Review: Zombieland: Double Tap (2019)


Masih ingat dengan Zombieland (2009)? Ketika dirilis sepuluh tahun lalu, film yang menjadi debut pengarahan bagi Ruben Fleischer (Venom, 2018) tersebut berhasil menarik perhatian para kritikus film dunia berkat penyegaran yang dilakukan presentasi ceritanya pada film-film dengan tema mayat hidup yang kala itu lumayan popular diproduksi di Hollywood. Kesuksesan komersial Zombieland juga memberikan andil tersendiri dalam mendorong nama para pemerannya ke jajaran aktor maupun aktris papan atas Hollywood – khususnya Jesse Eisenberg dan Emma Stone. Setelah selama beberapa tahun berada dalam tahap pengembangan, proses produksi sekuel Zombieland mulai menemui titik terang pada pertengahan tahun 2018 dengan Woody Harrelson, Eisenberg, Abigail Breslin, Stone beserta Fleischer kembali menempati posisi mereka sebagai jajaran pemeran dan sutradara film. Zombieland memang menarik ketika dirilis sepuluh tahun yang lalu namun apakah sekuelnya yang berjudul Zombieland: Double Tap akan mampu mengikuti kesuksesan film pertamanya?

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo penulis naskah Rhett Reese dan Paul Wernick (Deadpool 2, 2018) bersama dengan Dave Callaham (The Expendables, 2010), Zombieland: Double Tap berkisah mengenai empat karakter dari film pertama, Tallahassee (Harrelson), Columbus (Eisenberg), Wichita (Stone), dan Little Rock (Breslin) yang masih tinggal bersama dan kini semakin lihai dalam menghalau maupun membunuh setiap mayat hidup yang berusaha mengganggu kehidupan mereka. Namun, bertahun-tahun hidup bersama layaknya sebuah keluarga, Wichita dan Little Rock mulai merasakan kejenuhan dalam keseharian mereka. Kedua kakak beradik tersebut merindukan petualangan di jalanan seperti yang dahulu pernah mereka lakukan bersama. Tanpa sepengetahuan Tallahassee dan Columbus, Wichita dan Little Rock kemudian meninggalkan tempat kediaman mereka dan memutuskan untuk kembali berpetualang berdua. Sial, di tengah perjalanan, Little Rock bertemu dengan seorang pemuda bernama Berkeley (Avan Jogia) yang berhasil menarik hatinya dan lantas memilih untuk pergi bersamanya. Tidak ada pilihan lain bagi Wichita selain untuk kembali menemui Tallahassee dan Columbus serta meminta bantuan mereka untuk mencari keberadaan Little Rock.

Dari segi filmis, Zombieland: Double Tap harus diakui tidak lagi mampu menyediakan sesuatu yang baru bagi para penikmatnya. Elemen-elemen cerita hingga tampilan visual – masih ingat dengan berbagai aturan untuk dapat bertahan hidup milik karakter Columbus yang selalu tiba-tiba muncul di berbagai sudut adegan film? – yang dahulu membuat Zombieland memiliki citarasa yang berbeda jika dibandingkan dengan film-film sepantarannya kini kembali dihadirkan dan, tentu saja, tidak lagi mampu memberikan kesan kesegaran yang sama. Zombieland: Double Tap bahkan seringkali terasa sebagai sebuah versi buat ulang daripada sebagai sebuah sekuel yang merupakan kelanjutan kisah akibat pilihan Fleischer untuk mengikuti dengan patuh berbagai formula teknis penceritaan yang telah ia terapkan dahulu di film pertama. Bukan sebuah pilihan yan buruk namun tetap saja membuat Zombieland: Double Tap, khususnya sebagai sebuah film yang keberadaannya telah direncanakan selama sepuluh tahun, kehilangan sentuhan keistimewaannya.

Jika Zombieland hadir dengan cerita yang berfokus penuh pada usaha tiap karakternya untuk bertahan hidup, maka untuk Zombieland: Double Tap Reese, Wernick, dan Callaham mengalihkan fokus tersebut pada hubungan yang terjalin antara keempat karakter utama yang secara tidak langsung membuat pengisahan film ini memiliki metafora lapisan kisah tentang hubungan sebuah keluarga – karakter Little Rock sebagai sosok anak kecil yang kini tumbuh dewasa dan ingin melihat dunia, karakter Tallahassee adalah sosok ayah yang seringkali bersikap terlalu berlebihan dalam usahanya untuk melindungi anak-anaknya, sementara pasangan karakter Columbus dan Wichita adalah sosok pasangan muda yang sedang dilanda kejenuhan dalam hubungan asmara mereka. Zombieland: Double Tap cukup sukses dalam menghadirkan kedinamisan hubungan antara karakter-karakter tersebut. Konflik pendukung seperti kisah mengenai para mayat hidup yang kini mampu berkembang menjadi sosok yang lebih kuat atau sederetan karakter baru yang kemudian muncul di linimasa pengisahan juga mampu menjadi bumbu cerita yang kuat. Beberapa bahkan sukses mencuri perhatian dari plot kisah utama film ini.

Jika elemen cerita film ini tidak lagi terasa istimewa, Zombieland: Double Tap setidaknya tetap mampu tampil menghibur berkat chemistry yang erat dari para pemerannya. Penampilan Harrelson, Eisenberg, Stone, dan Breslin akan mampu membuat setiap penonton kembali jatuh cinta dengan karakter-karakter yang mereka perankan – meskipun vokal Breslin yang kini lebih berat terasa mencegahnya untuk tampil lebih lugas dalam menghidupkan setiap dialog yang diucapkan karakter Little Rock. Banyak karakter baru yang hadir juga tampil solid berkat penampilan para pemerannya. Jogia, Rosario Dawson, Luke Wilson, dan Thomas Middleditch mampu memberikan kesan yang tidak mengecewakan bagi kehadiran karakter mereka yang sebenarnya memiliki tampilan kisah yang minimalis. Namun, jelas Zoey Deutch yang menjadi bintang utama bagi Zombieland: Double Tap. Dengan sosok karakternya yang diberkahi berbagai dialog yang begitu jenaka, Deutch mampu mencuri perhatian dalam setiap kahadirannya. Karakter Deutch bahkan menjadi sosok karakter yang paling diingat dari keseluruhan presentasi film ini. Luar biasa menghibur. [C]

zombieland-double-tap-abigail-breslin-emma-stone-woody-harrelson-jesse-eisenberg-movie-posterZombieland: Double Tap (2019)

Directed by Ruben Fleischer Produced by Gavin Polone Written by Rhett Reese, Paul Wernick, Dave Callaham Starring Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Abigail Breslin, Emma Stone, Rosario Dawson, Zoey Deutch, Avan Jogia, Luke Wilson, Thomas Middleditch, Bill Murray, Al Roker, Grace Randolph, Josh Horowitz, Lili Estefan Music by David Sardy Cinematography Chung Chung-hoon Edited by Dirk Westervelt Production companies Columbia Pictures/Pariah2.0 Entertainment Running time 99 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s