Tag Archives: Malaysian Cinema

Review: Munafik 2 (2018)

Selain karena memang telah direncanakan untuk hadir sebagai sebuah pengisahan trilogi, kesuksesan besar yang diraih Munafik ketika dirilis pada awal tahun 2016 yang lalu jelas menjadi alasan kuat lain mengapa sekuelnya kemudian diproduksi dan dirilis ke layar bioskop. Dengan pendapatan sebesar RM17.04 juta dari masa edarnya di Malaysia, film yang menjadi film kesembilan sekaligus film horor kedua yang diarahkan oleh Syamsul Yusof ini berhasil tercatat sebagai menjadi film dengan raihan komersial terbesar di negeri jiran pada tahun rilisnya. Kesuksesan komersial tersebut juga dilengkapi dengan kesuksesan secara kritikal ketika Munafik mampu meraih sembilan nominasi dan memenangkan lima diantaranya – termasuk kategori Pengarah Terbaik dan Penyunting Terbaik yang keduanya dimenangkan oleh Yusof – dari ajang penghargaan film tertinggi di Malaysia, Festival Filem Malaysia ke-28. Munafik 2 – yang telah dirilis di Malaysia sejak akhir Agustus lalu dan berhasil menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa dengan raihan sebanyak RM40 juta – masih menyajikan kisah horor dengan balutan nuansa Islami yang kental dengan kembali mengikuti perjalanan hidup dari sang karakter utama, Ustadz Adam (Yusof), yang bekerja sebagai pendakwah sekaligus pengusir setan.  Continue reading Review: Munafik 2 (2018)

Advertisements

Review: Dukun (2018)

Jangan merasa heran jika melihat penampilan Bront Palarae atau Chew Kin Wah yang jauh lebih muda daripada penampilan mereka di Pengabdi Setan (Joko Anwar, 2017) atau Susah Sinyal (Ernest Prakasa, 2017) ketika Anda menyaksikan Dukun. Film thriller arahan Dain Iskandar Said (Interchange, 2016) tersebut sebenarnya telah menyelesaikan masa produksinya lebih dari satu dekade lalu dan sempat dijadwalkan rilis pada Desember 2006. Namun, akibat pengaruh situasi sosial dan politik yang kurang mendukung – jalan cerita Dukun didasari pada peristiwa nyata mengenai terbunuhnya seorang politikus ternama Malaysia pada tahun 1993 dan memiliki pengisahan yang kental dengan nuansa magis – film yang seharusnya menjadi debut pengarahan Said tersebut baru dapat ditayangkan di negara asalnya pada April yang lalu. Walau 12 tahun telah berlalu namun kualitas Dukun sebagai sebuah thriller, untungnya, tetap mampu bertahan dengan cukup baik. Pengarahan Said yang apik ditambah dengan penampilan para pengisi departemen akting yang meyakinkan menjadikan Dukun berhasil hadir dengan banyak momen mencekam. Continue reading Review: Dukun (2018)

Review: Interchange (2016)

Interchange adalah film terbaru arahan sutradara asal Malaysia, Dain Iskandar Said, setelah sebelumnya mengarahkan Bunohan: Return to Murder (2012) yang sukses terpilih mewakili Malaysia untuk berkompetisi pada kategori Best Foreign Language Film di ajang The 85th Annual Academy Awards. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Said bersama dengan June Tan, Nandita Solomon dan Redza Minhat, Interchange berkisah mengenai serangkaian pembunuhan sadis yang terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia. Detektif Man (Shaheizy Sam) yang bertugas untuk menangani kasus tersebut lantas meminta bantuan temannya, Adam (Iedil Putra), yang merupakan mantan fotografer kepolisian di bidang forensik. Adam sebenarnya berniat untuk menolak permintaan Man karena merasa trauma berhubungan dengan deretan mayat korban kejahatan yang harus dihadapi dalam pekerjaannya terdahulu. Namun, perkenalannya dengan seorang wanita misterius, Iva (Prisia Nasution), justru mendorong Adam semakin dalam menyelami misteri kasus pembunuhan berantai tersebut. Sebuah kasus yang berhubungan dengan kisah supranatural yang telah berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Continue reading Review: Interchange (2016)

Review: Gerimis Mengundang (2012)

Bagi masyarakat Indonesia, Gerimis Mengundang akan selamanya terdengar familiar sebagai sebuah judul lagu dari kelompok musik asal Malaysia bernama Slam yang pernah populer ketika dirilis pada sekitar tahun 1996. Ingin mengadaptasi kepopuleran luar biasa lagu tersebut, produser film asal negara Malaysia, Datuk Md. Afendi Hj. Hamdan, lalu membuat sebuah pentas teater musikal yang menggunakan judul lagu tersebut dan dibintangi oleh duet pasangan aktor dan aktris yang berasal dari dua negara, Kamal Adli yang berasal dari Malaysia serta Mikha Tambayong yang berasal dari Indonesia. Pementasan tersebut ternyata mendapat respon positif dari media dan masyarakat Malaysia… yang kemudian semakin membuka kesempatan untuk sebuah bentuk adaptasi kisah lainnya.

Continue reading Review: Gerimis Mengundang (2012)