Review: Pacific Rim Uprising (2018)


Berbeda dengan seri film Transformers (2007 – 2017) yang sebelumnya telah dirilis dan mempopulerkan kembali keberadaan para robot-robot raksasa, Pacific Rim garapan Guillermo del Toro yang dirilis pada tahun 2013 menawarkan sebuah sentuhan pengisahan yang sedikit berbeda. Berbekal pengisahan yang cenderung kelam (dan lebih dewasa) seperti kebanyakan film-film del Toro lainnya, Pacific Rim mampu menangkap perhatian para kritikus film meskipun tetap mendapatkan catatan khusus mengenai lemahnya pengembangan konflik dan karakter yang dihadirkan. Sayangnya, pemilihan alur yang sedikit berbeda dari film-film Transformers juga menjadi salah satu penyebab mengapa penonton akhirnya sedikit menjaga jarak dari keberadaan Pacific Rim. Dengan biaya produksi yang mencapai hampir sebesar US$200 juta, Pacific Rim “hanya mampu” mendapatkan raihan komersial sebesar US$411 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia. Jelas sebuah pencapaian yang cukup mengecewakan dari bagian awal sebuah seri film yang tadinya diperkirakan akan menjadi lumbung yang terbaru bagi rumah produksi Legendary Pictures.

Namun, tentu saja, Hollywood tidak akan menyerah begitu saja. Berbekal kesuksesan komersial yang cukup besar di daratan Republik Rakyat Tiongkok, Pacific Rim akhirnya diberikan kesempatan untuk melahirkan sebuah sekuel – tentu dengan beberapa penyesuaian cerita yang diniatkan untuk tetap memanjakan para penonton dari Republik Rakyat Tiongkok. Del Toro kini hanya duduk sebagai seorang produser. Posisinya sebagai sutradara kemudian digantikan oleh Steven S. DeKnight – yang meskipun belum pernah mengarahkan sebuah film layar lebar sebelumnya namun pernah terlibat mengarahkan beberapa serial televisi popular seperti Buffy the Vampire Slayer, Smallville, dan Dollhouse. Perubahan paling radikal dari sekuel Pacific Rim, Pacific Rim Uprising, justru datang dari warna pengisahannya yang kini mendekati wilayah pengisahan seri film Transformers. Terdengar menakutkan? Tidak juga. Pacific Rim Uprising justru mampu terasa bercerita dengan lebih lepas, ringan, dan bahkan tampil menyenangkan jika dibandingkan dengan seri pendahulunya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh DeKnight bersama dengan T.S. Nowlin (Maze Runner: The Death Cure, 2017), Emily Carmichael, dan Kira Snyder, jalan cerita Pacific Rim Uprising mengambil latar belakang waktu pengisahan sepuluh tahun semenjak terjadinya Battle of the Breach yang dikisahkan di Pacific Rim. Dikisahkan, Jake Pentecost (John Boyega) – yang merupakan putera dari General Stacker Pentecost (Idris Elba) yang telah meninggal dunia – dipaksa oleh kakak angkatnya, Mako Mori (Rinko Kikuchi), untuk kembali bertugas pada Pan-Pacific Defence Corps sebagai seorang pelatih bagi kadet-kadet muda kesatuan tersebut. Bukan sebuah persoalan mudah. Meskipun memiliki ayah yang telah dianggap sebagai sosok pahlawan bagi kebanyakan manusia di muka Bumi, Jake Pentecost memilih untuk menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Walau menerima “paksaan” sang kakak angkat, Jake Pentecost menjalankan tugasnya dengan malas-malasan. Sikap tersebut bahkan semakin menjadi-jadi setelah Jake Pentecost kembali bertemu dengan saingan terberatnya selama menjadi kadet muda terdahulu, Nate Lambert (Scott Eastwood). Namun, setelah kemunculan sebuah robot asing yang menimbulkan kekacauan besar, Jake Pentecost sadar bahwa kemampuannya diperlukan untuk berjuang dan memperbaiki keadaan.

