Review: Cry Macho (2021)


Merupakan film ke-39 yang diarahkan oleh Clint Eastwood yang sekaligus menandai tahun ke-50 karir penyutradaraan yang ia mulai semenjak mengarahkan Play Misty for Me di tahun 1971, Cry Macho yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan N. Richard Nash telah mengalami sejumlah kegagalan untuk dieksekusi menjadi presentasi cerita layar lebar. Bermula di tahun 1988, produser Albert S. Ruddy menawarkan Eastwood untuk menjadi pemeran utama dalam Cry Macho yang kemudian ditolak karena komitmen Eastwood untuk membintangi sekuel teranyar dari seri film Dirty Harry, The Dead Pool (Buddy Van Horn, 1988). Proses pembuatan versi film dari Cry Macho kemudian melibatkan nama-nama seperti Robert Mitchum, Roy Scheider, Burt Lancaster, Pierce Brosnan, hingga Arnold Scwarzenegger sebagai pemeran utama namun tak satupun proyek film tersebut dapat terselesaikan. Lebih dari tiga dekade kemudian, tepatnya di tahun 2020, Warner Bros. Pictures mengumumkan bahwa Eastwood akan mengarahkan sekaligus membintangi Cry Macho yang masih menggunakan naskah cerita asli garapan Nash dengan sejumlah modifikasi yang dilakukan oleh Nick Schenk (The Judge, 2014).

Dikisahkan, seorang mantan bintang rodeo yang berasal dari Texas, Amerika Serikat, Mike Milo (Eastwood), dipekerjakan oleh mantan bos-nya, Howard Polk (Dwight Yoakam), untuk menjemput putranya yang kini telah beranjak remaja, Rafael Polk (Eduardo Minett), dan selama ini berada dalam penjagaan ibunya, Leta (Fernanda Urrejola), di Meksiko. Bertemu dan berusaha untuk membujuk Rafael Polk agar mau ikut bersama dirinya kembali ke Amerika Serikat ternyata bukan masalah yang sukar untuk Mike Milo. Rafael Polk ternyata telah semenjak lama berkeinginan untuk bertemu dengan ayah kandungnya dan semakin bersemangat setelah mendengar sang ayah memiliki sebuah peternakan kuda. Dengan membawa sejumlah barang dan seekor ayam jantan yang dinamainya Macho, Rafael Polk bersiap untuk berangkat bersama dengan Mike Milo. Namun, masalah muncul ketika Leta mengutus salah seorang pekerjanya, Aurelio (Horacio Garcia Rojas), untuk menghadang perjalanan Mike Milo dan membawa kembali Rafael Polk.

Cry Macho jelas bukanlah presentasi yang mampu berdiri sejajar dengan film-film terbaik garapan Eastwood. Alur pengisahannya berjalan cukup sederhana. Terlalu sederhana, malah. Temanya cukup familiar: karakter utama yang dikisahkan sebagai seorang penggerutu yang hidup dalam kesendirian dan tidak lagi peduli pada diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekitarnya akibat sebuah tragedi di masa lampau, bertemu dengan sosok karakter baru yang awalnya tidak ia suka namun, secara perlahan, kemudian mempertemukannya pada sejumlah sisi kehidupan yang ia kira tidak akan pernah lagi ia jumpai. Tema dan nada pengisahan serupa bahkan dapat dirasakan pernah hadir dalam dua film yang diarahkan serta bintangi oleh Eastwood dan naskah ceritanya juga dikerjakan oleh Schenk, Gran Torino (2008) dan The Mule (2018).

Namun, bukan kesan pengulangan tema cerita yang membuat Cry Macho terasa lemah. Garapan karakter maupun konflik yang dihadirkan Schenk pada naskah cerita awal yang ditulis oleh Nash – yang telah meninggal dunia pada tahun 2000 – berjalan begitu monoton. Schenk tidak pernah mampu menggariskan kisah yang utuh ataupun meyakinkan terhadap perjalanan yang dilalui oleh sang karakter utama, berbagai hubungan yang ia jalin dengan sejumlah karakter yang ia temui, serta berbagai gejolak emosional yang kemudian ia rasakan akibat jalinan hubungan tersebut. Hambar. Eastwood juga mengarahkan filmnya dengan tempo pengisahan yang begitu menjemukan – khususnya di paruh pertengahan film dimana naskah cerita garapan Schenk hanya jalan di tempat dan mengulang konflik yang sama sebelum film ini kemudian bergerak maju ke paruh akhir pengisahannya.

Dengan karakter utama yang dikisahkan menghadapi sejumlah tantangan fisik maupun mental untuk dapat menyelesaikan tugasnya, mudah untuk membayangkan Cry Macho hadir sebagai sebuah film yang sejenis dengan film-film aksi yang banyak dibintangi oleh Liam Neeson dalam beberapa tahun terakhir. Keberadaan Eastwood, yang kini telah berusia 91 tahun, untuk memerankan sosok karakter utama, jelas memberikan pengaruh kuat mengapa banyak adegan yang sebenarnya berpotensi untuk menonjolkan elemen aksi yang menarik kemudian terasa “digampangkan” eksekusinya. Materi cerita film ini memang lebih pas untuk diperankan Eastwood ketika film ini ditawarkan pertama kali padanya tiga dekade silam.

Kecanggungan penampilan Eastwood tidak hanya dapat dirasakan ketika Cry Macho berusaha mengeksplorasi elemen aksi pada jalan ceritanya. Chemistry yang ditampilkan Eastwood ketika ia berdampingan dengan Minett atau ketika ia berusaha menghidupkan elemen romansa bersama dengan karakter Marta (Natalia Traven) – unsur romansa yang cukup aneh mengingat usia kedua pemeran yang terpaut cukup jauh – juga tidak pernah berhasil terasa meyakinkan. Dukungan gambar-gambar indah yang dihasilkan oleh sinematografer Ben Davis serta iringan musik yang disajikan oleh komposer Ben Davis memang mampu membuat sejumlah adegan terasa hidup. Sayang, lemahnya pengarahan Eastwood kepada jalan cerita – yang sedari awal telah terasa dangkal – serta penampilan para pengisi departemen akting filmnya membuat Cry Macho tidak pernah mampu benar-benar terasa menarik untuk diikuti.

popcornpopcornpopcorn-halfpopcorn2popcorn2

cry-macho-clint-eastwood-movie-posterCry Macho (2021)

Directed by Clint Eastwood Produced by Albert S. Ruddy, Tim Moore, Jessica Meier, Clint Eastwood Written by Nick Schenk, N. Richard Nash (screenplay), N. Richard Nash (novel, Cry Macho) Starring Clint Eastwood, Dwight Yoakam, Eduardo Minett, Natalia Traven, Fernanda Urrejola, Horacio Garcia Rojas Cinematography Ben Davis Edited by Joel Cox, David Cox Music by Mark Mancina Production company Malpaso Productions Running time 104 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s