Tag Archives: Keegan Michael Key

Review: Get Out (2017)

Dikenal sebagai separuh nyawa dari duo komedian Key & Peele yang, bersama dengan Keegan-Michael Key, memiliki serial televisi berjudul sama yang pernah memenangkan Emmy Awards, Jordan Peele melakukan debut pengarahan film layar lebarnya lewat Get Out. Namun, berbeda dengan Key & Peele atau imej komedian yang selama ini melekat pada dirinya, Get Out adalah sebuah thriller mencekam yang menjanjikan momen-momen menegangkan bagi para penontonnya. Jika ingin dilirik dari susunan materi yang ingin disampaikan, Get Out sebenarnya tidak menawarkan sebuah formula yang benar-benar baru dalam pengisahannya. Meskipun begitu, Peele secara berani menyelipkan isu sosial mengenai pandangan ras masyarakat Amerika Serikat ke dalam naskah cerita yang ia susun. Ditambah dengan kecerdasannya dalam mengarahkan sekaligus menjaga intensitas cerita, Peele berhasil menyajikan sebuah thriller yang efektif sekaligus akan cukup sanggup menjadi refleksi sosial bagi mereka yang menyaksikan. Continue reading Review: Get Out (2017)

Advertisements

Review: Pitch Perfect 2 (2015)

pitch-perfect-2-posterKetika Pitch Perfect dirilis pada tahun 2012 lalu, banyak pendapat sinis yang memandang bahwa film musikal arahan Jason Moore tersebut diproduksi guna memanfaatkan kepopuleran serial televisi musikal Glee yang memang sedang menanjak saat itu. Secara perlahan tapi pasti, Pitch Perfect berhasil meraih kepopulerannya sendiri: film dengan biaya produksi sebesar US$17 juta tersebut kemudian mampu mengumpulkan pendapatan sebesar US$115 juta di sepanjang masa rilisnya, menjual lebih dari satu juta keping album soundtrack-nya di seluruh dunia sekaligus menjadikan salah satu lagu pengisi dalam film tersebut, Cups (“When I’m Gone”) yang dinyanyikan Anna Kendrick, sebagai salah satu lagu terpopuler pada tahun tersebut. Dan, tentu saja, karena Hollywood akan terus berusaha mengeruk keuntungan dari setiap hasil produksi mereka yang berhasil mencuri perhatian penikmat film dunia, sekuel Pitch Perfect lantas segera disetujui pembuatannya.

Beberapa perubahan terjadi dalam Pitch Perfect 2. Elizabeth Banks yang dahulu hanya bertindak sebagai salah satu pemeran dan produser dalam Pitch Perfect kini menggantikan posisi Jason Moore untuk duduk di kursi penyutradaraan – sekaligus melakukan debut pengarahan film layar lebarnya. Bujet produksi juga mengalami penambahan hingga sebesar US$29 juta dengan jajaran pemeran yang kini juga menyertakan peraih nominasi Oscar, Hailee Steinfeld. Sayangnya, mereka yang mengharapkan adanya perubahan atau setidaknya pergerakan dalam jalan cerita Pitch Perfect 2 sepertinya akan merasakan kekecewaan yang cukup mendalam. Masih ditangani oleh penulis naskahnya terdahulu, Kay Cannon, Pitch Perfect 2 terkesan hanyalah menawarkan reka ulang dari jalan cerita serialnya terdahulu namun dengan kehangatan penceritaan yang cukup jauh berkurang.

