Review: Dune (2021)


Kompleksnya pengembangan tema, konflik, karakter, serta bangunan dunia yang menjadi latar belakang penceritaan dari novel fiksi ilmiah Dune garapan penulis asal Amerika Serikat, Frank Herbert, telah memikat banyak penikmat karya sastra semenjak diterbitkan pertama kali pada tahun 1965. Rumitnya penuturan Dune juga yang kemudian membuat novel tersebut sukar untuk diadaptasi ke dalam berbagai bentuk media pengisahan yang lain. Bukan berarti tidak ada yang berani untuk mencoba. Di tahun 1970an, sutradara Alejandro Jodorowsky menghabiskan waktu tiga tahun untuk mengadaptasi Dune menjadi sebuah film berdurasi sepuluh jam yang direncanakan akan dibintangi nama-nama seperti Salvador Dalí, Orson Welles, David Carradine, Alain Delon, Udo Kier, dan Mick Jagger sebelum akhirnya menyerah dikarenakan perkiraan biaya produksi yang terus meningkat.

Ridley Scott juga pernah mencoba untuk mengarahkan adaptasi film layar lebar dari Dune dengan membaginya menjadi dua bagian sebelum kemudian memilih untuk berfokus ke film fiksi ilmiah garapannya yang lain, Blade Runner (1982). Proyek adaptasi yang ditinggalkan oleh Scott kemudian diambil alih oleh David Lynch yang merilisnya sebagai satu film berdurasi 137 menit pada tahun 1984. Sial, film yang dibintangi Kyle MacLachlan tersebut mendapatkan reaksi yang buruk, baik dari para kritikus film – yang menilai Dune garapan Lynch tampil terlalu dangkal dalam menterjemahkan cerita yang telah digariskan oleh Herbert – maupun dari performa pendapatan komersialnya. Sebuah miniseri televisi berjudul Frank Herbert’s Dune yang diarahkan oleh John Harrison sempat meraih kesuksesan minor ketika dirilis pada tahun 2000. Namun, selepasnya, sejumlah usaha untuk mengadaptasi Dune menjadi presentasi film layar lebar terus menemui kegagalan.

Keterlibatan Denis Villeneuve dalam proses pembuatan adaptasi layar lebar teranyar dari Dune telah terdengar semenjak tahun 2016. Namun, Villeneuve baru benar-benar merasa percaya diri untuk memfilmkan Dune seusai mengarahkan dua film fiksi ilmiahnya, Arrival (2016) dan Blade Runner 2049 (2017) – yang merupakan sekuel bagi film arahan Scott. Cukup mudah untuk melihat bagaimana Arrival dan Blade Runner 2049 membantu Villeneuve dalam menuturkan komplikasi paparan Herbert dalam Dune. Sama dengan arah pengisahan yang dahulu telah dipilihkan oleh Scott, Villeneuve membagi adaptasi layar lebar Dune-nya menjadi dua bagian guna membuka secara perlahan tiap lapisan cerita dan karakter serta membiarkan tiap lapisan cerita dan karakter tersebut merasuk dengan seksama ke benak tiap mata penonton yang menyaksikannya. Hasilnya, dalam kemegahan narasi dan tata sinematografinya, Dune – yang dalam presentasinya tertulis sebagai Dune Part One – tetap terasa membumi serta berhasil menghadirkan tatanan kisah yang kuat sekaligus memikat.

Dengan naskah cerita yang ditangani oleh Villeneuve bersama dengan Jon Spaihts (Passengers, 2016) dan Eric Roth (A Star is Born, 2018), Dune yang memiliki latar belakang waktu pengisahan di masa yang akan datang ini memulai pengisahannya ketika penguasa House Atriedes, Duke Leto Atreides (Oscar Isaac), menerima tugas dari kekaisaran untuk mengambil alih kekuasaan Planet Arrakis yang sebelumnya dikuasai oleh Baron Vladimir Harkonnen (Stellan Skarsgård) dari House Harkonnen. Duke Leto Atreides sebenarnya menyadari bahwa penyerahan kekuasaan atas Planet Arrakis – sebuah planet gersang namun menjadi penghasil utama dari “rempah-rempah” yang esensial bagi kehidupan manusia – adalah salah satu bentuk politik dari kekaisaran yang merasa khawatir akan kekuatan House Atreides. Tetap saja, dalam sebuah seremoni yang dihadiri oleh selirnya, Lady Jessica (Rebecca Ferguson), putranya, Paul Atreides (Timothée Chalamet), serta Gurney Halleck (Josh Brolin) yang merupakan salah satu sosok kepercayaannya, Duke Leto Atreides menerima tugas tersebut. Benar saja, tidak lama setelah ketibaan mereka di Planet Arrakis, pasukan Baron Vladimir Harkonnen telah bersiap untuk menyerang dan merebut kembali planet berharga tersebut.

