Tag Archives: Phil LaMarr

Review: The Lion King (2019)

In the jungle, the mighty jungle, the lion sleeps tonight.”

Setelah Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017), Dumbo (Tim Burton, 2019), dan Aladdin (Guy Ritchie, 2019), Walt Disney Pictures melanjutkan “pembaharuan” terhadap deretan film animasi klasik yang dahulu telah diproduksi dan membangun reputasinya dengan merilis versi teranyar dari The Lion King. Selain lagu The Lion Sleeps Tonight atau Can You Feel the Love Tonight atau Circle of Life yang berasal dari adegan-adegan di dalam filmnya dan telah begitu melegenda, film animasi The Lion King (Roger Allers, Rob Minkoff, 1994) memiliki catatan prestasi spesial tersendiri jika dibandingkan beberapa film animasi klasik produksi Walt Disney Pictures lainnya. Selain tercatat berhasil meraih empat nominasi – dan memenangkan dua diantaranya – di ajang The 67th Annual Academy Awards, The Lion King juga mampu meraih sukses besar di saat perilisannya. Selain mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, The Lion King juga berhasil mampu menarik minat banyak penikmat film yang lantas kemudian menjadikannya sebagai salah satu film animasi tersukses sepanjang masa secara global. Tidak dapat disangkal, The Lion King adalah salah satu film animasi yang paling dikenal dan begitu disukai oleh banyak orang – yang membuat ekspektasi terhadap versi baru dari filmnya jelas membumbung tinggi. Continue reading Review: The Lion King (2019)

Review: Incredibles 2 (2018)

Walau telah memproduksi film-film bertema pahlawan super semenjak lama namun ketika Pixar Animation Sudios merilis The Incredibles (Brad Bird, 2004), Hollywood jelas masih belum berada pada fase akan kegemarannya merilis film-film bertema pahlawan super tersebut di sepanjang tahun: Marvel Studios baru memulai perjalanan Marvel Cinematic Universe mereka dengan Iron Man arahan Jon Favreau pada tahun 2008 dan DC Entertainment mengawali perjalanan The Dark Knight Trilogy arahan Christopher Nolan dengan merilis Batman Begins di tahun 2005 – seri film DC Extended Universe mereka bahkan baru benar-benar resmi dimulai pada tahun 2013 dengan perilisan Man of Steel arahan Zack Snyder. Dengan tema yang berkisah mengenai petualangan sebuah keluarga yang masing-masing anggotanya memiliki kemampuan super, The Incredibles mampu mencuri hati banyak penikmat sekaligus kritikus film, menghasilkan pendapatan sebesar US$633 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia, serta memenangkan kategori Best Animated Feature dan Best Sound Editing di ajang The 77th Annual Academy Awards. Continue reading Review: Incredibles 2 (2018)

Review: Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (2011)

Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (Kanbar Entertainment/Kanbar Animation/Arc Productions, 2011)
Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (Kanbar Entertainment/Kanbar Animation/Arc Productions, 2011)

Ada dua alasan mengapa Anne Hathaway memilih untuk meninggalkan peran untuk mengisisuarakan karakter utama, Red Puckett, dalam sekuel film animasi Hoodwinked! (2006). Alasan pertama jelas karena nama Hathaway yang telah demikian melambung semenjak ia mengisisuarakan film animasi berkualitas medioker ini – dan Hathaway tentu kini lebih memilih untuk terlibat dalam film animasi yang lebih berkelas seperti Rio (2011). Alasan kedua… wellHoodwinked! memiliki kualitas yang medioker, mulai dari kualitas presentasi visual maupun pengolahan naskah ceritanya. Kualitas tersebut juga masih begitu terasa pada Hoodwinked Too! Hood vs. Evil. Meskipun telah didorong dengan perbaikan tingkat kualitas pada sisi visualnya, namun naskah cerita Hoodwinked Too! Hood vs. Evil tetap gagal untuk menjadikan film animasi ini mampu memiliki eleman kuat untuk menarik perhatian para penontonnya.

Continue reading Review: Hoodwinked Too! Hood vs. Evil (2011)