Jalan cerita Pitch Perfect 2 sendiri mengambil latar belakang waktu penceritaan empat tahun semenjak film pertamanya. The Barden Bellas kini telah menjadi kelompok penyanyi akapela wanita yang popular di Amerika Serikat dan bahkan diundang oleh pemerintah negara tersebut untuk tampil dalam perayaan ulang tahun Presiden Barack Obama. Sial, dalam penampilan mereka, Fat Amy (Rebel Wilson) mengalami sebuah insiden yang cukup memalukan sekaligus melukai reputasi kelompok tersebut. Karena kejadian tersebut, The Barden Bellas kemudian dilarang untuk melanjutkan tur keliling Amerika Serikat mereka dan bahkan terancam untuk dibubarkan keberadaannya oleh kampus mereka. Satu-satunya kesempatan mereka untuk memperbaiki kembali reputasi mereka adalah dengan mengikuti turnamen akapela tingkat dunia… yang di sepanjang sejarah pelaksanaannya tidak pernah dimenangkan oleh tim peserta asal Amerika Serikat.

Salah satu faktor yang membuat naskah cerita Pitch Perfect 2 gagal untuk tampil semenarik pendahulunya adalah film ini tidak memiliki karakter sentral untuk memegang perhatian penonton. Jika Pitch Perfect dihadirkan dalam sudut pandang karakter Beca Mitchell yang diperankan oleh Anna Kendrick, maka Pitch Perfect 2 menghadirkan sudut pandang yang netral dengan memberikan setiap karakter kesempatan untuk disajikan kisahnya masing-masing. Sebuah langkah yang cukup menarik sebenarnya namun dengan penggalian yang tidak begitu mendalam, Pitch Perfect 2 terasa hadir sebagai kepingan-kepingan cerita yang tidak begitu mampu untuk saling berpadu antara satu dengan yang lain. Kehadiran karakter baru Emily Junk yang diperankan oleh Hailee Steinfeld juga tidak banyak membantu ketika karakter tersebut hanya ditempatkan sebagai karakter pendukung yang seringkali ditempatkan di bagian belakang penceritaan film. Begitu pula dengan beberapa konflik yang disajikan gagal untuk tampil lebih mengikat akibat pengisahannya yang cukup terbatas.

Cukup sulit untuk menilai kemampuan pengarahan Elizabeth Banks dalam film ini. Di satu sisi, Banks terkesan hanyalah mengikuti pola penceritaan yang telah ditetapkan oleh seri pendahulu Pitch Perfect 2 tanpa pernah mampu menghadirkan sentuhan khas yang setidaknya membuat keberadaannya di kursi penyutradaraan memberikan sesuatu yang berbeda dari pengarahan Jason Moore. Namun, di sisi lainnya, naskah cerita Pitch Perfect 2 juga memang tidak memberikan ruang khusus yang mampu memberikan kesempatan bagi Banks untuk bersinar. Setidaknya Banks berhasil menampilkan bahwa dirinya dapat menyajikan penceritaan filmnya dengan nada penceritaan yang tepat. Pitch Perfect 2 hadir dengan tempo sederhana yang cukup sesuai dengan alur penceritaan yang memang mereka tawarkan pada penonton.

Lemah pada beberapa bagian penceritaannya, Pitch Perfect 2 tetap mampu tampil memikat ketika menghadirkan presentasi musikalnya di dalam jalan cerita film. Meskipun lagu-lagu yang disajikan kini tidak sekuat daftar lagu-lagu dalam seri terdahulu, namun penampilan yang dinamis dari setiap pemeran dalam setiap lagu yang hadir dalam Pitch Perfect 2 menjadikan momen-momen musikal dalam film ini sebagai momen-momen paling bersinar dan memuaskan di sepanjang 115 menit durasi penceritaannya. Dan mungkin memang tampilan musikal dari Pitch Perfect 2 yang seharusnya menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin menikmati film ini. Jika diibaratkan sebagai sebuah lagu, Pitch Perfect 2 adalah sebuah cover version yang diproduksi dengan tampilan lebih megah namun sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi para pendengarnya kecuali momen-momen sentimental yang pernah mereka dapatkan ketika mendengarkan lagu tersebut dahulu untuk pertama kali. [C]

Pitch Perfect 2 (2015)

