Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Masih ingat dengan memori menyeramkan sekaligus mimpi buruk yang diakibatkan oleh adegan Anjelica Huston yang secara perlahan melepaskan rambut serta kulit palsunya dan kemudian membiarkan wujud aslinya sebagai seorang penyihir terlihat dalam film The Witches (Nicolas Roeg, 1990)? Well… mimpi buruk tersebut coba dibangkitkan kembali oleh Guillermo del Toro bersama dengan Alfonso Cuarón dan Robert Zemeckis dengan menghadirkan adaptasi teranyar bagi buku cerita anak-anak garapan Roald Dahl yang juga berjudul The Witches tersebut. Sebenarnya, pada tahun 2008, Cuarón sempat mengungkapkan bahwa dirinya akan bekerjasama dengan del Toro untuk mengadaptasi The Witches dalam bentuk teknik animasi stop motion. Sayang, rencana tersebut gagal untuk membuahkan hasil. Sepuluh tahun kemudian, kerjasama antara del Toro dengan Cuarón untuk menghidupkan The Witches muncul kembali namun dengan format yang berbeda. Daripada menghadirkannya sebagai sebuah film animasi, versi teranyar dari The Witches akan tetap disajikan dalam presentasi live action dengan Zemeckis akan duduk di kursi penyutradaraan serta Cuarón dan del Toro bertindak sebagai produser sekaligus penulis naskah.

Meskipun mengalami beberapa perubahan di beberapa bagiannya, alur cerita dari film yang memiliki judul resmi Roald Dahl’s The Witches ini masih bertutur tentang perseteruan seorang anak dan neneknya dengan seorang penyihir. Dengan latar belakang waktu pengisahan pada tahun 1968 di negara bagian Alabama, Amerika Serikat, perseteruan tersebut dimulai ketika seorang anak laki-laki bernama Hero (Jahzir Kadeem Bruno) diubah menjadi seekor tikus oleh seorang penyihir yang dikenal dengan sebutan Grand High Witch (Anne Hathaway) sebagai bagian dari cita-citanya untuk melenyapkan seluruh anak-anak dari atas muka Bumi. Kebingungan, Hero yang telah berwujud sebagai seekor tikus kemudian menemui sang nenek (Octavia Spencer) yang dengan segera menyusun rencana untuk menghadapi sang penyihir sekaligus mengubah sang cucu kembali ke wujud aslinya.

Berjarak 20 tahun semenjak perilisan adaptasi film pertama dari The Witches, Zemeckis secara handal memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menghasilkan deretan adegan bernuansa horor yang jelas kini terlihat lebih meyakinkan daripada film pendahulunya. Meskipun disajikan dengan lebih banyak warna – jika dibandingkan dengan garapan Roeg untuk The Witches yang lebih didominasi oleh warna-warna pucat dan kelam – atmosfer teror dari jalinan horor yang dihadirkan Roald Dahl’s The Witches tidak pernah terasa berkurang. Beberapa adegan film – seperti adegan ikonik yang menampilkan karakter Grand High Witch melepaskan wujud manusianya serta adegan kejar-kejaran antara para penyihir dengan anak-anak yang menjadi korban mereka – bahkan akan mampu menghadirkan rasa kengerian yang cukup mendalam berkat penggarapan visual memang tergarap nyaris tanpa cela.

Sayangnya, tidak semua perubahan cerita yang terdapat dalam naskah garapan Zemeckis, del Toro, dan Kenya Barris (Shaft, 2019) dapat dieksekusi secara efektif. Beberapa bagian kisah yang menyinggung unsur rasisme dan kemiskinan memang cukup mampu memberikan warna lapisan cerita yang kuat bagi linimasa pengisahan film ini. Di bagian lain, perubahan tersebut terasa cukup mengurangi keefektivitasan Roald Dahl’s The Witches dalam bertutur. Karakter Mr. Stringer yang diperankan oleh Stanley Tucci, misalnya, hadir tanpa kapasitas pengisahan yang kuat dan terasa cukup disia-siakan kehadirannya. Belum lagi plot tentang sosok Daisy yang dikisahkan sebagai seorang anak yang telah diubah menjadi tikus oleh para penyihir. Hadir tanpa pendalaman yang kuat dan jelas. Garapan Zemeckis untuk film ini secara keseluruhan juga tampil timpang pada banyak bagian. Setelah hadir dengan energi penuh pada paruh awal film, Roald Dahl’s The Witches secara perlahan mulai terasa kehilangan kemampuannya untuk bertutur dengan seksama pada paruh lanjutannya. Terasa lamban dengan barisan konflik dan karakter yang tidak lagi semenarik paruh pendahulunya. Masih mampu memberikan beberapa momen yang menghibur namun jelas kehilangan kesempatan untuk menjadikan film ini tampil dengan kualitas yang lebih superior.

Penampilan Hathaway sendiri jelas menjadi bintang sekaligus atraksi utama yang terus menjadikan Roald Dahl’s The Witches menjadi sangat, sangat menyenangkan untuk terus disaksikan. Tidak mudah memang untuk mengikuti jejak seperti yang ditinggalkan Huston, namun Hathaway sukses menghadirkan interpretasinya sendiri untuk sosok Grand High Witch dalam balutan komedi dan horor yang sangat berimbang. Begitu bersinarnya penampilan Hathaway, film ini bahkan terasa kehilangan detak kehidupannya begitu karakter Grand High Witch menghilang dari adegannya. Barisan pengisi departemen akting film lain seperti Spencer, Tucci, Bruno, hingga Rock dan Chenoweth yang hadir dalam kapasitas vokal mereka memang tampil tidak mengecewakan. Namun Roald Dahl’s The Witches jelas merupakan presentasi yang dimiliki oleh Hathaway dan hanya Hathaway seorang. She’s just so damn good!

Roald Dahl’s The Witches (2020)

Directed by Robert Zemeckis Produced by Robert Zemeckis, Jack Rapke, Guillermo del Toro, Alfonso Cuarón, Luke Kelly Written by Robert Zemeckis, Kenya Barris, Guillermo del Toro (screenplay), Roald Dahl (book, The Witches) Starring Anne Hathaway, Octavia Spencer, Stanley Tucci, Jahzir Kadeem Bruno, Chris Rock, Codie-Lei Eastick, Kristin Chenoweth, Brian Bovell, Charles Edwards, Morgana Robinson, Josette Simon, Eugenia Caruso, Ana-Maria Maskell, Orla O’Rourke, Penny Lisle, Simon Manyonda, Philippe Spall Music by Alan Silvestri Cinematography Don Burgess Edited by Jeremiah O’Driscoll, Ryan Chan Production company Warner Bros. Pictures/ImageMovers/Necropia Entertainment/Esperanto Filmoj Running time 105 minutes Country United States, Mexico Language English

Leave a Reply