Review: Blade Runner 2049 (2017)


Ketika dirilis pertama kali pada tahun 1982, film arahan Ridley Scott yang jalan ceritanya diadaptasi dari novel berjudul Do Androids Dream of Electric Sheep? karya Philip K. Dick, Blade Runner, mendapatkan reaksi yang kurang begitu antusias. Banyak kritikus film di masa tersebut menilai bahwa kualitas penceritaan Blade Runner seringkali terasa dinomorduakan demi menghasilkan tampilan efek visual yang megah. Di saat yang bersamaan, ritme pengisahan film berdurasi 117 menit yang dihadirkan secara (terlalu) perlahan oleh Scott membuat Blade Runner dijauhi oleh mayoritas penonton. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Blade Runner justru mampu meraih lebih banyak penggemar dan memberikan pengaruh besar pada banyak film fiksi ilmiah yang dirilis setelahnya. Banyak media dan perkumpulan kritikus film dunia bahkan menggelari film yang juga berhasil meraih dua nominasi Academy Awards tersebut sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa. Tidak mengherankan bila kemudian Hollywood mulai menyusun rencana untuk memproduksi sekuel bagi Blade Runner.

35 tahun setelah perilisan Blade Runner, setelah melalui proses pengembangan yang telah dimulai semenjak tahun 1999, Blade Runner 2049 akhirnya dirilis sebagai sekuel bagi Blade Runner dengan Denis Villeneuve (Arrival, 2016) menggantikan posisi Scott untuk duduk di kursi penyutradaraan. Masih melibatkan kehadiran penulis naskah Blade Runner, Hampton Fancher, untuk menggarap naskah cerita film bersama dengan Michael Green (Logan, 2017), Blade Runner 2049 memiliki latarbelakang waktu pengisahan yang terjadi 30 tahun – tepatnya di tahun 2049 – setelah deretan konflik yang telah diceritakan pada Blade Runner. Jalan ceritanya sendiri berfokus pada seorang replicant bernama K (Ryan Gosling) dan bekerja sebagai seorang blade runner pada Los Angeles Police Department. Dalam sebuah tugasnya, K menemukan tubuh seorang replicant yang diduga meninggal akibat proses melahirkan. Penemuan tersebut jelas menggemparkan mengingat replicant adalah sosok robot ciptaan manusia yang memiliki penampilan dan fungsi seperti layaknya manusia namun tidak memiliki kemampuan untuk melangsungkan proses reproduksi. Guna menghindari terjadinya keributan lebih besar, K lantas ditugaskan untuk menemukan anak yang dilahirkan oleh replicant tersebut, membunuhnya, sekaligus menghilangkan seluruh jejak keberadaannya.

Seperti dua film dengan pengarahan terkuat di sepanjang tahun ini, Dunkirk (Christopher Nolan, 2017) dan mother! (Darren Aronofsky, 2017), Villeneuve juga menghadirkan teknik pengarahan cerita yang menantang penerimaan narasi dari para penontonnya. Berkaitan dengan seri film Blade Runner sendiri, jelas teknik pengisahan tersebut bukanlah sebuah sentuhan yang benar-benar baru. Seperti halnya yang ditampilkan Scott, Villeneuve memilih untuk tetap menghadirkan barisan konflik dan karakter dalam Blade Runner 2049 dengan pengisahan yang cukup sederhana – dan bahkan merelakan filmnya untuk tidak menyelami lebih dalam beberapa konflik maupun karakter yang telah dihadirkan. Villeneuve kemudian memilih untuk berbicara dengan kekuatan teknikal yang datang dari garapan audio dan visualnya: Gambar-gambar arahan Roger Deakins akan mampu menyihir dan memikat perhatian setiap orang sementara desain suara yang berpadu dengan tata musik arahan Hans Zimmer dan Benjamin Wallfisch hadir untuk menjaga intensitas emosional dalam setiap adegan. Seperti pendahulunya, sifat meditatif penceritaan Blade Runner 2049 mungkin akan mengalienasi beberapa orang. Namun mereka yang dapat melampaui tantangan tersebut jelas akan memberikan apresiasi besar pada kemampuan Villeneuve untuk menandingi sekaligus mendampingi visi yang telah diterapkan Scott dalam Blade Runner – Yep. Bahkan dengan durasi yang mencapai 163 menit.