Directed by Elizabeth Banks Produced by Elizabeth Banks, Paul Brooks, Kay Cannon, Max Handelman, Jeff Levine, Jason Moore Written by Kay Cannon (screenplay), Kay Cannon (characters), Mickey Rapkin (bookPitch Perfect: The Quest for Collegiate A Cappella Glory) Starring Anna Kendrick, Rebel Wilson, Brittany Snow, Ester Dean, Alexis Knapp, Hana Mae Lee, Kelley Jakle, Shelley Regner, Hailee Steinfeld, Chrissie Fit, Skylar Astin, Adam DeVine, Ben Platt, Anna Camp, Flula Borg, Birgitte Hjort Sørensen, Katey Sagal, Keegan-Michael Key, Elizabeth Banks, John Michael Higgins, David Cross, Reggie Watts, John Hodgman, Jason Jones, Joe Lo Truglio, Kether Donahue, C.J. Perry, Robin Roberts, Shawn Carter Peterson, Snoop Dogg, Clay Matthews, David Bakhtiari, Don Barclay, Josh Sitton, T.J. Lang, Jordan Rodgers, Blake Shelton, Christina Aguilera, Pharrell Williams, Adam Levine, Pentatonix, Penn Masala, The Filharmonic Music by Mark Mothersbaugh, The Underdogs Cinematography Jim Denault Editing by Craig Alpert Studio Gold Circle Films Running time 115 minutes Country United States Language English

Review: Tomorrowland (2015)

tomorrowland-posterLayaknya Mission to Mars (Brian De Palma, 2000), Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (Gore Verbinski, 2003) dan The Haunted Mansion (Rob Minkoff, 2003), Tomorrowland adalah sebuah film yang dikembangkan berdasarkan taman bermain yang dimiliki oleh The Walt Disney Company. Namun, dengan pengarahan yang diberikan oleh Brad Bird (Mission: Impossible – Ghost Protocol, 2011) atas naskah cerita yang digarapnya bersama dengan Damon Lindelof (Prometheus, 2012), Tomorrowland jelas memiliki banyak hal yang ingin disajikan selain untuk menghibur para penontonnya. Benar saja. Bird dan Lindelof mengembangkan Tomorrowland dengan berbagai ide besar tentang kondisi dunia dan umat manusia modern sekaligus menyajikannya dengan tampilan futuristik yang benar-benar mewah. Ide-ide besar Bird dan Lindelof tersebut, sayangnya, tidak selalu mampu diterjemahkan dalam penceritaan yang lancar. Namun, bahkan di momen-momen terlemahnya, Tomorrowland akan tetap mampu menghasilkan rasa kagum atas penggarapan keseluruhannya yang benar-benar apik.

Jalan cerita Tomorrowland sendiri berkisah tentang dua orang jenius yang berasal dari dua era dan kepribadian yang berbeda, seorang pria paruh baya bernama Frank Walker (George Clooney) yang hidup dengan kesinisannya dalam memandang masa depan dunia serta seorang remaja bernama Casey Newton (Britt Robertson) yang selalu optimis bahwa dunia dapat diubah menjadi sebuah tempat tinggal yang lebih baik terlepas dari berbagai kekurangannya. Keduanya lantas dipertemukan oleh seorang gadis misterius bernama Athena (Raffey Cassidy) yang berniat untuk mempersatukan kecerdasan yang dimiliki keduanya untuk melakukan sebuah misi rahasia yang dapat mencegah kehancuran dunia. Meskipun awalnya skeptis dengan apa yang disampaikan Athena, Frank dan Casey akhirnya mampu mengesampingkan perbedaan mereka dan akhirnya saling bekerjasama dalam menjalankan misi tersebut.

