Review: Roh (2019)

Malaysia menghadirkan citarasa horor yang berbeda lewat Roh – sebuah film yang menjadi debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara Emir Ezwan. Berbeda dengan rekan-rekan sepantarannya yang seringkali hadir dengan nuansa horor yang meledak-ledak – mulai dari lampiran adegan-adegan penghasil kejutan, tata suara dan musik yang cenderung berisik, hingga plot bernada relijius yang cukup kental – Roh tampil… well… minimalis. Ezwan sepertinya mendapatkan inspirasi dari film-film horor modern seperti The VVitch (Robert Eggers, 2015), The Wailing (Na Hong-jin, 2016), atau Hereditary (Ari Aster, 2018) yang memang lebih mengedepankan atmosfer kelam daripada berusaha memberikan kejutan demi kejutan dalam tiap adegan kepada penontonnya. Didukung oleh kemampuan pengarahan Ezwan yang begitu dominan, Roh menjelma menjadi sajian horor yang efektif dalam menghantui setiap mata yang memandangnya.

Berdasarkan naskah cerita yang juga digarap oleh Ezwan, Roh berkisah tentang dua orang bersaudara, Along (Mhia Farhana) dan Angah (Harith Haziq), yang tinggal bersama dengan ibunya (Farah Ahmad) di pedalaman hutan. Hidup ketiganya tidak lagi sama semenjak rumah kediaman mereka didatangi oleh seorang anak perempuan misterius (Putri Qaseh) yang diduga merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari desa dan tersesat hingga ke dalam hutan. Deretan kejadian aneh bernuansa mistis, sebuah penyakit yang kemudian menjangkiti Along, serta kedatangan seorang pria asing (Namron) dan seorang perempuan tua yang menyebut dirinya sebagai Tok (June Lojong) membuat hidup Along, Angah, dan ibunya kini berada dalam ketakutan. Sebuah kekuatan misterius seolah sedang mengawasi dan bersiap untuk menjebak ketiganya.

Mereka yang telah familiar dengan ritme pengisahan film-film horor independen modern jelas telah cukup dapat memahami bagaimana pergerakan cerita yang ditawarkan Ezwan dalam Roh. Secara perlahan membuka lapisan cerita, karakter, maupun konflik yang nantinya akan mengarah ke pengungkapan jawaban misteri pada paruh akhir film, Roh mengalir secara perlahan dalam menanamkan kengerian yang ingin dihantarkannya. Struktur ceritanya sendiri sebenarnya cukup sederhana. Namun, Ezwan secara cerdas memberikan tata pengarahan yang apik untuk membuat cerita yang sederhana tersebut tampil padat. Tata produksi film, mulai dari tata sinematografi, riasan dan busana, komposisi warna, hingga tata gambar, juga dibentuk secara berkelas dalam menghasilkan kesan yang mendorong Roh untuk berada dalam kategori yang berbeda dengan film-film horor buatan Malaysia lainnya.

Dengan durasi pengisahan sepanjang 83 menit, Roh, sayangnya, masih menyimpan beberapa momen hampa dalam penyampaian kisahnya. Hal ini khususnya terasa pada paruh pertengahan film ketika Ezwan hanya memberikan sejumlah konflik atau plot cerita pengisi waktu sebelum filmnya mencapai klimaks cerita di paruh berikutnya. Linimasa cerita yang hanya diisi oleh enam karakter juga tidak begitu mampu diolah dengan seksama ketika sejumlah karakter yang sebenarnya bernilai krusial gagal untuk diberikan galian karakter yang lebih mendalam. Dinamika emosional antara karakter – khususnya antara karakter Along, Angah, dan ibunya – seringkali terpendam sehingga tidak mampu tersampaikan secara lugas. Usaha Ezwan untuk menghadirkan tema kisah bernafas keagamaan secara subtil dengan rangkaian simbolisme yang diselipkan di berbagai ruang adegan juga sering terasa membingungkan akibat penyampaian yang cenderung kurang matang.

Terlepas dari sejumlah kelemahan pada pengolahan cerita, Roh mendapatkan penilaian solid bagi kualitas penampilan jajaran pengisi departemen aktingnya. Farhana, Haziq, dan Ahmad hadir meyakinkan sebagai satu keluarga yang sedang dirundung ketakutan dan kepanikan dengan penampilan Ahmad begitu mencuri perhatian sebagai sosok ibu yang terus berupaya untuk tetap tangguh untuk menyelamatkan kedua anaknya. Qaseh, Namron, dan Lojong juga memberikan warna tersendiri kepada departemen akting film dengan menghidupkan sosok-sosok peran misterius (dan menakutkan) bagi karakter mereka. Kualitas penampilan departemen akting yang sangat membantu Roh untuk terus hadir dengan lapisan atmosfer keseraman yang begitu mencengkeram.

 

Roh (2019)

Directed by Emir Ezwan Produced by Shizreen Saleh, Elise Shick Written by Emir Ezwan (screenplay), Nazri M. Annuar, Emir Ezwan, Amir Hafizi (story) Starring Farah Ahmad, Mhia Farhana, Harith Haziq, June Lojong, Namron, Putri Qaseh Music by Reinchez Ng Cinematography Saifuddin Musa Edited by Safwan Salleh Production companies Kuman Pictures Running time 83 minutes Country Malaysia Language Malay

Leave a Reply