Review: Happiest Season (2020)

Empat tahun setelah merilis The Intervention (2016) yang menjadi debut pengarahan film layar lebarnya, aktris sekaligus penulis naskah Clea DuVall kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan Happiest Season, sebuah drama komedi romansa yang naskah ceritanya ia tulis bersama dengan aktris Mary Holland – yang turut ambil bagian mengisi departemen akting film ini. Para penikmat film-film sejenis mungkin tidak akan menemukan sebuah struktur pengisahan yang bernilai baru maupun istimewa yang ditawarkan DuVall dalam filmnya. Meskipun begitu, olahan cerita dari DuVall dan Holland tentang usaha untuk mencintai jati diri sendiri agar dapat menghadirkan ruang yang tepat bagi rasa cinta yang dimiliki untuk orang lain (All hail, RuPaul!) menjadi bahasan yang cukup menawan dan emosional.

Berlatar belakang masa liburan Natal, Happiest Season berkisah tentang hubungan romansa yang terjalin antara Abigail Holland (Kristen Stewart) dan Harper Caldwell (Mackenzie Davis). Tidak ingin meninggalkan kekasihnya sendirian di saat Natal, Harper Caldwell lantas mengajak Abigail Holland untuk turut bersama dirinya menghabiskan masa liburan Natal di rumah orangtuanya. Sebenarnya, mempertemukan Abigail Holland dengan kedua orangtuanya, Ted Caldwell (Victor Garber) dan Tipper Caldwell (Mary Steenburgen), bukanlah sebuah hal yang harus ditanggapi secara serius… jika saja Harper Caldwell sejak lama memberitahukan orangtua dan keluarganya bahwa ia memiliki kekasih seorang wanita. Tidak ingin menghadirkan kericuhan di saat liburan bersama keluarganya, atas persetujuan sang kekasih, Harper Caldwell kemudian mengenalkan Abigail Holland sebagai sahabatnya. Seperti yang dapat diduga, kerikil-kerikil kecil akibat usaha Harper Caldwell untuk menyembunyikan jati dirinya secara perlahan membentuk masalah besar yang mulai mengancam hubungan asmaranya dengan Abigail Holland.

Happiest Season tidak hanya bertutur tentang berbagai rintangan yang dihadapi oleh pasangan karakter Abigail Holland dan Harper Caldwell ketika harus menyembunyikan hubungan asmara mereka di hadapan kedua orangtua Harper Caldwell. Dalam perjalanannya, Happiest Season juga memaparkan plot cerita tentang hubungan yang merenggang antara orangtua dengan anak-anaknya akibat sikap perfeksionis yang selalu ditonjolkan dan dipaksakan oleh sang orangtua, persaingan antara saudara, kisah tentang hubungan dari masa lalu yang kembali datang untuk menghantui, hingga kelebatan tentang berbagai intrik di dunia politik – sebuah inspirasi yang mungkin didapat DuVall dan Holland selama mereka berperan di serial televisi Veep (2012 – 2019). Dengan pengelolaan cerita yang tepat, deretan plot sampingan tersebut dapat saja menjadikan Happiest Season tampil lebih perkasa dalam bercerita. Sayang, tidak satupun dari kisah pendukung tadi dapat dikembangkan dengan seksama yang kemudian justru merusak fokus yang seharusnya dapat diberikan pada kisah perjalanan hubungan asmara antara kedua karakter utama.

Selain pengelolaan cerita yang kurang matang, Happiest Season mendapatkan kendala dari gaya pengarahan DuVall yang tidak terlalu handal dalam memberikan keseimbangan presentasi yang memuaskan akan unsur drama, komedi, dan romansa dari alur pengisahan filmnya. Penuturan Happiest Season memang tidak pernah terasa menjemukan namun film ini juga tidak pernah benar-benar mampu untuk memberikan keterikatan emosional yang mendalam akan berbagai konflik yang disajikan. Momen terbaik film ini muncul justru di paruh akhir cerita ketika karakter John (Dan Levy) menyampaikan monolog tentang bagaimana setiap orang memiliki jalur kehidupan masing-masing yang harus mereka tempuh sebelum mereka dapat berkata jujur tentang dirinya kepada orang-orang yang mereka sayangi. Sebuah monolog yang kuat, menyentuh, dan seharusnya mendapatkan pengembangan ruang cerita yang lebih luas semenjak awal.

Beruntung, DuVall memiliki barisan pengisi departemen akting seperti Stewart dan Davis yang selalu lugas dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Karakter Harper Caldwell yang diperankan Davis memang sering terasa egois dan dangkal di banyak bagian cerita. Penampilan Davis yang membumi-lah yang menjadikan kehadiran karakter tersebut masih terus dapat diterima keberadaannya. Penampilan Stewart yang terlihat begitu rileks serta terasa hangat dan menyenangkan membuat karakter Abigail Holland begitu mudah untuk disukai. Faktor ini pula yang kemudian mendorong kisah persahabatannya dengan karakter Riley Bennett (yang diperankan oleh Aubrey Plaza dan begitu mencuri perhatian di setiap adegan) tampil menjadi lebih menonjol – sekaligus memberikan harapan untuk tumbuhnya sebuah jalinan hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan antara keduanya. Levy dan Steenburgen juga mampu memberikan tambahan bumbu komedi yang kuat dalam setiap dialog yang mereka sampaikan.

Happiest Season bukanlah sebuah presentasi yang buruk. Namun, pilihan DuVall dan Holland untuk membebani alur penceritaan film dengan banyak konflik yang lantas tidak mampu dikembangkan dan ditangani dengan baik justru membuat Happiest Season kehilangan kemampuannya untuk mengeluarkan potensi terkuatnya. Masih menghibur, masih terasa segar, namun jelas tidak akan dapat meninggalkan kesan yang lebih mendalam.

Happiest Season (2020)

Directed by Clea DuVall Produced by Isaac Klausner, Marty Bowen Written by Clea DuVall, Mary Holland (screenplay), Clea DuVall (story) Starring Kristen Stewart, Mackenzie Davis, Alison Brie, Aubrey Plaza, Dan Levy, Mary Holland, Victor Garber, Mary Steenburgen, Ana Gasteyer, Jake McDorman, Burl Moseley, Sarayu Blue, Timothy Simons, Lauren Lapkus, Carla Gallo, Michelle Buteau, Jinkx Monsoon, BenDeLaCreme Music by Amie Doherty Cinematography John Guleserian Edited by Melissa Bretherton Production companies TriStar Pictures/Entertainment One/Temple Hill Entertainment/TriStar Productions Running time 102 minutes Country United States Language English

Leave a Reply