Review: Ammonite (2020)

Selepas kesuksesannya dalam mengarahkan God’s Own Country (2017) yang menandai debut pengarahan film layar lebarnya, Francis Lee kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk Ammonite. Dengan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri, Ammonite memiliki latar belakang waktu pengisahan pada tahun 1840an dan bertutur tentang sekelumit konflik dalam kehidupan pakar peneliti fosil kenamaan asal Inggris, Mary Anning (Kate Winslet). Di era dimana kaum perempuan masih sering dianggap sebagai warga kelas dua, kepopuleran nama Mary Anning sebagai seorang paleontologis tidak memberikan banyak dukungan pada kondisi keuangannya. Hal ini yang lantas menyebabkan Mary Anning tidak mampu menolak tawaran dari seorang ahli geologi yang juga pengagum dirinya, Roderick Murchison (James McArdle), untuk menjaga sang istri, Charlotte Murchison (Saoirse Ronan), dengan imbalan yang menggiurkan selama dirinya bertugas untuk beberapa minggu. Awalnya, Mary Anning menganggap kehadiran Charlotte Murchison akan menggaggu keseharian kerjanya. Namun, secara perlahan, kedua wanita yang berasal dari dua dunia yang berbeda tersebut mulai menemukan perhatian yang selama ini belum pernah mereka rasakan.

Di sejumlah sisi pengisahannya, Ammonite masih memiliki struktur pengisahan yang serupa dengan film arahan Lee sebelumnya. Selain sama-sama memiliki latar belakang pengisahan di lokasi serta waktu dimana jalinan romansa yang diceritakan merupakan sebuah bentuk hubungan yang tabu atau bahkan terlarang, seperti halnya God’s Own Country, Ammonite juga menampilkan cerita tentang pertemuan antara dua sosok karakter dengan latar belakang kehidupan yang berbeda namun kemudian membentuk keterikatan yang lantas mengubah jalan hidup keduanya. Kisah pertemuan sekaligus romansa yang sebenarnya begitu sederhana. Lee juga sepertinya tidak berusaha (baca: ingin) menjadikan kisah tersebut hadir dengan dramatisasi yang berlebihan guna menghadirkan nuansa melodrama yang lebih kental. Ammonite, terlepas dari bentuk romansa yang terjalin antara dua karakter utamanya, lantas tumbuh menjadi sebuah kisah cinta yang universal dan dapat dengan mudah membentuk ikatan emosional pada penontonnya.

Lee juga membiarkan cerita filmnya untuk mengalun secara perlahan. Minim konflik sekaligus dialog, Lee membangun Ammonite dengan tatapan yang terbentuk antara karakter-karakter filmnya, gestur tubuh yang mereka peragakan, serta banyak momen senyap yang ternyata mampu berbicara dengan lantang berkat kehandalan Lee untuk menciptakan momen-momen intim dalam pengisahan film. Keheningan yang terbentuk dalam hubungan yang terjalin antara karakter juga begitu terasa ketika Lee membenturkannya dengan kegaduhan yang ditimbulkan oleh suasana ombak laut yang begitu mendominasi di banyak adegan. Mudah untuk membandingkan Ammonite dengan Portrait of a Lady on Fire arahan Céline Sciamma yang dirilis tahun lalu dan memiliki tema pengisahan serta pola eksekusi cerita yang senada. Tetap saja, kehandalan Lee berhasil menghantarkan Ammonite untuk meninggalkan jejak khas pengisahannya tersendiri.

Pilihan Lee untuk menempatkan Winslet dan Ronan di garda terdepan departemen akting filmnya jelas juga menjadi kunci bagi kesuksesan penceritaan Ammonite. Merupakan dua aktris dengan talenta terbaik dari generasinya masing-masing, Winslet dan Ronan menghadirkan chemistry yang mampu terpancar kuat guna menghidupkan gejolak emosi yang dirasakan oleh dua karakter yang mereka perankan. Ammonite mengawali kisahnya secara perlahan dan dingin. Namun, ketika karakter Mary Anning dan Charlotte Murchison yang diperankan oleh Winslet dan Ronan mulai berinteraksi, Ammonite dengan segera menemukan ritme cerita terbaiknya. Winslet, khususnya, berhasil menjadikan karakter Mary Anning begitu menghipnotis dalam banyak momen senyapnya. Jelas merupakan penampilan terbaik Winslet dalam beberapa tahun terakhir.

Departemen akting Ammonite juga diperkuat oleh penampilan Gemma Jones dan Alec Secăreanu – yang sebelumnya juga memperkuat departemen akting God’s Own Country – serta penampilan singkat namun begitu mencuri perhatian dari Fiona Shaw. Sebagai sebuah film yang memiliki latar belakang waktu pengisahan di masa lampau, Lee juga dapat mengemas filmnya untuk tampil dengan atmosfer Inggris di masa lalu yang sangat meyakinkan – mulai dari tata busana, tata rias dan rambut, hingga desain produksi. Ammonite jelas bukanlah sebuah langkah penyutradaraan yang terlampau jauh bagi Lee. Namun, sentuhan pengisahannya yang begitu humanis mampu memberikan jiwa sekaligus nyawa bagi cerita yang dihadirkannya. Dan Ammonite sekali lagi membuktikan hal tersebut.

 

Ammonite (2020)

Directed by Francis Lee Produced by Iain Canning, Emile Sherman, Fodhla Cronin O’Reilly Written by Francis Lee Starring Kate Winslet, Saoirse Ronan, Gemma Jones, James McArdle, Alec Secăreanu, Fiona Shaw, Claire Rushbrook Music by Dustin O’Halloran, Volker Bertelmann Cinematography Stéphane Fontaine Edited by Chris Wyatt Production companies BBC Films/British Film Institute/See-Saw Films/Cross City Films Running time 120 minutes Country United Kingdom, Australia Language English

2 thoughts on “Review: Ammonite (2020)”

Leave a Reply