Harus diakui, jika dibandingkan dengan era dimana Jodorowsky maupun Lynch mempersiapkan adaptasi layar lebar Dune mereka, Villeneuve jelas memiliki keuntungan lebih dengan teknologi perfilman yang kini telah memungkinkan setiap pembuat film untuk mewujudkan setiap fantasi akan visual pengisahan film mereka. Namun, tentu saja, fantasi yang tinggi tidak akan dapat berbanding lurus tanpa diiringi visi pengarahan cerita yang benar-benar kuat. Dengan bantuan sinematografer Greig Fraser, Villeneuve mampu menyajikan Dune sebagai presentasi yang teramat megah. Kualitas departemen produksinya hadir tanpa cela – bayangkan garapan James Cameron atas Titanic (1997) yang pencapaian audio maupun visualnya mampu memberikan sokongan solid pada alur pengisahan yang sedang berjalan. Hans Zimmer juga mampu menghasilkan iringan musik yang terdengar memiliki identitas yang lebih dekat dengan tema pengisahan yang dibawakan Dune daripada terdengar familiar dengan iringan musik garapan Zimmer lainnya.

Jika Blade Runner 2049 membantu mengasah kemampuan Villeneuve untuk bercerita melalui capaian teknis filmnya, maka pengaruh yang diberikan Arrival – dan, sejujurnya, seluruh film-film yang telah diarahkan oleh Villeneuve sebelumnya – jelas juga dapat dirasakan dalam tata penuturan Dune. Villeneuve dengan berani membedah kompleksitas yang dimiliki oleh struktur pengisahan Dune akan intrik sosial dan politik yang mengkritisi kolonialisme serta eksploitasi hasil alam untuk kemudian memaparkan setiap lapisan tersebut secara bertahap. Pilihan tersebut tidak pelak menjadikan Dune bertutur dengan tempo yang cukup lamban. Di saat yang bersamaan, pemaparan Villeneuve tidak pernah terasa membosankan berkat kehandalannya dalam menjaga intensitas cerita. Tiap konflik, tiap cerita, tiap karakter, serta tiap kondisi pengisahan dihadirkan dengan lugas yang akan membuat bahkan mereka yang tidak familiar dengan Dune dapat mengidentifikasi tiap elemen pengisahan film ini dengan mudah. Dengan sokongan kualitas produksi yang maksimal, penuturan Dune akan menghasilkan pengalaman sinematis yang akan membekas lama di benak setiap penontonnya.

Sebagai film yang menjadi landasan sebuah bangunan cerita yang lebih besar, tugas Dune untuk memperkenalkan paruh awal dari satu perjalanan cerita jelas tetap akan menyisakan kesan sebagai satu presentasi yang tidak utuh. Meskipun begitu, visi Villeneuve yang mampu ia terjemahkan dengan sangat kuat pada paparan Dune secara keseluruhan, jelas telah membuat film ini terasa sebagai pencapaian yang dapat berdiri sendiri. Departemen akting film ini juga hadir dengan solid. Chalamet mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk memegang dan mengendalikan film berkapasitas kolosal seperti Dune. Kharisma aktingnya mampu mendampingi kemegahan departemen produksi Dune sekaligus bersanding serasi dengan penampilan-penampilan akting dari Isaac, Ferguson, Brolin, Jason Momoa, hingga Zendaya – yang porsi pengisahan karakternya dalam film ini masih disajikan dalam skala yang terbatas. Dune adalah sajian yang menghipnotis sekaligus testimoni akan kecerdasan serta kehandalan Villeneuve sebagai seorang pembuat film yang visioner.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn-half

dune-timothee-chalamet-denis-villeneuve-movie-posterDune (2021)

Directed by Denis Villeneuve Produced by Denis Villeneuve, Mary Parent, Cale Boyter, Joe Caracciolo Jr. Written by Jon Spaihts, Denis Villeneuve, Eric Roth (screenplay), Frank Herbert (novel, Dune) Starring Timothée Chalamet, Rebecca Ferguson, Oscar Isaac, Josh Brolin, Stellan Skarsgård, Dave Bautista, Stephen McKinley Henderson, Zendaya, David Dastmalchian, Chang Chen, Sharon Duncan-Brewster, Charlotte Rampling, Jason Momoa, Javier Bardem, Babs Olusanmokun, Benjamin Clementine Cinematography Greig Fraser Edited by Joe Walker Music by Hans Zimmer Production company Legendary Pictures Running time 155 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Dune (2021)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s