Review: My Sassy Girl (2022)


Ketika dirilis pada dua dekade lalu, kesuksesan besar yang mampu diraih oleh My Sassy Girl (Kwak Jae-yong, 2001) tidak hanya menjadikan film komedi romansa tersebut menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan. Kesuksesan My Sassy Girl, secara perlahan, juga menyebar ke sejumlah negara di berbagai wilayah Asia dan menjadi salah satu momen krusial bagi Korean wave yang menandai kebangkitan minat dunia atas berbagai produk kultur pop yang berasal dari Korea Selatan – yang, tentu saja, kemudian terus meningkat hingga mendominasi dunia hiburan hingga saat ini. Keberhasilan film yang dibintangi Jun Ji-hyun dan Cha Tae-hyun itu lantas coba diteruskan dengan sebuah sekuel berjudul My New Sassy Girl (Joh Keun-shik, 2016) – yang, sayangnya, gagal untuk merebut perhatian penikmat film dunia, diadaptasi menjadi serial televisi, serta dibuat ulang oleh sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, India, China, Filipina, dan Indonesia.

Dirilis dengan judul yang sama di Indonesia, adaptasi My Sassy Girl diarahkan oleh Fajar Bustomi (Milea: Suara dari Dilan, 2020) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (June & Kopi, 2020). Garis besar alur pengisahannya secara keseluruhan masih serupa. Dimulai dengan pertemuan antara seorang pemuda, Gian (Jefri Nichol), dengan seorang gadis, Sisi (Tiara Andini), di sebuah stasiun kereta api. Berakhir dengan deretan insiden yang cukup memalukan, pertemuan tersebut ternyata menjadi awal mimpi buruk bagi Gian ketika dirinya kemudian terus diikuti oleh Sisi. Gian juga harus terus berusaha bersabar untuk menghadapi Sisi yang sering mengalami perubahan gejolak suasana hati serta kegemaran gadis misterius tersebut untuk berlaku kasar secara fisik kepadanya. Gian mulai menaruh hati kepada Sisi. Sial, meskipun telah sering menghabiskan waktu berdua, Gian masih belum mampu menerka isi hati maupun perasaan Sisi yang sebenarnya kepada dirinya.

Meskipun terdapat sejumlah perubahan – khususnya yang berhubungan dengan perbedaan kultur ataupun modernisasi sejumlah unsur pembangun kisah – naskah cerita My Sassy Girl garapan Wattimena masih dengan setia mengikuti alur maupun warna dari cerita film yang menjadi sumber pengisahannya. Romantisasi hubungan abusif yang terjalin antara kedua karakter utama – gambaran yang sebenarnya begitu mengganggu dari alur cerita film arahan Kwak dan kini, tentu saja, bahkan terasa semakin mengganggu – juga masih menjadi fokus utama bagi linimasa penceritaan film. Begitu utuhnya perhatian yang diberikan jalan penceritaan film bagi pertemuan ataupun interaksi yang terbangun antara karakter Gian dan Sisi, My Sassy Girl mengenyampingkan keberadaan karakter-karakter minor yang sesekali muncul dalam penceritaan yang lantas membuat kehadiran mereka sama sekali tidak berguna… Well… kecuali pada beberapa kesempatan dimana sejumlah karakter tersebut dimanfaatkan sebagai pengumpan bagi kehadiran beberapa konflik.

Hal ini sebenarnya tidak akan menjadi masalah besar jika Wattimena mampu memberikan garapan karakterisasi yang solid bagi kedua karakter utama. Hal itu, sayangnya, tidak terjadi. Gambaran yang terbatas akan karakter Sisi memang dimaksudkan untuk memperkuat paruh akhir cerita yang menguak sejumlah poin penting tentang siapa karakter Sisi sebenarnya serta sebuah pelintiran cerita yang terjadi pada hubungan kedua karakter utama. Di saat yang bersamaan, dengan ketiadaan karakter pendukung yang sebenarnya memegang peran krusial bagi kualitas penuturan paruh akhir cerita film serta bangunan konflik yang cenderung datar semenjak awal, My Sassy Girl kehilangan banyak kesempatan untuk membuat penuturannya mampu mengikat perhatian emosional penonton secara utuh.

Ritme pengisahan Bustomi yang berantakan jelas juga tidak membantu. Sebagai sebuah presentasi yang mengadaptasi cerita komedi romansa asal Korea Selatan yang penuh ledakan emosi – mampu tampil sangat konyol namun juga dapat terasa begitu menyentuh, Bustomi terasa tidak memiliki sensitivitas yang benar-benar kuat untuk dapat mengeksekusi materi cerita filmnya dengan seksama. Hal ini cukup berbanding terbalik dengan usaha Bustomi untuk mengisi adegan-adegan filmnya dengan penuh warna. Mulai dari pilihan warna mencolok yang selalu melekat pada deretan busana yang dikenakan oleh karakter-karakter dalam jalan cerita film ini hingga pewarnaan latar lokasi pada cerita, Bustomi dapat menghasilkan pendekatan visual berkesan dreamy yang jelas akan mudah untuk menyita perhatian setiap mata yang menyaksikannya.

Bustomi juga  beruntung memiliki Nichol dan Andini yang selalu mampu memberikan penampilan akting yang dapat menghidupkan karakter yang mereka perankan dengan baik. Sebagai pemeran debutan, penampilan Andini memang masih terasa goyah di beberapa kesempatan. Namun, berbekal chemistry apik yang ia jalin bersama Nichol, penampilan akting Andini tidak pernah terasa lemah maupun benar-benar mengganggu. Nichol juga sekali lagi dapat membuktikan jangkauan aktingnya yang meyakinkan. Penampilannya begitu kuat sehingga dapat memberikan dukungan dan distraksi dari penampilan lemah yang berada di sekitarnya – baik yang datang dari Andini maupun penampilan akting yang tidak berguna nan mengganggu yang dihadirkan oleh tiga pemeran karakter sahabatnya. Kemampuannya untuk mengeksekusi elemen komedi dan drama yang ditanamkan pada pengisahan karakternya menjadi salah satu bagian terbaik dari My Sassy Girl. Bukan sebuah presentasi yang buruk, meskipun jelas tidak akan mampu menggoreskan kesan yang kuat dan mendalam.

popcornpopcornpopcorn-halfpopcorn2popcorn2

my-sassy-girl-jefri-nichol-tiara-andini-movie-posterMy Sassy Girl (2022)

Directed by Fajar Bustomi Written by Titien Wattimena (screenplay), Kwak Jae-yong (original screenplay, My Sassy Girl) Produced by Frederica Starring Jefri Nichol, Tiara Andini, Raja Giannuca, Petrus Mahendra, Ibnu Wardani, Ferry Salim, Aida Nurmala, Surya Saputra, Indy Barends, Vonny Cornellya, Jaja Mihardja, Iang Darmawan, Dewa Dayana, Axel Matthew Thomas, Mahalini Raharja, Maudy Effrosina, Anrez Putra Adelio, Azzura Pinkan, Vanesha Prescilla, Ence Bagus, Ivan Leonardy, Ozan Arkananta, Bagasran Cinematography Dimas Subhono Edited by Sentot Sahid, Febby Gozal Music by Fajar Ahadi Production company Falcon Pictures Running time 117 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s