Review: The Boys in the Band (2020)

Mereka yang menyaksikan film The Boys in the Band versi teranyar rilisan Netflix jelas dapat merasakan bagaimana banyak bagian dari alur cerita film ini terasa cukup usang jika dibandingkan dengan film-film bertema serupa yang dirilis pada beberapa tahun terakhir. Mengulik seputar kehidupan kaum homoseksual di kota New York, Amerika Serikat, The Boys in the Band mendasarkan kisahnya pada sebuah drama panggung berjudul sama garapan Mart Crowley yang ditampilkan untuk pertama kali pada tahun 1968 – suatu era dimana kaum homoseksual masih belum diterima keberadaannya oleh khalayak luas di Amerika Serikat. Dengan tema cerita yang saat itu masih dinilai kontroversial dan belum banyak diangkat untuk konsumsi publik luas, drama panggung The Boys in the Band ternyata mampu menarik banyak perhatian sekaligus mencetak sukses besar selama masa pementasannya. Hollywood lantas mencoba untuk menterjemahkan kesuksesan tersebut melalui sebuah adaptasi film layar lebar yang diarahkan William Friedkin yang dirilis pada tahun 1970.

Di tahun 2018, tepat 50 tahun semenjak pementasan perdananya, produser Ryan Murphy kembali membawa penampilan The Boys in the Band ke atas panggung dengan arahan dari sutradara Joe Mantello dan barisan pemeran yang seluruhnya berasal dari kalangan homoseksual. Juga meraih sukses, Murphy lantas memproduksi adaptasi film kedua bagi The Boys in the Band dengan memboyong seluruh kru dan pemeran drama panggung The Boys in the Band garapannya. Dengan naskah cerita yang digarap bersama oleh Crowley dengan Ned Martel, The Boys in the Band masih mempertahankan hampir seluruh garis besar pengisahan sekaligus citarasa dari penyajian drama panggungnya. Meskipun begitu, Mantello turut menghadirkan sejumlah sentuhan teknis yang membuat kehadiran The Boys in the Band menjadi lebih berkesan sinematis.

Jalan cerita The Boys in the Band dimulai ketika Michael (Jim Parsons) bersama dengan kekasih, Donald (Matt Bomer), dan para sahabatnya, Larry (Andrew Rannells), Emory (Robin de Jesús), Bernard (Michael Benjamin Washington), dan Hank (Tuc Watkins) berkumpul di apartemennya untuk merayakan ulang tahun Harold (Zachary Quinto). Perayaan yang seharusnya berjalan akrab dan meriah tersebut mulai terasa berantakan setelah Michael menerima telepon dari salah seorang rekan kuliahnya, Alan McCarthy (Brian Hutchison), yang mengatakan bahwa ia akan berkunjung ke apartemen milik Michael. Bukannya Michael tidak senang menerima kedatangan Alan McCarthy. Namun, acara pesta yang ia laksanakan bersama teman-teman homoseksualnya tentu bukanlah sebuah acara yang tepat untuk dikunjungi Alan McCarthy yang merupakan seorang heteroseksual. Benar saja. Alan McCarthy mulai menunjukkan sikap homofobik-nya setelah berkenalan dengan teman-teman Michael. Kepanikan Michael semakin menjadi ketika Harold tidak kunjung datang ke acara ulang tahunnya sendiri.

Dengan alur cerita yang sepenuhnya berfokus pada interaksi yang tercipta antara barisan karakter yang hadir dalam linimasa pengisahan film, The Boys in the Band jelas membutuhkan goresan cerita serta dialog yang benar-benar cerdas sekaligus tajam. Beruntung, Crowley dan Martel berhasil memberikan asahan yang sangat baik, menghadirkan potongan-potongan kisah bernuansa emosional yang merefleksikan cinta, kemarahan, kekecewaan, rasa bersalah, hingga ketidakamanan yang dirasakan setiap karakter dari karakter lain atau lingkungan sekitar mereka. Tiap karakter juga dihadirkan dengan garapan konflik yang cukup utuh sehingga kehadiran masing-masing karakter mampu memberikan warna kepribadian tersendiri bagi jalan cerita film. Komposisi nada drama dan komedi dalam ritme pengisahan film ini juga berbaur secara merata yang membuat The Boys in the Band terhindar dari rasa jenuh.

Pengarahan Mantello terhadap drama panggung dari The Boys in the Band jelas memberikan andil yang besar pada pengaturan ritme pengisahan film ini. Teknik pengisahan Mantello untuk versi film dari The Boys in the Band memang tidak terlalu berbeda dengan pakem yang telah diterapkan pada drama panggungnya. Tata kamera dan sinematografi dengan patuh mengikuti ruang gerak tiap karakter dan tata gambar juga secara lihai mengontrol berbagai sudut pandang yang akan membuat setiap penonton tetap memberikan perhatian mereka pada setiap sosok karakter yang dialog atau kisahnya sedang menjadi fokus sebuah adegan. Mantello juga menciptakan beberapa reka ulang adegan dari masa lalu untuk para karakternya dengan apik. Adegan-adegan ini tergarap dengan baik dan memberikan kesan sinematis yang kuat bagi presentasi cerita The Boys in the Band.

Arahan Mantello juga mendapatkan dukungan solid dari penampilan jajaran pengisi departemen akting filmnya. Berada di garda terdepan, Parsons menghadirkan penampilan yang begitu memikat sebagai sosok homoseksual yang begitu tidak menyukai keadaan dirinya sehingga ia merefleksikan rasa ketidaksukaannya tersebut pada orang-orang yang berada di lingkungannya. Penampilan kuat lainnya datang dari Quinto yang mampu mendampingi sekaligus menandingi penampilan Parsons dan menghasilkan dinamika akting yang memuaskan antara keduanya. Kekuatan film yang terletak pada pengelolaan konflik dan karakter memang menjadi kunci kesuksesan The Boys in the Band dalam bercerita. Kisahnya memang berpusat pada sosok karakter dan lingkungan dimana kehidupan para homoseksual masih tabu untuk dibicarakan. Namun, dengan garapan yang apik, The Boys in the Band masih sangat mampu untuk menjadi refleksi yang kuat serta seringkali menyentuh tentang struktur kehidupan sosial saat ini – bahkan bagi mereka yang bukan merupakan anggota komunitas tersebut.

 

The Boys in the Band (2020)

Directed by Joe Mantello Produced by Ryan Murphy, David Stone, Joe Mantello, Ned Martel, Alexis Martin Woodall Written by Mart Crowley, Ned Martel (screenplay), Mart Crowley (play, The Boys in the Band) Starring Jim Parsons, Zachary Quinto, Matt Bomer, Andrew Rannells, Charlie Carver, Robin de Jesús, Brian Hutchison, Michael Benjamin Washington, Tuc Watkins Cinematography Bill Pope Edited by Adriaan van Zyl Production company Ryan Murphy Productions Running time 122 minutes Country United States Language English

Leave a Reply