Review: The Lion King (2019)


In the jungle, the mighty jungle, the lion sleeps tonight.”

Setelah Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017), Dumbo (Tim Burton, 2019), dan Aladdin (Guy Ritchie, 2019), Walt Disney Pictures melanjutkan “pembaharuan” terhadap deretan film animasi klasik yang dahulu telah diproduksi dan membangun reputasinya dengan merilis versi teranyar dari The Lion King. Selain lagu The Lion Sleeps Tonight atau Can You Feel the Love Tonight atau Circle of Life yang berasal dari adegan-adegan di dalam filmnya dan telah begitu melegenda, film animasi The Lion King (Roger Allers, Rob Minkoff, 1994) memiliki catatan prestasi spesial tersendiri jika dibandingkan beberapa film animasi klasik produksi Walt Disney Pictures lainnya. Selain tercatat berhasil meraih empat nominasi – dan memenangkan dua diantaranya – di ajang The 67th Annual Academy Awards, The Lion King juga mampu meraih sukses besar di saat perilisannya. Selain mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, The Lion King juga berhasil mampu menarik minat banyak penikmat film yang lantas kemudian menjadikannya sebagai salah satu film animasi tersukses sepanjang masa secara global. Tidak dapat disangkal, The Lion King adalah salah satu film animasi yang paling dikenal dan begitu disukai oleh banyak orang – yang membuat ekspektasi terhadap versi baru dari filmnya jelas membumbung tinggi.

Untuk menjawab ekspektasi tersebut, Walt Disney Pictures lantas menempatkan Favreau – yang sebelumnya sukses mengarahkan The Jungle Book yang memiliki kemiripan narasi dan visual dengan The Lion King – di kursi penyutradaraan. Meski naskah cerita terbaru kini berada dalam penanganan Jeff Nathanson (Pirates of the Caribbean: Salazar’s Revenge, 2017), jalan cerita The Lion King versi teranyar tidak memiliki begitu banyak perbedaan dengan versi pendahulunya. Setelah kematian sang ayah, Mufasa (James Earl Jones), yang juga merupakan raja dari Pride Lands, Simba (Donald Glover) meninggalkan kerajaan tempat ia dilahirkan dan kemudian memilih untuk hidup bebas bersama dengan dua sahabat barunya, Pumbaa (Seth Rogen) dan Timon (Billy Eichner). Ketiadaan Simba – yang seharusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai raja dari Pride Lands – lantas dimanfaatkan oleh pamannya, Scar (Chiwetel Ejiofor) untuk berkuasa dengan sewenang-wenang. Tidak hingga sahabat kecilnya, Nala (Beyoncé Knowles-Carter), datang menemui dan menceritakan bagaimana kondisi Pride Lands, Simba akhirnya sadar bahwa kehadirannya sangat diperlukan oleh kerajaan yang dahulu begitu dicintai dan dibanggakannya.

Well… di tahun 2019 jelas bukan hal yang mengejutkan lagi untuk melihat rumah produksi seraksasa Walt Disney Pictures untuk menghasilkan tampilan visual kehidupan hewan liar dan lingkungan hidupnya dengan kesan yang begitu nyata. Dibekali dengan kemutakhiran teknologi animasi komputer dan efek visual teranyar serta tata sinematografi arahan Caleb Deschanel, The Lion King mampu menyajikan tatanan visual yang akan membuat para penontonnya terbuai dan serasa menyaksikan sebuah sajian dokumenter tentang konflik politik para satwa liar. Favreau sendiri tidak lantas menghadirkan versi buat ulang dari The Lion King yang persis sama pada tiap adegan dengan film pendahulunya. Namun, ketika Favreau mengimplementasikan teknologi visual terbaru pada sejumlah adegan ikonik dalam film animasi The Lion King, Favreau berhasil menampilkan kualitas yang tidak mengecewakan. Begitu indah dan membuai.

Sayangnya, mereka yang mengharapkan energi atau daya tarik magis dari pengisahan The Lion King untuk kembali dapat dirasakan dalam film teranyarnya jelas akan pulang dengan tangan hampa. Kisah klasik The Lion King yang kembali dikemukakan pada versi teranyarnya – dengan beberapa perubahan minor pada beberapa karakter dan konflik – memang masih mampu tampil menarik dan tidak terasa menua dimakan oleh perjalanan waktu. Meski visualnya mudah untuk memikat mata, pengarahan yang diberikan Favreau terasa berjalan datar dan dingin. Harus diakui, kesalahan paling fatal yang dilakukan pada versi teranyar dari The Lion King adalah memilih untuk menggunakan vokal dari jajaran aktor dan aktris dengan nama besar namun dengan kemampuan yang cukup lemah untuk menghidupkan sesosok karakter melalui vokal mereka. Hal ini yang lantas mendorong tidak ada satupun karakter yang mampu tampil menarik ketika konflik utama dari film sedang bergulir. Barisan vokal yang hadir untuk mengisi karakter-karakter ikonik Simba, Mufasa, Nala, hingga Scar tampil datar dan jauh dari kesan ekspresif. Membosankan.

Versi teranyar dari The Lion King baru mendapatkan detak kehidupannya ketika karakter Pumbaa dan Timon dihadirkan di linimasa pengisahan. Penampilan kedua karakter tersebut jelas dimaksudkan untuk memberikan suntikan energi komedi pada jalan cerita The Lion King. Vokal kuat dari Rogen dan Eichner serta chemistry persahabatan yang begitu hangat antara keduanya membuat dua karakter pendukung yang mereka coba hidupkan justru menjadi karakter vital dalam pengisahan The Lion King. Rogen dan Eichner berhasil membuat karakter Pumbaa dan Timon menjadi begitu mudah untuk disukai sekaligus tampila mencuri perhatian berkat barisan dialog jenaka yang sukses dieksekusi oleh keduanya. Selain dari kesuksesan minor tersebut, The Lion King mungkin akan berguna sebagai pengingat bagi Walt Disney Pictures bahwa melakukan pembaharuan bagi sebuah kisah klasik tidak hanya membutuhkan penampilan visual yang lebih modern namun juga semangat dan hati yang sama yang dahulu membuat kisah klasik tersebut dahulu begitu popular dan dicintai. [D]

the-lion-king-2019-movie-posterThe Lion King (2019)

Directed by Jon Favreau Produced by Jon Favreau, Jeffrey Silver, Karen Gilchrist Screenplay by Jeff Nathanson (screenplay), Brenda Chapman (story), Irene Mecchi, Jonathan Roberts, Linda Woolverton (original screenplay, The Lion King) Starring Donald Glover, Seth Rogen, Chiwetel Ejiofor, Alfre Woodard, Billy Eichner, John Kani, John Oliver, Beyoncé Knowles-Carter, James Earl Jones, JD McCrary, Shahadi Wright Joseph, Florence Kasumba, Keegan-Michael Key, Eric Andre, Penny Johnson Jerald, Amy Sedaris, Chance Bennett, Josh McCrary, Phil LaMarr, J. Lee Music by Hans Zimmer Cinematography Caleb Deschanel Edited by Mark Livolsi, Adam Gerstel Production company Walt Disney Pictures/Fairview Entertainment Running time 118 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s