Review: Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Masih ingat dengan karakter Kale yang diperankan Ardhito Pramono dalam film Nanti Kita Cerita tentang Hari ini (2020)? Dalam film arahan Angga Dwimas Sasongko tersebut, kehadiran karakter Kale berhasil mencuri perhatian lewat kemampuannya dalam merangkai lagu, utaran dialognya yang seringkali bernada puitis, hingga jalinan kisah romansanya yang manis (walau kemudian berakhir pahit) dengan karakter Awan yang diperankan Rachel Amanda. Reaksi serta perhatian yang cukup besar yang didapat oleh sosok Kale sepertinya menggugah Sasongko untuk memberikan pengolahan cerita tersendiri bagi karakter tersebut. Fokusnya, tentu saja, membuka sudut pandang penonton pada kehidupan personal dari karakter Kale, masa lalunya, serta berbagai hal yang mendorong karakter tersebut sehingga menarik diri dari hubungan asmara yang sedang dibangunnya bersama dengan karakter Awan. Sebuah pilihan yang menarik untuk memberikan warna tambahan bagi semesta pengisahan Nanti Kita Cerita tentang Hari ini.

Sebagai sebuah sempalan yang juga berlaku sebagai prekuel, Story of Kale: When Someone’s in Love memiliki latar belakang waktu pengisahan yang berjalan sebelum berbagai konflik yang diceritakan dalam Nanti Kita Cerita tentang Hari ini. Dengan naskah cerita yang dituliskan Sasongko bersama dengan M. Irfan Ramli (Love for Sale 2, 2019), alur cerita film ini dimulai ketika Kale memulai hubungan romansanya dengan Dinda (Aurelie Moeremans) yang merupakan manajer dari kelompok musiknya yang bernama Arah. Hubungan tersebut tidak berjalan mulus. Dinda terus saja dihantui oleh bayang-bayang akan kekasih terdahulunya, Argo (Arya Saloka), yang telah mendekamnya dalam sebuah hubungan abusif selama bertahun-tahun. Jejak luka yang dirasakan oleh Dinda mulai mempengaruhi Kale dan hubungan yang dijalin keduanya. Kale berubah menjadi sosok yang overprotektif serta tak segan untuk melakukan apa saja dalam usahanya untuk melindungi Dinda.

Seperti halnya Nanti Kita Cerita tentang Hari ini, Sasongko menyajikan Story of Kale: When Someone’s in Love dalam tatanan kisah berbentuk non-linear. Alur kisah yang dimulai pada momen kedua karakter utama memutuskan untuk mengakhiri hubungan romansa mereka dilanjutkan oleh Sasongko dengan menghadirkan momen-momen awal terjalinnya hubungan tersebut, bayang-bayang dari masa lalu yang hadir dalam hubungan keduanya, serta berbagai perubahan yang terbentuk akibat hadirnya sosok “orang ketiga” tadi. Arahan yang diterapkan oleh Sasongko tersebut cukup mampu untuk menonjolkan kekuatan emosional dari tiap konflik yang ingin dibangun oleh naskah yang ia tulis bersama dengan Ramli. Penonton seolah ditempatkan pada posisi sebagai seorang saksi dari kisah sebuah hubungan yang merusak fisik maupun emosional dari karakter-karakter yang berada di dalamnya.

Story of Kale: When Someone’s in Love memang diniatkan untuk memberikan latarbelakang (dan bukan pembenaran) atas perilaku dari karakter Kale yang dahulu ditunjukkannya dalam Nanti Kita Cerita tentang Hari ini. Namun, lebih dari itu, film ini sepertinya lebih tepat untuk didedikasikan pada sosok karakter Dinda yang terjebak dalam dua hubungan yang merusak. Senada dengan Posesif (Edwin, 2017), Story of Kale: When Someone’s in Love juga menunjukkan bagaimana sosok mereka yang abusif dalam sebuah jalinan hubungan.

Karakter Argo terlihat lebih jelas sebagai sosok abusif yang mampu menggunakan kata-kata kasar maupun tindak kekerasan untuk mendapatkan keinginannya. Di sisi lainnya, karakter Kale berusaha untuk mendominasi pasangannya dengan langkah pasif agresif – tenang, kalem, namun terus memanfaatkan istilah “demi kita” ataupun “demi kamu” untuk kepentingan maupun kepuasan dirinya sendiri. Cukup disayangkan Sasongko kemudian lebih memilih untuk menghadirkan elemen cerita hubungan merusak tersebut dari sisi konfrontasi bernuansa saling teriak antara para karakternya daripada berusaha memberikan penggalian latarbelakang cerita yang lebih mendalam. Masih efektif namun tidak mampu meninggalkan kesan (maupun pengertian akan tindakan abusif) yang lebih kuat.

Ketika karakter Kale dihadirkan sebagai sosok karakter pendukung, penampilan Pramono memang mampu untuk mencuri perhatian. Dengan peran yang lebih luas dalam Story of Kale: When Someone’s in Love, keterbatasan kemampuan dramatisasi Pramono memang harus diakui terlihat pada beberapa adegan. Tidak merusak kualitas film namun jelas bukan penampilan yang mampu memberikan nilai lebih. Di lain sisi, Moeremans menjadi pengisi departemen akting yang hadir dengan kapabilitas yang lebih mumpuni namun dengan porsi pengisahan karakter yang tidak terlampau luas. Sasongko juga berhasil menyajikan filmnya dengan penampilan teknis yang memuaskan. Sejumlah lagu garapan Pramono yang menghiasi beberapa adegan film sukses memberikan warna emosional tambahan bagi pengisahan film ini secara keseluruhan.

Story of Kale: When Someone’s in Love (2020)

Directed by Angga Dwimas Sasongko Produced by Sonny Laksamana Written by Angga Dwimas Sasongko, M. Irfan Ramli Starring Ardhito Pramono, Aurelie Moeremans, Arya Saloka, Roy Sungkono, Gilbert Pohan, Azizah Hanum, Tanta Ginting Music by Ofel Obaja Setiawan Cinematography Bagoes Tresna Adji Edited by Hendra Adhi Susanto Production company Visinema Content Running time 77 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply