Review: Hillbilly Elegy (2020)

Nama J. D. Vance serta judul memoar yang ditulisnya, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis, yang bercerita tentang masa kecilnya memang tidak begitu familiar di telinga orang-orang di luar negara Amerika Serikat. Namun, ketika dirilis pada tahun 2016 lalu – berdekatan dengan masa pemilihan presiden di Amerika Serikat, buku garapan Vance mendapatkan banyak sorotan akan pengisahannya mengenai kaum hillbilly yang dikenal sebagai sekelompok masyarakat Amerika Serikat berkulit putih yang sering dinilai konservatif serta memiliki watak dan perangai keseharian yang keras. Banyak pihak yang menilai penggambaran yang dilakukan Vance tentang kaum hillbilly dalam memoar yang ditulisnya dihadirkan secara dangkal. Terlepas dari berbagai sorotan dan kontroversi, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis berhasil meraih sukses secara komersial, menjadi salah satu buku dengan penjualan terbaik di tahun 2016 dan 2017, mempopulerkan nama Vance, dan, tentu saja, dilirik oleh Hollywood untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar.

Dengan naskah cerita yang dikerjakan oleh Vanessa Taylor (The Shape of Water, 2017), memoar garapan Vance dikemas menjadi sebuah kisah tentang bagaimana seorang anak yang terlahir dari lingkungan keras dan “terbelakang” kemudian berhasil menjadi sosok yang berpendidikan dan maju. Selama masa kecilnya, J. D. Vance (Owen Asztalos) dan kakaknya, Lindsay Vance (Haley Bennett), tinggal bersama sang ibu, Beverly Vance (Amy Adams), yang seringkali terjebak dalam berbagai masalah dalam hidupnya – mulai dari masalah pekerjaan, romansa, hingga menjadi seorang pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang. Perangai ibunya jelas mendapatkan pengaruh dari lingkungan hidupnya di wilayah Middletown, Ohio, Amerika Serikat yang memang berlatar belakang sebagai tempat tinggal orang-orang dengan tingkat pendidikan yang rendah. Hubungan Beverly Vance dengan sang ibu, Bonnie Vance (Glenn Close), juga memberikan andil tersendiri. Bonnie Vance kerap memberikan sikap yang tegas dan keras dalam menunjukkan kasih sayangnya kepada anak-anaknya.

Cukup mudah untuk melihat berbagai hal yang mendasari kritikan yang datang akan kisah tentang kemiskinan yang disajikan Vance dalam bukunya melalui presentasi cerita Hillbilly Elegy. Film ini memang menyentuh masalah mengenai kondisi sebuah wlayah dimana kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan telah menjadi suatu budaya yang mendarah daging pada tiap generasinya. Namun, daripada berusaha mengupas permasalahan tersebut – atau, setidaknya, memberikan gambaran kilasan akan kondisi tersebut, Hillbilly Elegy lebih memilih untuk menghadirkannya lewat kisah melodrama keluarga yang seringkali terasa monoton. Naskah cerita dari Taylor membuka kisah bagaimana sosok karakter Bonnie Vance telah hamil dan memiliki anak pertamanya di usia 13 tahun serta bagaimana karakter Beverly Vance yang awalnya memiliki prestasi yang menjanjikan di masa sekolahnya justru berakhir dengan kegagalan demi kegagalan akibat kehamilan di masa mudanya. Konflik yang kemudian terbangun antara tiga generasi keluarga Vance, sayangnya, kemudian lebih sering dihadirkan dalam bentuk teriakan maupun amarah dari masing-masing anggota keluarga tersebut daripada menggarapnya menjadi sebuah pengisahan yang utuh.

Pengarahan yang diberikan oleh sutradara Ron Howard (Solo: A Star Wars Story, 2018) sendiri sebenarnya tidak terlalu buruk. Pilihan untuk menghadirkan kisah kehidupan dari karakter J. D. Vance dalam dua linimasa penceritaan – adegan yang bertumpu pada konflik yang terbangun pada masa sekarang dengan kilas balik akan kejadian yang relevan di masa lalu – terbukti cukup efektif dalam memberikan galian kisah yang mendalam. Sayang, kemonotonan kisah yang ditawarkan Hillbilly Elegy sering membuatnya tampil layaknya sebuah drama recehan yang lebih mementingkan momentum demi momentum daripada garapan kisah yang lebih mengikat secara emosional. Tema from zero to hero yang terbentuk dari perjalanan karir karakter J. D. Vance juga sering terkesampingkan akibat penggalian karakternya yang cenderung tenggelam jika dibandingkan dengan sosok karakter Bonnie Vance maupun Beverly Vance.

Howard, tentu saja, beruntung memiliki Adams maupun Close yang mengisi departemen akting filmnya. Meski kapabilitas akting mereka lebih sering dihabiskan untuk sajian perseteruan antara karakter ibu dengan anaknya – yang melibatkan banyak adegan teriakan, cacian, dan makian, Adams serta Close setidaknya mampu memberikan penjiwaan yang kuat bagi karakter yang mereka perankan. Close, khususnya, berhasil menghadirkan dua kepribadian yang keras namun begitu lembut sekaligus penyayang bagi diri karakter Bonnie Vance. Close dengan lugas menyajikan barisan emosi yang dirasakan karakternya lewat air muka yang mampu berkata banyak meskipun tanpa adanya kehadiran dialog yang menyertai. Penampilan Bennett, Gabriel Basso – yang memerankan sosok J. D. Vance dewasa, Aszlatos, dan Freida Pinto memang tidak berkontibusi banyak berkat minimalisnya penggalian cerita yang dihadirkan pada karakter-karakter yang mereka perankan. Meskipun begitu, terlepas dari berbagai masalah yang dapat dirasakan hadir dalam penuturan Hillbilly Elegy, departemen akting film ini jelas merupakan salah satu elemen yang mampu dieksekusi tanpa permasalahan yang berarti.

Hillbilly Elegy (2020)

Directed by Ron Howard Produced by Brian Grazer, Ron Howard, Karen Lunder Written by Vanessa Taylor (screenplay), J. D. Vance (book, Hillbilly Elegy: A Memoir of a Family and Culture in Crisis) Starring Amy Adams, Glenn Close, Gabriel Basso, Haley Bennett, Freida Pinto, Bo Hopkins, Owen Asztalos Music by Hans Zimmer, David Fleming Cinematography Maryse Alberti Edited by James D. Wilcox Production company Imagine Entertainment Running time 115 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Hillbilly Elegy (2020)”

Leave a Reply