Review: Mothering Sunday (2021)


Merupakan film cerita panjang berbahasa Inggris pertama yang diarahkan oleh sutradara berkewarganegaraan Perancis, Eva Husson, Mothering Sunday bercerita tentang sebuah peristiwa penting yang terjadi pada perayaan Mothering Sunday yang nantinya akan mengubah kehidupan sang karakter utama, Jane Fairchild (Odessa Young). Dengan cerita yang memiliki latar belakang lokasi di wilayah Berkshire County, Inggris yang jauh dari riuhnya wilayah perkotaan pada tahun 1924 – beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, Jane Fairchild yang bekerja sebagai seorang asisten tumah tangga dibebastugaskan selama sehari oleh pemilik rumah tempatnya bekerja, Tuan dan Nyonya Niven (Colin Firth dan Olivia Colman), guna merayakan Mothering Sunday dimana masyarakat Inggris memiliki tradisi untuk mengunjungi ibu mereka. Tuan dan Nyonya Niven sendiri akan menghabiskan Mothering Sunday mereka dengan perjamuan makan siang bersama sahabat-sahabat mereka, Tuan dan Nyonya Hobday (Simon Sheperd dan Caroline Harker) serta putri tunggal mereka, Emma Hobday (Emma D’Arcy), dan Tuan dan Nyonya Sheringham (Craig Crosbie dan Emily Woof) beserta putra tunggal mereka, Paul Sheringham (Josh O’Connor).

Sebagai seorang yatim piatu yang tidak memiliki orangtua ataupun keluarga untuk dikunjungi, Jane Fairchild telah memiliki rencana lain untuk menghabiskan masa liburannya. Perempuan muda tersebut akan mengunjungi rumah kediaman keluarga Sheringham dan menemani Paul Sheringham sebelum pemuda tersebut bergabung dengan acara makan siang bersama orangtuanya. Jane Fairchild dan Paul Sheringham sebenarnya telah semenjak lama menjalin hubungan asmara secara diam-diam karena Paul Sheringham telah dijodohkan dengan Emma Hobday. Pertemuan keduanya di hari itu mungkin akan menjadi pertemuan terakhir mereka karena acara makan siang yang diadakan secara bersama oleh keluarga Niven, keluarga Sheringham, dan keluarga Hobday adalah acara yang dilaksanakan untuk menyambut hari pernikahan antara Paul Sheringham dan Emma Hobday yang telah semakin mendekat.

Terdengar sebagai presentasi cerita yang menjemukan? Tidak juga. Naskah cerita Mothering Sunday yang diadaptasi oleh Alice Birch (Lady Macbeth, 2016) dari novel karangan Graham Swift yang berjudul sama sebenarnya menyimpan sejumlah lapisan cerita yang cukup memikat jika dapat dikembangkan dengan utuh. Dengan memanfaatkan latar sejarah tentang kondisi Inggris beberapa tahun setelah usainya Perang Dunia I, Mothering Sunday tampil dengan warna pengisahan yang kelam akan rasa duka yang dirasakan oleh tiap karakternya. Karakter Tuan dan Nyonya Niven dikisahkan kehilangan dua putra mereka dalam peperangan – sebuah kondisi yang menyebabkan Nyonya Niven terlihat muram dalam setiap suasana. Kedua putra keluarga Niven adalah sahabat bagi karakter Paul Sheringham – yang juga turut berperang bersama mereka dan kini menyimpan rasa bersalah akibat merasa gagal untuk menyelamatkan kedua sahabatnya. Karakter Emma Hobday yang kini dijodohkan dengan karakter Paul Sheringham sebenarnya adalah tunangan dari salah satu putra keluarga Niven – kondisi yang membuat, seperti yang terjadi pada karakter Nyonya Niven, karakter Emma Hobday terlihat muram dan dipenuhi dengan rasa amarah setiap saat.