Terdengar sebagai sebuah plot film petualangan bernuansa fiksi ilmiah yang begitu generik? Jangan khawatir. Lebih sedikit yang Anda ketahui tentang apa yang akan disajikan Bird dan Lindelof dalam Tomorrowland, lebih besar kemungkinan Anda akan merasa kagum akan pencapaian yang diberikan keduanya untuk film ini. Jalan cerita Tomorrowland sendiri sepertinya begitu diinspirasi oleh sebuah legenda kaum Indian Cherokee tentang pertarungan antara dua ekor serigala – satu ekor serigala yang hidup dengan pesimisme, amarah, ego dan penderitaan serta seekor serigala lainnya yang hidup dengan optimisme, cinta, damai dan pengharapan. Bird dan Lindelof kemudian membangun Tomorrowland sebagai sebuah persembahan kepada sang serigala yang hidup dengan segala optimisme-nya. Tomorrowland lantas dikemas sebagai sebuah film yang cerdas, penuh dengan ironi tentang permasalahan kehidupan sosial modern – dan terasa berusaha untuk memberikan sugesti bahwa segala permasalahan tersebut dapat diatasi jika manusia mau melakukannya – namun disampaikan dengan jelas dan, tentu saja, kehangatan khas film-film keluarga buatan Walt Disney Pictures.

Hasrat pencapaian tinggi dalam penceritaan Bird dan Lindelof sendiri tidak lantas berjalan dengan sangat lancar. Adalah sangat jelas terasa pada beberapa bagian film Bird terlihat kebingungan untuk mengembangkan dengan seksama ide-ide besar yang diemban naskah ceritanya. Hal inilah yang membuat Tomorrowland sempat beberapa kali terasa gagal untuk berpadu antara beberapa adegannya – dan begitu dapat dirasakan pada paruh kedua serta awal paruh ketiga film. Kehadiran karakter antagonis yang tidak benar-benar antagonis juga sepertinya membuat Tomorrowland terkesan kekurangan amunisi penceritaannya. Dengan tatanan kisah yang berisi sebuah pembahasan futuristik yang kompleks dan eksekusi yang begitu modern adalah cukup mengherankan jika kemudian Bird dan Lindelof memilih untuk menghadirkan sosok antagonis yang well… terlalu lembut karakteristiknya. Mungkin keduanya berniat untuk tetap menjaga Tomorrowland sebagai sebuah sajian yang dapat disaksikan seluruh keluarga namun kehadiran beberapa adegan kekerasan dalam jalan cerita film ini jelas berkata bahwa Bird memang meniatkan filmnya menjadi sebuah film fiksi ilmiah dengan bumbu petualangan dan aksi yang cukup tegas.

Terlepas dari beberapa kelemahannya, Tomorrowland tetap mampu membuktikan bahwa Bird merupakan salah seorang sutradara tercerdas yang dimiliki oleh Hollywood saat ini. Pengarahannya terhadap jalan cerita berjalan cukup efektif. Begitu pula dengan visi yang ia miliki tentang tema futuristik yang dibawakan Tomorrowland. Bird mampu merangkai desain produksi yang benar-benar mengagumkan yang akan sanggup membuat para penontonnya merasa seperti anak-anak yang baru pertama kali menyaksikan hal-hal berbau masa depan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Sinematografer Life of Pi (Ang Lee, 2012) memberikan kontribusi yang luar biasa atas visi Bird futuristik tersebut. Deretan gambar-gambar indah Miranda dalam Tomorrowland adalah salah satu alasan mengapa film ini mampu tampil begitu spektakuler. Rangkaian tata musik arahan Michael Giacchino juga bekerja dengan baik dalam mengisi setiap adegan dengan energi yang mengalir kuat dan emosional.

Tidak lupa, Tomorrowland juga didukung oleh penampilan apik para pengisi departemen aktingnya. Ketiga pemeran utamanya, George Clooney, Britt Robertson dan Raffey Cassidy mampu tampil dengan tanpa cela dalam menghidupkan karakter-karakter yang mereka perankan. Clooney adalah salah seorang aktor paling berbakat pada generasinya namun catatan khusus jelas layak disematkan pada Robertson dan Cassidy. Robertson mampu membawa energi tersendiri pada setiap kehadirannya dalam setiap adegan. Seperti halnya Shailene Woodley yang mendampingi Clooney dalam The Descendants (Alexander Payne, 2011), Robertson kemungkinan besar akan menjadi aktris muda dengan karir yang besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Cassidy sendiri berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya. Chemistry-nya dengan Clooney juga begitu erat dan mampu memberikan hantaman emosional yang cukup mendalam pada salah satu adegan di akhir film. Kualitas departemen akting yang solid untuk mendukung sebuah film yang tidak sempurna namun sangat cerdas untuk mampu memprovokasi jalan pemikiran setiap penontonnya dengan apa yang disajikan dalam jalan ceritanya. And these days, that’s definitely something worth cheering about. [B]

