Tag Archives: Kristin Chenoweth

Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Masih ingat dengan memori menyeramkan sekaligus mimpi buruk yang diakibatkan oleh adegan Anjelica Huston yang secara perlahan melepaskan rambut serta kulit palsunya dan kemudian membiarkan wujud aslinya sebagai seorang penyihir terlihat dalam film The Witches (Nicolas Roeg, 1990)? Well… mimpi buruk tersebut coba dibangkitkan kembali oleh Guillermo del Toro bersama dengan Alfonso Cuarón dan Robert Zemeckis dengan menghadirkan adaptasi teranyar bagi buku cerita anak-anak garapan Roald Dahl yang juga berjudul The Witches tersebut. Sebenarnya, pada tahun 2008, Cuarón sempat mengungkapkan bahwa dirinya akan bekerjasama dengan del Toro untuk mengadaptasi The Witches dalam bentuk teknik animasi stop motion. Sayang, rencana tersebut gagal untuk membuahkan hasil. Sepuluh tahun kemudian, kerjasama antara del Toro dengan Cuarón untuk menghidupkan The Witches muncul kembali namun dengan format yang berbeda. Daripada menghadirkannya sebagai sebuah film animasi, versi teranyar dari The Witches akan tetap disajikan dalam presentasi live action dengan Zemeckis akan duduk di kursi penyutradaraan serta Cuarón dan del Toro bertindak sebagai produser sekaligus penulis naskah. Continue reading Review: Roald Dahl’s The Witches (2020)

Review: The Boy Next Door (2015)

the-boy-next-door-posterThe Boy Next Door adalah sebuah thriller dengan premis yang mungkin telah begitu familiar bagi banyak penikmat film dunia: sesosok karakter dengan tampilan fisik yang begitu menarik dan kepribadian dengan kesan yang terlalu sempurna untuk dapat menjadi kenyataan mulai terobsesi pada satu karakter lain, menolak untuk menjauh ketika karakter tersebut mulai merasa terganggu dengan kehadirannya yang akhirnya berujung pada konfrontasi fisik yang seringkali berakibat fatal pada salah satu karakter. Konflik yang sama pernah hadir dalam film Play Misty for Me (Clint Eastwood, 1971) dan Fatal Attraction (Adrian Lyne, 1987) dan Single White Female (Barbet Schroeder, 1992) dan The Crush (Alan Shapiro, 1993) dan Disclosure (Barry Levinson, 1995) dan Fear (James Foley, 1996) dan Swimfan (John Polson, 2002) dan Obsessed (Steve Shill, 2009) dan mungkin masih banyak film lainnya. Namun, pertanyaan paling penting disini adalah apakah Rob Cohen memiliki kemampuan yang cukup untuk mengolah material yang (telah terlalu) familiar tersebut untuk menjadi sebuah presentasi yang masih menegangkan dan menyenangkan untuk ditonton?

Well… jangan berharap terlalu banyak. Naskah cerita yang ditulis oleh Barbara Curry sama sekali tidak memberikan sentuhan baru dalam deretan konflik yang dihadirkan pada jalan cerita yang telah familiar tersebut. Kadang bahkan terasa cukup konyol dengan keberadaan deretan dialog yang terdengar menggelikan. Kemampuan Curry dalam memberikan ruang yang cukup bagi porsi penceritaan beberapa karakter pendukung juga terasa minimalis. Karakter-karakter pendukung dalam jalan cerita The Boy Next Door seringkali terasa hadir hanya saat dibutuhkan dalam cerita untuk kemudian menghilang dan muncul lagi di momen lainnya. Sama sekali tidak memberikan andil yang berarti pada jalan cerita utama film.

Dan, sayangnya, Cohen juga terlihat tidak terlalu tertarik untuk menjadikan The Boy Next Door sebagai sebuah sajian yang menarik. Cohen mengarahkan film ini dengan tempo penceritaan yang terlalu lamban pada dua pertiga bagian film. Konflik mulai terasa memuncak di sepertiga akhir film – yang jelas tidak akan mampu menutup rasa kekecewaan penonton yang terlanjur merasa bosan dengan bagian awal pengisahan film ini. Hal ini masih ditambah dengan kehadiran tata musik arahan Randy Edelman dan Nathan Barr yang terkesan berusaha menggiring penonton pada satu efek emosional tertentu. Cukup mengganggu.

Jajaran pengisi departemen akting mungkin adalah bagian terbaik dari The Boy Next Door – meskipun pada beberapa bagian penceritaan chemistry antar pemeran terasa hambar. Jennifer Lopez mampu dengan baik menghidupkan sosok karakter istri yang sedang menghadapi banyak masalah dalam kehidupan pernikahannya. Lopez juga berhasil menjadikan karakter Claire yang ia perankan menjadi sesosok wanita tangguh – baik secara fisik maupun emosional – ketika karakter tersebut benar-benar harus berhadapan dengan bahaya yang mengancam diri dan keluarganya. Sosok peran yang mungkin akan mengingatkan banyak orang pada peran Lopez dalam film Enough (2002).

Dengan penampilannya yang sangat atraktif, Ryan Guzman juga terlihat memenuhi kriteria yang tepat untuk menghidupkan karakternya sebagai sosok penggoda yang mematikan dalam film ini. Guzman hadir dengan penampilan yang santai namun cukup meyakinkan. Penampilan pemeran karakter-karakter pendukung lain seperti Kristin Chenoweth, John Corbett dan Ian Nelson juga tidak mengecewakan. Cukup menjadi poin positif dalam sebuah film yang secara keseluruhan hadir dengan kualitas yang dapat dikatakan masih jauh dari kesan memuaskan. [D]

The Boy Next Door (2015)

Directed by Rob Cohen Produced by Jason Blum, John Jacobs, Elaine Goldsmith-Thomas, Benny Medina, Jennifer Lopez Written by Barbara Curry Starring Jennifer Lopez, Ryan Guzman, Kristin Chenoweth, John Corbett, Lexi Atkins, Ian Nelson, Hill Harper, Bailey Chase, Travis Schuldt, Adam Hicks, François Chau Music by Randy Edelman, Nathan Barr Cinematography Dave McFarland Edited by Michel Aller Production company Blumhouse Productions/Smart Entertainment/Nuyorican Productions Running time 91 minutes Country United States Language English

Review: You Again (2010)

You Again mungkin mampu mengumpulkan nama-nama besar seperti Sigourney Weaver dan Jamie Lee Curtis untuk bergabung di dalam jajaran pemeran filmnya. Namun, tentu saja nama besar kedua aktris ini bukan jaminan bahwa You Again akan mampu bersinar menjadi sebuah film komedi yang menjanjikan. Bahkan, adalah cukup wajar jika setelah menyaksikan You Again beberapa orang akan berpendapat bahwa Weaver dan Curtis telah melakukan pilihan yang salah untuk turut bergabung dalam film ini. Continue reading Review: You Again (2010)