Seperti halnya seri film Transformers, Pacific Rim Uprising berjalan dalam lapisan premis pengisahan yang cenderung sederhana dan familiar. Deretan konflik seperti usaha untuk membuktikan kemampuan diri, persaingan untuk menjadi sosok yang terbaik, rasa muram maupun duka atas sebuah kejadian tragis di masa lampau, atau bahkan tema seperti usaha penyelamatan dunia menjadi menu yang dipaparkan secara gamblang dalam 111 menit durasi pengisahan film ini. DeKnight, Nowlin, Carmichael, dan Snyder bahkan tidak terasa berusaha untuk mengembangkan konflik-konflik klise tersebut untuk terlihat tampil lebih dalam dan bahkan sering mengkerdilkan berbagai permasalahan yang ditampilkan. Di saat yang bersamaan, dengan berbagai “keterbatasan” tersebut, Pacific Rim Uprising mampu disajikan menjadi sebuah pengisahan yang terasa hadir tanpa beban. DeKnight berhasil menggarap filmnya dengan alur cepat yang menyenangkan untuk diikuti. Dangkal namun mampu memberikan kebahagiaan – walau untuk sesaat.

Kesenangan juga dapat dirasakan muncul dari para karakter yang menghiasi jalan cerita film ini. Tentu, karakter-karakter tersebut tampil dengan kedalaman yang tidak lebih baik dari pengolahan cerita film ini. Meskipun begitu, karakter-karakter tersebut mampu dimanfaatkan dengan baik untuk memberikan dorongan pada intensitas emosional pengisahan – yang sekaligus berhasil membuat mereka tampil cukup mudah untuk disukai. Dan, tentu saja, DeKnight menyajikan Pacific Rim Uprising dengan deretan adegan aksi yang jelas akan mampu memuaskan para penikmat adegan-adegan perang kolosal yang berlapiskan tatanan visual efek yang tebal. Jika seri film Pacific Rim memang diniatkan untuk benar-benar menggantikan posisi seri film Transformers yang telah kehilangan kedigdayaannya, maka kualitas cerita yang ditampilkan DeKnight dalam Pacific Rim Uprising jelas mampu membuktikan adanya potensi tersebut.

Kekuatan lain dari Pacific Rim Uprising juga muncul dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Berada di garda terdepan, Boyega hadir dengan penampilan prima sebagai Jake Pentecost yang berusaha untuk membuktikan kemampuan dirinya. Chemistry yang ia jalin dengan pemeran Amara Namani, Cailee Spaeny, juga mampu menghasilkan banyak momen menyenangkan dalam film ini. Eastwood juga terasa tampil dengan penampilan yang lebih lugas dalam film ini. Penampilannya yang cenderung kaku dalam film-film sebelumnya kini terasa lebih meyakinkan. Penampilan lainnya dari Charlie Day, Jing Tian, Burn Gorman, Adria Arjona, dan Rinko Kikuchi menambah solid kualitas penampilan departemen akting film ini. [C]

pacific-rim-uprising-john-boyega-movie-posterPacific Rim Uprising (2018)

Directed by Steven S. DeKnight Produced by John Boyega, Cale Boyter, Guillermo del Toro, Jon Jashni, Femi Oguns, Mary Parent, Thomas Tull Written by Emily Carmichael, Kira Snyder, Steven S. DeKnight, T.S. Nowlin (screenplay), Steven S. DeKnight, T.S. Nowlin (story), Travis Beacham (characters) Starring John Boyega, Scott Eastwood, Cailee Spaeny,  Rinko Kikuchi, Charlie Day, Burn Gorman, Jing Tian, Adria Arjona, Zhang Jin, Karan Brar, Ivanna Sakhno, Mackenyu, Shyrley Rodriguez, Levi Meaden, Rahart Adams, Zhu Zhu, Nick E. Tarabay, Madeleine McGraw Music by Lorne Balfe Cinematography Dan Mindel Edited by Dylan Highsmith, Zach Staenberg Production company Legendary Pictures Running time 111 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s