Tomorrowland (2015)

Directed by Brad Bird Produced by Brad Bird, Damon Lindelof, Jeffrey Chernov Written by Damon Lindelof, Brad Bird (screenplay), Damon Lindelof, Brad Bird, Jeff Jensen (story) Starring George Clooney, Hugh Laurie, Britt Robertson, Raffey Cassidy, Tim McGraw, Kathryn Hahn, Keegan-Michael Key, Chris Baur, Pierce Gagnon, Matthew Maccaull, Judy Greer, Garry Chalk, Thomas Robinson Music by Michael Giacchino Cinematography Claudio Miranda Editing by Walter Murch Studio Walt Disney Pictures Running time 130 minutes Country United States Language English

Review: The LEGO Movie (2014)

The LEGO Movie (Warner Bros. Pictures/Village Roadshow Pictures/LEGO Systems A/S/Vertigo Entertainment/Lin Pictures/Animal Logic/RatPac-Dune Entertainment/Warner Animation Group, 2014)
The LEGO Movie (Warner Bros. Pictures/Village Roadshow Pictures/LEGO Systems A/S/Vertigo Entertainment/Lin Pictures/Animal Logic/RatPac-Dune Entertainment/Warner Animation Group, 2014)

Setelah seri film Dungeons & Dragons (2000 – 2011), Transformers (2007 – 2011), G.I. Joe (2009 – 2013) dan Battleship (2012), Hollywood kembali mencoba peruntungannya dalam memproduksi film yang diangkat dari sebuah permainan melalui The LEGO Movie. The LEGO Movie sendiri bukanlah film pertama yang jalan ceritanya didasarkan atas permainan susun bangun yang terbuat dari plastik tersebut. Sebelumnya, LEGO telah menginspirasi sejumlah film animasi yang kebanyakan langsung dirilis dalam bentuk DVD maupun ditayangkan melalui media televisi – menjadikan The LEGO Movie sebagai film LEGO pertama yang dirilis di layar lebar. Untungnya, dibawah arahan duo Phil Lord dan Chris Miller (Cloudy with a Chance of Meatballs, 2009), The LEGO Movie mampu dikembangkan menjadi sebuah film yang tidak hanya tampil kuat dalam kualitas visualnya, namun juga hadir dengan kualitas naskah yang begitu hangat dan menghibur.

Continue reading Review: The LEGO Movie (2014)

Review: Wanderlust (2012)

Disutradarai oleh David Wain yang sebelumnya sukses mengarahkan Wet Hot American Summer (2001) dan Role Models (2008), Wanderlust berkisah mengenai pasangan muda, George (Paul Rudd) dan Linda (Jennifer Aniston), yang memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen kecil – namun dengan harga yang sangat mahal – di kota New York, Amerika Serikat. George sendiri sedang bersiap untuk sebuah promosi jabatan di perusahaan tempat ia bekerja sementara Linda akan merintis karirnya sebagai seorang pembuat film dengan menjual sebuah film dokumenter yang ia buat ke HBO. Sayangnya, hanya dalam hitungan waktu yang singkat, mimpi George dan Linda hilang begitu saja. George kehilangan pekerjaannya sementara film dokumenter yang diproduksi Linda ditolak mentah-mentah oleh pihak HBO. George dan Linda harus segera keluar dari apartemen mewah mereka sekaligus pindah dari kota New York.

Continue reading Review: Wanderlust (2012)