebagai dua karakter dengan latar belakang keturunan multirasial yang telah menetapkan identitas ras mana yang akan mereka gunakan dalam keseharian mereka. Namun, di saat yang bersamaan, Passing juga bertutur tentang bagaimana kedua karakter sebenarnya menyimpan kecemburuan atas pilihan hidup yang diambil satu dengan yang lain.

Karakter Irene Redfield awalnya menganggap rendah pilihan karakter Clare Bellew yang menyingkirkan identitas ras kulit hitamnya. Interaksi antara keduanya kemudian membuat karakter Irene Redfield mulai membayangkan (dan menginginkan) kehidupan komunitas ras kulit putih yang bebas dari ancaman dan kesulitan yang selalu mengintai mereka yang berasal dari komunitas ras berkulit warna. Keinginan untuk hidup yang bebas dari rasa terancam ini juga membangun friksi dalam rumah tangga Brian dan Irene Redfield. Hal yang sama juga dirasakan oleh karakter Clare Bellew yang begitu kagum akan sosok karakter Irene Redfield yang dapat merasa nyaman dengan identitas diri yang telah dibawanya semenjak ia lahir. Dalam sejumlah dialog, karakter Clare Bellew bahkan mengekspresikan bahwa ia siap meninggalkan pernikahannya untuk kembali hidup dalam komunitas ras kulit hitam yang dahulu ditinggalkannya. Hall juga membentuk jalinan petunjuk akan adanya kehadiran hasrat seksual antara kedua karakter utama lewat perantaraan dialog maupun bahasa tubuh yang mereka tampilkan. Hasrat akan sebuah keinginan terlarang yang dihadirkan secara subtil namun dapat berbicara dengan sentuhan emosional yang kuat.

Passing tidak selalu mampu untuk bertutur dengan lancar. Fokus utuh yang diberikan kepada karakter Irene Redfield seringkali membuat karakter Clare Bellew terasa tenggelam. Banyak elemen kisah dari kehidupan karakter Clare Bellew yang terkesampingkan sehingga sedikit sukar untuk dapat merasakan alasan keberadaan gejolak emosional kecemburuan yang dirasakan oleh karakter Irene Redfield terhadap karakter Clare Bellew. Perjalanan paruh pertengahan Passing juga sering terasa berputar di konflik maupun penuturan masalah yang sama. Hall mungkin meniatkan bentuk ini untuk hadir untuk memberikan penekanan pada konflik batin yang dirasakan oleh kedua karakter – khususnya karakter Irene Redfield. Meskipun begitu, kesan hampa yang muncul membuat Passing perlahan kehilangan daya ikatnya. Elemen ini yang juga membuat pilihan akhir tragis yang dihadirkan Hall terasa dieksekusi terlalu tiba-tiba, terburu-buru, dan meninggalkan cukup banyak pertanyaan akan kedua karakter – khususnya karakter Clare Bellew.

Penampilan gemilang Thompson dan Negga jelas juga menjadi kunci lain bagi kesuksesan pengisahan film ini. Dibandingkan dengan penampilan Negga yang lebih ekspresif berkat karakterisasi dari karakter Clare Bellew, Thompson menghadirkan sosok karakter Irene Redfield sebagai karakter yang lebih tenang. Paruh pertama film yang banyak menyandingkan kedua karakter membuat penampilan Thompson sering terasa tenggelam. Namun, penampilan Thompson yang sering stabil membuat karakter Irene Redfield menjadi sangat tegas di banyak momen emosionalnya. Meskipun lebih ekspresif, misteri dari sosok karakter Clare Bellew berhasil dihidupkan dengan seksama oleh Negga. Sosoknya memang terkesan begitu ceria. Meskipun begitu, Negga selalu mampu menerapkan unsur misteri dalam setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh karakter yang ia perankan.

Penampilan  Thompson dan Negga juga mendapat dukungan dari pengisi departemen akting film ini lainnya. Holland dan Bill Camp dapat bersanding baik dalam setiap interaksi yang dilakukan karakter yang mereka perankan dengan karakter-karakter yang diperankan Thompson dan Negga. Meskipun sangat singkat, penampilan Skarsgård yang digambarkan sebagai sosok karakter pria berkulit putih yang memiliki rasa ketidaksukaan pada ras berkulit warna mampu mencuri perhatian. Dalam sebuah adegan di paruh awal yang melibatkan Thompson, Negga, dan Skarsgård, Hall merancang adegan tersebut dengan sedemikian rupa sehingga menonjolkan sosok karakter yang diperankan oleh Skarsgård sebagai sosok karakter yang harus ditakuti pada setiap kehadirannya.

Sebagai sebuah karya pengarahan perdana, Hall mampu memamerkan kecerdasannya dalam pemilihan estetika yang mampu menonjolkan kekuatan jalan penceritaan filmnya. Pilihan untuk menghadirkan filmnya dalam warna hitam dan putih jelas menjadi satu pilihan tegas untuk menggambarkan dunia yang ditinggali oleh kedua karakter utama film. Dengan bantuan sinematografer Eduard Grau, pilihan warna hitam dan putih yang mengisi presentasi film juga tidak berkesan monoton. Hall dan Grau memilih pewarnaan yang lebih terang ketika film ini sedang berfokus pada karakter Clare Bellew dan, sebaliknya, nada warna yang lebih gelap muncul ketika linimasa pengisahan film beralih ke karakter Irene Redfield serta kehidupan di sekitarnya. Komposisi musik jazz yang terus berulang ketika alur kisah sedang berada di kehidupan karakter Irene Redfield juga semakin menguatkan kesan segregrasi ras yang memang sedang berjalan dan menjadi latar belakang perjalanan cerita dalam film ini. Hall dapat saja mengambil jalan mudah dalam penuturan drama filmnya. Pilihan-pilihan yang ia ambil menunjukkan bahwa Hall adalah seorang sutradara yang mampu melangkah lebih jauh guna mengekspresikan jalan cerita filmnya.

popcornpopcornpopcornpopcorn-halfpopcorn2

passing-rebecca-hall-tessa-thompson-ruth-negga-movie-posterPassing (2021)

Directed by Rebecca Hall Produced by Nina Yang Bongiovi, Forest Whitaker, Margot Hand, Rebecca Hall Written by Rebecca Hall (screenplay), Nella Larsen (novel, Passing) Starring Tessa Thompson, Ruth Negga, André Holland, Bill Camp, Gbenga Akinnagbe, Antoinette Crowe-Legacy, Alexander Skarsgård, Ashley Ware Jenkins, Justus Davis Graham, Ethan Barrett, Stu S. Becker, Tom White Cinematography Eduard Grau Edited by Sabine Hoffman Music by Devonte Hynes Production companies Significant Productions/Picture Films/Flat Five Productions/Film4 Productions/Gamechanger Films/Sweet Tomato Films/Endeavor Content Running time 98 minutes Countries United States, United Kingdom Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s