Meskipun memiliki kesan patuh terhadap formula dan teknik penceritaan yang telah diterapkan Scott, bukan berarti Blade Runner 2049 hadir tanpa identitas Villeneuve di berbagai belahan kisahnya. Menyampaikan sebuah teka-teki yang menghubungkan antara konflik dan karakter baru dengan konflik dan karakter di film lama, Villeneuve dengan jeli (dan sangat, sangat rapi) meletakkan petunjuk demi petunjuk dari misteri yang akan ia paparkan tanpa pernah terasa berusaha keras untuk membuat penontonnya merasa kebingungan. Kemampuannya itulah yang kemudian membuat Blade Runner 2049 terus mampu mengikat penonton dan membiarkan mereka tenggelam lebih dalam untuk berusaha memecahkan permasalahan yang hadir di hadapan mereka. Bukan sebuah teknik pengisahan yang mudah namun jelas tidak mengherankan hadir dari seorang sutradara yang pernah menggarap Incendies (2010) dan Arrival yang juga hadir dalam warna pengisahan yang serupa.

Villeneuve juga sekali lagi membuktikan bahwa dirinya mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaik dari para pengisi departemen akting filmnya. Berperan sebagai sosok replicant, Gosling hadir penampilan yang sangat meyakinkan. Aktor yang tahun lalu berhasil mendapatkan nominasi di kategori Best Actor in a Leading Role di ajang The 89th Annual Academy Awards untuk perannya dalam film musikal La La Land (Damien Chazelle, 2016) tersebut mampu tampil tangguh ketika menyelami adegan-adegan aksi sekaligus terasa begitu sensitif pada bagian pengisahan drama (dan romansa) film. Jelas salah satu penampilan terbaik Gosling dalam karirnya sebagai seorang aktor. Meskipun tampil dalam peran pendukung dengan pengisahan yang terbatas, Harrison Ford juga mampu menyaingi kekuatan penampilan Gosling. Kehadiran Ford bahkan seringkali menyita perhatian sekaligus mengobati rasa rindu setiap penggemar Blade Runner. Selain Gosling dan Ford, departemen akting Blade Runner 2049 juga diisi dengan penampilan memikat dari Robin Wright, Dave Bautista, serta Ana de Armas dan Sylvia Hoeks yang kemungkinan besar akan memicu banyak perbincangan di kalangan para penikmat film di masa yang akan datang. [B]

blade-runner-2049-ryan-gosling-movie-posterBlade Runner 2049 (2017)

Directed by Denis Villeneuve Produced by Andrew A. Kosove, Broderick Johnson, Bud Yorkin, Cynthia Yorkin Written by Hampton Fancher, Michael Green (screenplay), Hampton Fancher (story), Philip K. Dick (novel, Do Androids Dream of Electric Sheep?) Starring   Ryan Gosling, Harrison Ford, Ana de Armas, Sylvia Hoeks, Robin Wright, Mackenzie Davis, Carla Juri, Lennie James, Dave Bautista, Jared Leto, David Dastmalchian, Barkhad Abdi, Hiam Abbass, Wood Harris, Edward James Olmos, Sean Young Music by Hans Zimmer, Benjamin Wallfisch Cinematography Roger Deakins Edited by Joe Walker Production company   Alcon Entertainment/Columbia Pictures/ Scott Free Productions/Torridon Films/16:14 Entertainment/Thunderbird Entertainment Running time 163 minutes Country United States Language English

Advertisements

One thought on “Review: Blade Runner 2049 (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s