Review: Susi Susanti – Love All (2019)


Meskipun merupakan sebuah biopik, Susi Susanti – Love All bukanlah sekedar sebuah film yang bercerita tentang lika-liku perjalanan kehidupan sesosok figur publik yang menjadi karakter utama ceritanya. Di saat yang bersamaan, meskipun film ini bertutur tentang karakter utama yang merupakan seorang atlet yang sedang berjuang untuk membuktikan kemampuan diri dalam bidang olahraga yang dijalaninya, Susi Susanti – Love All tidak lantas berkutat dalam ritme berkisah film-film olahraga yang siap membawa para penonton untuk dapat merasakan sensasi menyaksikan langsung sang karakter utama dalam setiap pertandingannya. Dalam film yang sekaligus menjadi film panjang pertama yang ia arahkan, Sim F (Sanubari Jakarta, 2012) meramu Susi Susanti – Love All menjadi sajian yang tidak hanya berkisah tentang seorang tokoh olahraga dan berbagai catatan kisah pertarungannya namun juga presentasi tentang kisah kelam satu bangsa di masa lampau yang bekas lukanya masih cukup terasa hingga saat ini.

Dengan alur kisah yang digarap oleh lima orang (!) penulis naskah, Syarika Bralini, Raditya (Perempuan-perempuan Liar, 2011), Raymond Lee (Buffalo Boys, 2018), Daud Sumolang (Hi5teria, 2012), dan Sinar Ayu Massie (Lima, 2018), memulai tuturan kisahnya dengan warna cerita yang cukup konvensional bagi sebuah film biopik. Dengan bakat dan minat yang telah dapat ia pamerkan semenjak ia kecil, Susi Susanti (Laura Basuki) lantas mampu menjadi sebuah sensasi di dunia olahraga bulutangkis semenjak dirinya rmaja. Atas berbagai prestasinya, Susi Susanti lantas mendapatkan kesempatan untuk bergabung di Pemusatan Latihan Nasional milik Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia yang jelas membuka kesempatan bagi gadis tersebut untuk dapat bertanding dengan membawa nama negara di berbagai ajang kompetisi bulutangkis tingkat dunia. Seperti yang dapat diduga, karir Susi Susanti sebagai seorang atlet bulutangkis melesat cepat berkat ketangguhan dan kecerdasannya dalam bermain. Sayang, membawa harum nama negara ternyata tidak lantas menjadikan posisi Susi Susanti dan keluarganya menjadi aman dalam keseharian. Datang dari kelompok ras minoritas, Susi Susanti seringkali harus berhadapan dengan berbagai konflik yang membuatnya mempertanyakan kepercayaannya pada bangsanya sendiri.

Kekuatan utama dari presentasi Susi Susanti – Love All jelas berasal dari tuturan pengisahannya yang tertata secara menawan. Daripada hanya berfokus pada kisah perjalanan hidup dan karir dari sosok karakter Susi Susanti, naskah cerita film ini memilih untuk mengeksplorasi sang karakter dari nilai-nilai kehidupan yang mampu membangun sosoknya: Hubungannya dengan sang ayah (Iszur Muchtar) dan ibu (Dayu Wijanto); kedua pelatihnya (Chew Kin Wah dan Jenny Zhang) yang, seperti karakter Susi Susanti, berasal dari kelompok ras minoritas; persahabatannya dengan sesama atlet bulutangkis yang memacu sifat kompetitifnya; serta, tentu saja, hubungan romansanya dengan karakter Alan Budikusuma (Dion Wiyoko). Sim F mampu membangun elemen-elemen pengisahan tersebut sebagai lapisan cerita yang dibentuk dan dibuka satu per satu sehingga menghasilkan berbagai warna pengisahan yang kuat sekaligus membentuk jalinan emosional yang mendalam pada karakter-karakter yang ada di linimasa pengisahan film.

Susi Susanti – Love All juga membuka ruang yang cukup luas untuk memaparkan sejarah kelam kelompok minoritas – dalam kaitan dengan cerita film ini adalah warga negara turunan Tionghoa – dan bagaimana sikap politik negara di masa lalu kemudian berpengaruh besar pada kehidupan mereka. Pengelolaan topik cerita tersebut dalam pengisahan film ini mampu dihadirkan secara tegas dan lugas yang, sekali lagi, berhasil menjadikan presentasi Susi Susanti – Love All begitu bermakna. Memang, pilihan Sim F untuk berfokus penuh pada isu personal dari karakter Susi Susanti dan sekelumit kisah tentang Kerusuhan Mei 1998 di paruh ketiga film berpengaruh pada kesan klimaks penceritaan yang tidak terlalu kokoh. Tidak terlalu mngubah kualitas keseluruhan presentasi film. Lewat pengelolaan adegannya yang cukup handal – termasuk beberapa reka ulang beberapa pertandingan yang dijalani karakter Susi Susanti serta adegan emosional pernyataan karakter Susi Susanti tentang susahnya dirinya untuk mendapatkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia, Susi Susanti – Love All telah memiliki barisan momen istimewa yang membuat kehadirannya begitu mengikat.

Selain fokus yang diberikan pada perjalanan kehidupan dan karir dari karakter Susi Susanti, kehidupan romansa yang dijalin sang karakter bersama karakter Alan Budikusuma juga menjadi elemen yang cukup krusial dalam jalan penceritaan film ini. Beruntung, film ini memiliki Basuki dan Wiyoko yang hadir dengan sangat meyakinkan dalam peran mereka. Menjadi film ketiga dimana mereka tampil bersama setelah Love & Faith (Frans Limasnax, 2015) dan Terbang (Fajar Nugros, 2018), chemistry yang ditampilkan keduanya membuat elemen romansa yang disajikan film ini hadir begitu kuat dan akan mampu membuat wajah siapapun yang menyaksikannya merah bersemu. Begitu manis. Penampilan Basuki sebagai sosok Susi Susanti juga menjadi jiwa sekaligus nyawa bagi pengisahan film ini semenjak awal. Basuki tidak pernah terlihat lemah dalam presentasinya akan sosok Susi Susanti sebagai seorang atlet yang tangguh namun juga mampu mengelola sisi emosional karakter yang ia perankan di banyak momen dimana film ini membutuhkan. Penampilan prima dan terbaik dari Basuki.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2

susi-susanti-love-all-film-indonesia-movie-posterSusi Susanti – Love All (2019)

Directed by Sim F Produced by Daniel Mananta, Reza Hidayat, Guillaume Catala Written by Syarika Bralini, Raditya, Raymond Lee, Daud Sumolang, Sinar Ayu Massie Starring Laura Basuki, Dion Wiyoko, Jenny Zhang, Lukman Sardi, Muhammad Farhan, Moira Tabina Zayn, Kelly Tandiono, Iszur Muchtar, Chew Kin Wah, Dayu Wijanto, Rafael Tan, Delon Thamrin, Irwan Chandra, Daniel Mananta Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Yunus Pasolang Edited by Robby Barus, Arifin Cu’unk, Shiran Amir, Cody Miller Production company Time International Films/Damn! I Love Indonesia Movies/Oreima Films/East West Synergy/Melon Indonesia/Buddy Buddy Pictures/Nara Prayatna Tama Running time 96 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s