Review: Rebecca (2020)

Proses adaptasi dari buku ke film jelas bukanlah suatu proses yang mudah. Tingkat kesukaran tersebut akan lebih meningkat jika buku yang akan diadaptasi adalah sebuah buku yang telah melegenda seperti Rebecca karangan Daphne du Maurier yang telah dicetak berulang kali semenjak perilisannya pada tahun 1938 hingga saat ini, diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dari seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media lainnya seperti serial televisi, film, drama panggung, hingga ke dalam bentuk opera. Oh, tidak lupa, tantangan untuk menghasilkan adaptasi film dari buku sekaliber Rebecca akan menjadi jauh lebih besar ketika salah satu adaptasi film tersebut sebelumnya diarahkan oleh sutradara dengan nama sebesar Alfred Hitchock yang versi filmnya tidak hanya mampu untuk meraih kesuksesan secara komersial namun juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film dunia serta memenangkan penghargaan tertinggi Best Picture dari ajang Academy Awards. Sudah dapat membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Ben Wheatley (Free Fire, 2016) ketika ia setuju untuk menghasilkan narasi teranyar bagi Rebecca?

Berbekal naskah cerita yang digarap oleh Jane Goldman (Miss Peregrine’s Home or Peculiar Children, 2016), Joe Shrapnel (Frankie & Alice, 2010), dan Anna Waterhouse (The Aftermath, 2019), Rebecca arahan Wheatley masih bertutur tentang plot pengisahan yang telah familiar. Seorang gadis muda (Lily James) yang sebelumnya hanya bekerja sebagai asisten bagi seorang wanita kaya, Mrs. Van Hopper (Ann Dowd), berhasil mencuri perhatian dan hati seorang milyuner bernama Maxim de Winter (Armie Hammer). Tidak butuh lama bagi milyuner tersebut untuk menikahi sang gadis dan membawanya ke rumah megah miliknya yang dikenal dengan sebutan Manderley. Hidup bergelimang harta bersama sosok pria yang begitu ia cinta ternyata tidak lantas memberikan kebahagiaan bagi sang gadis. Manderlay ternyata membawa bayang-bayang mantan istri sang suami yang bernama Rebecca dan dahulu meninggal secara tragis di wilayah sekitar rumah tersebut.

Dengan film-film semacam Kill List (2011), High-Rise (2015), dan Free Fire dalam daftar filmografinya, mungkin akan ada banyak pihak yang berharap bahwa Wheatley akan memberikan sebuah adaptasi dengan warna pengisahan yang berbeda ataupun radikal bagi Rebecca. Wheatley sendiri memastikan bahwa garapan cerita Rebecca miliknya bukanlah sebuah versi buat ulang dari Rebecca milik Hitchcock. Rebecca garapan Wheatley adalah sebuah adaptasi langsung dari novel Rebecca milik du Maurier dimana Wheatley menghadirkan tatanan kisah, plot, dan karakter yang benar-benar patuh dan setia kepada jalinan cerita yang telah digariskan oleh novel karya du Maurier. Bukan sebuah pilihan yang buruk namun, sayangnya, juga terasa sebagai adaptasi yang terlampau biasa ketika dunia telah memiliki versi adaptasi dari Hitchcock yang memang jauh lebih berani dan superior.

Adaptasi yang berkualitas jelek? Tidak juga. Kemampuan pengarahan Wheatley mampu menjadikan Rebecca bertutur dengan seksama, mudah dicerna, dan tidak pernah benar-benar terasa monoton maupun membosankan. Kualitas produksi film – mulai dari tata busana, tata rias, hingga tata sinematografi serta tata musik – juga tampil dalam kualitas yang memuaskan dan mendukung penuh atmosfer cerita Rebecca yang ingin dihadirkan Wheatley. Di saat yang bersamaan, Rebecca juga tidak pernah mampu terasa benar-benar hidup, baik ketika menghadirkan elemen romansa yang terbentuk antara kedua karakter utamanya maupun ketika mulai bereksplorasi dengan elemen misteri dan ketegangan yang tumbuh pada paruh pertengahan cerita film. Hasilnya, Rebecca menjadi sebuah presentasi yang nyaman dan indah untuk dilihat namun tidak pernah benar-benar mampu untuk mengikat perhatian penontonnya secara utuh.

Kualitas senada juga dapat dirasakan datang dari penampilan para pengisi departemen akting film ini. James dan Hammer jelas memiliki tampilan fisik yang menyenangkan untuk dipandang mata. Sayang, penampilan keduanya tidak pernah terasa mampu untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan. Hammer hadir dengan penampilan akting yang terlalu kaku sebagai sosok Maxim de Winter sementara James terjebak dalam satu warna emosi semenjak awal hingga akhir film. Hal ini masih ditambah dengan lemahnya chemistry yang hadir antara keduanya. Dengan paduan warna antagonis sekaligus misterius pada sosok karakter yang ia perankan, Kristin Scott Thomas jelas mampu untuk selalu tampil menonjol sebagai Mrs. Danvers. Tetap tidak berpengaruh banyak mengingat karakter yang diperankan Thomas juga tidak diberikan porsi pengisahan yang terlampau besar maupun berarti.

Rebecca garapan Wheatley lantas berakhir sebagai sebuah sajian yang kompeten dalam nilai produksinya namun terasa hampa dan sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan kesan yang mendalam. Datar dan mudah dilupakan begitu saja.

Rebecca (2020)

Directed by Ben Wheatley Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Nira Park Written by Jane Goldman, Joe Shrapnel, Anna Waterhouse (screenplay), Daphne du Maurier (novel, Rebecca) Starring Lily James, Armie Hammer, Kristin Scott Thomas, Keeley Hawes, Ann Dowd, Sam Riley, Tom Goodman-Hill, Mark Lewis Jones, John Hollingworth, Bill Paterson, Ben Crompton, Jane Lapotaire, Ashleigh Reynolds Music by Clint Mansell Cinematography Laurie Rose Edited by Jonathan Amos Production company Working Title Films Running time 121 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply