Tag Archives: Mackenzie Davis

Review: Terminator: Dark Fate (2019)

Merupakan film keenam dalam seri Terminatorwell… ketiga jika Anda menuruti titah kreator seri film ini, James Cameron, yang menganggap keberadaan tiga film terakhir dalam seri ini; Terminator 3: Rise of the Machines (Jonathan Mostow, 2003), Terminator Salvation (McG, 2009), Terminator Genisys (Alan Taylor, 2015), sebagai “sekuel tidak resmi” – Terminator: Dark Fate menjadi ajang reuni bagi aktor Arnold Schwarzenegger dan aktris Linda Hamilton yang untuk pertama kalinya kembali tampil bersama setelah membintangi Terminator 2: Judgment Day (Cameron, 1991). Diarahkan oleh Tim Miller (Deadpool, 2016) berdasarkan naskah cerita yang digarap David S. Goyer (Batman v. Superman: Dawn of Justice, 2016), Justin Rhodes, dan Billy Ray (Gemini Man, 2019), Terminator: Dark Fate menghadirkan elemen pengisahan yang akan mengingatkan banyak penontonnya pada alur cerita The Terminator (Cameron, 1984) dan Terminator 2: Judgment Day. Komposisi cerita tersebut jelas akan membantu banyak penonton dari generasi baru untuk memahami seluk beluk pengisahan dari seri film yang kini telah berusia lebih dari 35 tahun ini. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah merasa familiar dengan tema cerita seri film ini tentu akan merasa bahwa Terminator: Dark Fate tidak mampu untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Continue reading Review: Terminator: Dark Fate (2019)

Review: Tully (2018)

Merupakan kali keempat sutradara Jason Reitman bekerjasama dengan penulis naskah Diablo Cody setelah Juno (2007) dan Young Adult (2011) – juga Jennifer’s Body (Karyn Kusama, 2009) dimana Reitman menjadi produser bagi film yang naskah ceritanya ditulis oleh Cody tersebut –  serta kali kedua Reitman dan Cody bekerjasama dengan aktris Charlize Theron untuk memerankan karakter sentral di film mereka setelah Young Adult, Tully adalah sebuah film emosional yang akan mengingatkan kembali para penontonnya tentang perjuangan banyak wanita ketika mereka telah menjadi seorang ibu. Terdengar terlalu serius? Jangan khawatir. Seperti halnya Juno dan Young Adult, Cody mampu menempatkan dialog-dialog komikal nan tajam plus deretan konflik yang begitu kompleks namun mampu disampaikan secara ringan dengan baik untuk menghasilkan sebuah rajutan cerita yang hangat, menghibur, sekaligus mengikat dan tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Continue reading Review: Tully (2018)

Review: Blade Runner 2049 (2017)

Ketika dirilis pertama kali pada tahun 1982, film arahan Ridley Scott yang jalan ceritanya diadaptasi dari novel berjudul Do Androids Dream of Electric Sheep? karya Philip K. Dick, Blade Runner, mendapatkan reaksi yang kurang begitu antusias. Banyak kritikus film di masa tersebut menilai bahwa kualitas penceritaan Blade Runner seringkali terasa dinomorduakan demi menghasilkan tampilan efek visual yang megah. Di saat yang bersamaan, ritme pengisahan film berdurasi 117 menit yang dihadirkan secara (terlalu) perlahan oleh Scott membuat Blade Runner dijauhi oleh mayoritas penonton. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Blade Runner justru mampu meraih lebih banyak penggemar dan memberikan pengaruh besar pada banyak film fiksi ilmiah yang dirilis setelahnya. Banyak media dan perkumpulan kritikus film dunia bahkan menggelari film yang juga berhasil meraih dua nominasi Academy Awards tersebut sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik sepanjang masa. Tidak mengherankan bila kemudian Hollywood mulai menyusun rencana untuk memproduksi sekuel bagi Blade Runner. Continue reading Review: Blade Runner 2049 (2017)