Review: True Mothers (2020)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Mizuki Tsujimura, film terbaru arahan sutradara asal Jepang, Naomi Kawase (Vision, 2018), ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang karena kondisi dan keadaannya kemudian menjadi sosok seorang ibu. True Mothers dimulai dengan kisah pasangan Satoko (Hiromi Nagasaku) dan Kiyokazu Kurihara (Arata Iura) yang setelah sekian tahun menikah namun masih belum mampu untuk memiliki anak. Keduanya lantas memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Dengan bantuan sebuah agensi adopsi yang dipimpin oleh Shizue Asami (Miyoko Asada), pasangan tersebut dipertemukan dengan Hikari Katakura (Aju Makita), seorang remaja berusia 14 tahun yang memutuskan untuk menyerahkan anak hasil kehamilannya untuk diadopsi. Proses adopsi tersebut berjalan lancar. Namun, enam tahun setelah mengadopsi anak yang diberi nama Asato Kurihara (Reo Sato) tersebut, Satoko menerima telepon dari Hikari Katakura yang menginginkan agar anaknya dikembalikan padanya.

Naskah cerita yang digarap Kawase bersama dengan Izumi Takahashi (Love and Murder of Sheep and Wolf, 2019) mendalami jalan cerita kedua karakter utamanya melalui tiga cabang pengisahan. Setelah berkisah tentang kehidupan pasangan Kiyokazu dan Satoko Kurihara bersama dengan putera yang mereka adopsi di saat sekarang, True Mothers berbalik arah dan bertutur tentang kehidupan pasangan tersebut sebelum memutuskan untuk mengadopsi seorang anak, serta dilanjutkan dengan bercerita tentang kehidupan dari karakter Hikari Katakura sebagai seorang remaja yang sedang terlibat asmara dan harus menanggung akibatnya. Sebelum linimasa pengisahan kedua karakter tersebut kemudian bertemu di satu titik cerita, garapan narasi yang diberikan Kawase bagi True Mothers terasa seperti dua kisah yang tidak berhubungan dan berdiri masing-masing.

Dengan dua garis besar pengisahan yang berbeda – satu berkisah tentang kehidupan rumah tangga dan satunya berkisah seputar romansa remaja yang akan mengingatkan banyak penonton pada Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019) – banyak momen dalam film ini yang membuat kedua kisah tersebut terasa membayangi satu dengan yang lain. Hal ini masih ditambah dengan usaha Kawase untuk memperluas dan menggali penggambaran sosok ibu dari karakter-karakter perempuannya: karakter Satoko adalah sosok ibu bagi anak yang diadopsinya; meskipun melepas anak yang ia lahirkan untuk diadopsi, karakter Hikari Katakura tumbuh dewasa serta kemudian seolah menjadi sosok ibu bagi sahabatnya yang bermasalah; kemudian masih ada sekelumit kisah tentang karakter Shizue Asami yang membangun agensi adopsi karena ketidakmampuannya untuk memiliki anak. Meskipun penuh dengan lapisan cerita, True Mothers memang bukanlah sebuah film yang berkesan pelik maupun kompleks. Namun, tetap saja, penggalian kisah yang dilakukan Kawase terhadap konflik-konflik tersebut jelas menyita cukup banyak durasi pengisahan.

Beruntung, meskipun berkesan lamban dengan durasi pengisahan yang berjalan selama 140 menit, True Mothers tidak pernah terasa membosankan. Narasi yang dibangun Kawase untuk filmnya dapat menjalin ikatan emosional yang cukup efektif. Kawase juga memanfaatkan pengalamannya dalam mengarahkan sejumlah film dokumenter untuk membentuk sejumlah bagian kisah dalam film ini untuk dapat hadir dengan kesan otentik. Kualitas produksi film juga hadir dalam kapasitas yang memuaskan. Tata sinematografi hasil arahan Kawase bersama dengan Naoki Sakakibara dan Yûta Tsukinaga berhasil menjaga atmosfer kehangatan cerita meskipun pada momen terkelamnya sekalipun. Iringan musik yang dihasilkan komposer Akira Kosemura dan An Ton That memang tidak selalu tampil menonjol. Namun, musik garapan keduanya selalu dapat diandalkan pada momen-momen paling krusial dalam linimasa penceritaan True Mothers.

Film ini mungkin akan tampil dengan kualitas narasi yang jauh lebih kuat seandainya Kawase dan Takahashi dapat memberikan balutan kisah yang lebih padat. Meskipun begitu, keberhasilan Kawase untuk mendapatkan penampilan terbaik dari setiap pengisi departemen akting filmnya jelas telah memberikan dorongan tersendiri bagi kualitas kelas penceritaan True Mothers. Setiap sosok karakter yang hadir dalam pengisahan film ini dapat dihidupkan dengan kesan nyata dan humanis. Nagasaku dan Makita yang masing-masing berperan sebagai Satoko dan Hikari Katakura memegang peran yang jelas kuat untuk menjaga kestabilan ritme emosional dalam penyampaian kisah. Namun, Makita memberikan penampilan yang akan meninggalkan kesan sangat mendalam pada setiap mata yang mengikuti cerita dari karakter yang ia perankan. Penampilannya bersahaja, tidak pernah terasa berlebihan, tetapi mampu meraih jangkauan sentuhan emosional yang mendalam.

True Mothers screened as part of The 61st Thessaloniki International Film Festival.

 

True Mothers (2020)

Directed by Naomi Kawase Produced by Yumiko Takebe Written by Naomi Kawase, Izumi Takahashi (screenplay), Mizuki Tsujimura (novel, Asa ga Kuru) Starring Hiromi Nagasaku, Arata Iura, Aju Makita, Miyoko Asada, Reo Satō, Taketo Tanaka, Hiroko Nakajima, Tetsu Hirahara, Ren Komai, Rio Yamashita, Kokoro Morita, Masami Horiuchi, Hiroshi Yamamoto, Msaki Miura, Shōko Ikezu, Ryuya Wakaba, Munetaka Aoki, Gō Rijū Music by Akira Kosemura, An Ton That Cinematography Naomi Kawase, Naoki Sakakibara, Yûta Tsukinaga Edited by Tina Baz, Yôichi Shibuya Production company Kazumo/Kino Films/Kinoshita Group/Kumie Running time 140 minutes Country Japan Language Japanese

Leave a Reply