Husson dan Birch mungkin dapat saja memilih untuk memvisualisasikan setiap konflik maupun tragedi yang terjadi pada setiap karakter dan merangkumnya seperti yang dilakukan Joe Wright pada Atonement (2007). Namun, Mothering Sunday lebih memilih untuk melakukan penjelasan akan kisah-kisah tersebut melalui barisan dialog yang terjalin antara karakter-karakternya. Bukan sebuah pilihan yang benar-benar salah, tetapi ketika film ini juga memilih untuk memberikan fokus yang besar pada momen-momen manis yang tercipta antara karakter Jane Fairchild dan Paul Sheringham, peluang untuk menciptakan terbentuknya jalinan emosional dengan karakter-karakter yang terlibat dalam pengisahan tragedi tersebut juga menjadi terbuang begitu saja. Rasa duka dan rasa bersalah yang dirasakan oleh setiap karakter gagal untuk tersampaikan dengan kuat.

Mothering Sunday sendiri juga bukanlah sebuah presentasi cerita yang hanya berfokus pada kisah hubungan romansa yang terjalin antara karakter Jane Fairchild dengan Paul Sheringham maupun kisah-kisah duka yang menyelimuti keluarga Niven, Sheringham, dan Hobday. Sedari awal, Husson menghadirkan kilasan-kilasan kisah yang hadir di masa yang akan datang dari karakter Jane Fairchild – kisah romansa keduanya yang terjalin dengan seorang pria bernama Donald (Ṣọpẹ Dìrísù) yang mendorongnya untuk menjadi seorang penulis serta kisah akan sosok karakter Jane Fairchild yang sudah menua (Glenda Jackson) dan telah menjadi seorang penulis yang sukses – sebelum kemudian menghadirkan kisah-kisah tersebut secara utuh menjelang paruh akhir Mothering Sunday.

Hadirnya elemen kisah dari masa yang akan datang dari karakter Jane Fairchild memang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan karakter tersebut dalam menghadapi berbagai tragedi maupun rintangan yang ia hadapi. Di saat yang bersamaan, eksekusi Husson yang memadukan alur penceritaan maju dan mundur seringkali merusak konsentrasi yang sedang terbangun pada sebuah elemen cerita. Fokus yang besar pada hubungan antara karakter Jane Fairchild dengan Paul Sheringham juga menyita perhatian dan durasi pengisahan yang terlalu lama sehingga komponen cerita romansa antara karakter Jane Fairchild dengan karakter Donald tidak pernah mampu tampil utuh dan terasa dangkal penyampaiannya. Mothering Sunday kemudian berakhir sebagai gambaran rasa duka dan kemampuan untuk melanjutkan hidup yang sendu sekaligus indah namun tidak pernah benar-benar mampu untuk melibatkan penontonnya secara emosional.

Terlepas dari keberanian Young dan O’Connor untuk tampil nyaman berpenampilan tanpa pakaian di sejumlah besar adegan mereka, penampilan keduanya memang menjadi kunci bagi keberhasilan pengisahan Mothering Sunday. Lewat dialog-dialog yang terjalin antara kedua karakter yang mereka perankan, film ini mampu menyampaikan alur kisahnya dengan seksama. Penampilan Young, khususnya, memegang peranan krusial ketika karakternya menjadi satu-satunya sosok yang terlibat dalam setiap konflik yang diceritakan. Kehadiran Firth, Colman, Dìrísù, serta Jackson memang tidak mendapatkan porsi pengisahan yang cukup berarti. Namun penampilan para pemeran tersebut dapat menjadikan departemen akting Mothering Sunday tampil tanpa cela. Dukungan kualitas tata produksi film, mulai dari tata rias dan rambut, tata sinematografi garapan Jamie Ramsay, hingga tata musik arahan komposer Morgan Kibby mampu turut menjadikan Mothering Sunday sebagai presentasi yang cukup berkelas.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

Mothering Sunday (2021)

Directed by Eva Husson Produced by Elizabeth Karlsen, Stephen Woolley Written by Alice Birch (screenplay), Graham Swift (novel, Mothering Sunday) Starring Odessa Young, Josh O’Connor, Olivia Colman, Colin Firth, Ṣọpẹ Dìrísù, Glenda Jackson, Simon Sheperd, Caroline Harker, Emma D’Arcy, Craig Crosbie, Emily Woof, Alfredo Tavares, Albert Welling, Charlie O’Connor, Forrest Bothwell, Sarita Gabony, Deano Mitchison, Nathan Chester Reeve, Georgina Frances Hart Cinematography Jamie Ramsay Edited by Emilie Orsini Music by Morgan Kibby Production companies Number 9 Films/Film4 Productions/Ingenious Media/British Film Institute Running time 110 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s