Tag Archives: Ann Dowd

Review: Rebecca (2020)

Proses adaptasi dari buku ke film jelas bukanlah suatu proses yang mudah. Tingkat kesukaran tersebut akan lebih meningkat jika buku yang akan diadaptasi adalah sebuah buku yang telah melegenda seperti Rebecca karangan Daphne du Maurier yang telah dicetak berulang kali semenjak perilisannya pada tahun 1938 hingga saat ini, diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dari seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media lainnya seperti serial televisi, film, drama panggung, hingga ke dalam bentuk opera. Oh, tidak lupa, tantangan untuk menghasilkan adaptasi film dari buku sekaliber Rebecca akan menjadi jauh lebih besar ketika salah satu adaptasi film tersebut sebelumnya diarahkan oleh sutradara dengan nama sebesar Alfred Hitchock yang versi filmnya tidak hanya mampu untuk meraih kesuksesan secara komersial namun juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film dunia serta memenangkan penghargaan tertinggi Best Picture dari ajang Academy Awards. Sudah dapat membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Ben Wheatley (Free Fire, 2016) ketika ia setuju untuk menghasilkan narasi teranyar bagi Rebecca? Continue reading Review: Rebecca (2020)

Review: Hereditary (2018)

Jika Anda belum familiar dengan nama Ari Aster sebelumnya, Hereditary dapat dipastikan akan membuat Anda mengingat nama sekaligus hasil debut pengarahan film layar lebarnya tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama. Anda bahkan juga berkemungkinan akan berusaha untuk mencari film-film pendek yang ia arahkan sebelumnya hanya untuk mempertegas rasa kekaguman Anda pada pola pemikiran horornya yang cukup eksentrik – sekaligus mengisi waktu guna menunggu film arahan terbarunya di masa yang akan datang. Diarahkan berdasarkan naskah yang juga digarapnya sendiri, Aster menjadikan Hereditary sebagai sebuah meditasi terhadap rasa duka mendalam yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam jalan ceritanya sekaligus membungkusnya dengan berbagai jejak horor klasik – namun jauh dari kesan klise – yang kemudian mendorong film ini untuk tampil begitu mencekam (baca: mengganggu). Sebuah pengalaman akan teror horor yang mampu memberikan rasa ketidaknyamanan yang begitu mendalam bagi para penontonnya. Continue reading Review: Hereditary (2018)

Review: Collateral Beauty (2016)

How do you cope with grief and loss of your loved one? Dalam film terbaru arahan David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006), Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai seorang eksekutif periklanan bernama Howard Inlet yang sedang berada dalam masa duka akibat kehilangan puteri satu-satunya yang meninggal dunia. Rasa duka tersebut telah merubah diri Howard sepenuhnya. Howard yang dulu adalah sosok pemimpin perusahaan yang optimistis dan mampu mendorong semangat orang-orang yang berada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tertutup dan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan siapapun termasuk orang-orang terdekatnya. Perubahan tersebut secara perlahan akhirnya mempengaruhi kestabilan perusahaan yang dipimpin oleh Howard. Continue reading Review: Collateral Beauty (2016)

The 16th Annual Online Film Critics Society Awards Nominations List

OFCS-2Film teranyar karya Paul Thomas Anderson, The Master, memimpin daftar perolehan nominasi dalam The 16th Annual Online Film Critics Society Awards dengan raihan total sebanyak delapan nominasi. The Master dinominasikan pada ketegori Best Picture, Best Director (Anderson), Best Actor (Joaquin Phoenix), Best Supporting Actor (Philip Seymour Hoffman), Best Supporting Actress (Amy Adams), Best Original Screenplay, Best Editing dan Best Cinematography. Film lain yang akan memperebutkan gelar Best Picture adalah Argo, Holy Motors, Moonrise Kingdom dan Zero Dark Thirty. Keempat sutradara yang filmnya masuk nominasi Best Picture tersebut juga berhasil meraih nominasi Best Director dan bersaing bersama Anderson.

Continue reading The 16th Annual Online Film Critics Society Awards Nominations List

Review: Bachelorette (2012)

Terima kasih kepada kesuksesan Bridesmaids (2011), film-film komedi Hollywood kini tidak lagi ragu untuk menempatkan karakter wanitanya untuk melakukan hal-hal yang paling menjijikkan sekalipun. Pun begitu, Bachelorette bukanlah Bridesmaids – atau The Hangover (2009), seperti persepsi yang ingin dibentuk oleh tim pemasaran film ini. Tentu, ada beberapa momen dalam Bachelorette yang menampilkan deretan bahasa maupun adegan yang dapat digambarkan sebagai tampilan yang vulgar. Namun secara keseluruhan, tidak ada yang terlalu istimewa dalam Bachelorette ketika naskah cerita film ini lebih memilih untuk menghadirkan berbagai formula standar komedi Hollywood daripada berusaha untuk melanggarnya, seperti yang pernah dilakukan oleh Bridesmaids atau The Hangover.

Continue reading Review: Bachelorette (2012)