Review: Papillon (2018)


Jika judul film ini terdengar cukup familiar bagi Anda… well… hal itu mungkin disebabkan karena sebagian naskah cerita film ini diadaptasi dari buku otobiografi popular berjudul Papillon (1969) yang ditulis oleh Henri Charrière berdasarkan kisah nyata usahanya untuk melarikan diri dari penjara yang dikelola oleh pemerintah Perancis yang berlangsung selama lebih dari 14 tahun. Sebelumnya, pengalaman fantastis Charrière tersebut juga pernah difilmkan oleh Franklin J. Schaffner dengan judul Papillon. Dibintangi oleh Steve McQueen dan Dustin Hoffman, Papillon berhasil mendapatkan pujian luas dari para kritikus film dunia, sebuah nominasi di kategori Best Music, Original Dramatic Score untuk tata musik ikonik garapan Jerry Goldsmith pada ajang The 46th Annual Academy Awards, serta kesuksesan komersial yang luar biasa ketika dirilis pada tahun 1973. Rentetan keberhasilan tersebut kini coba dirangkai ulang oleh sutradara asal Denmark, Michael Noer (Northwest, 2013), dengan memberikan interpretasi baru bagi pengalaman hidup Charrière.

Juga mengadaptasi otobiografi kedua Charrière berjudul Banco (1973) yang berkisah mengenai kehidupannya setelah berhasil melarikan diri dari penjara, versi terbaru dari Papillon dimulai ketika Henri Charrière atau yang lebih dikenal dengan sebutan Papillon (Charlie Hunnam) dipenjara oleh pihak kepolisian Perancis atas tuduhan pembunuhan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Papillon bersama dengan ratusan narapidana kelas berat lainnya kemudian dipindahkan lokasi penahanannya ke sebuah pulau buangan di wilayah Guyana Perancis yang dikenal dengan sebutan Devil’s Island. Sadar bahwa dirinya akan menjalani masa penahanan yang mungkin akan berlangsung seumur hidupnya, Papillon kemudian mendekati seorang milyuner bernama Louis Dega (Rami Malek) yang juga sedang dipenjara akibat kasus penipuan yang dilakukannya. Hubungan tersebut awalnya terjalin bagaikan sebuah kerjasama bisnis: Louis Dega memberikan bantuan finansial bagi Papillon untuk menyuap para sipir sementara Papillon memberikan perlindungan dan keamanan bagi Louis Dega selama keduanya merencanakan proses pelarian diri mereka. Tanpa disangka, hubungan tersebut secara perlahan tumbuh menjadi sebuah persahabatan yang kemudian akan mempengaruhi kehidupan keduanya secara mendalam.

Naskah cerita garapan Aaron Guzikowski (Prisoners, 2013) yang masih mendapatkan pengaruh kental dari naskah cerita garapan Dalton Trumbo dan Lorenzo Semple Jr. dari film adaptasi Papillon sebelumnya harus diakui memang tidak menawarkan perubahan yang terlalu radikal dalam struktur pengisahannya. Kisahnya masih memberikan perhatian penuh pada perkembangan hubungan antara dua karakter utama sekaligus deretan taktik dan usaha keduanya dalam membebaskan diri mereka dari dalam penjara. Dengan durasi sepanjang 133 menit – hampir 30 menit lebih pendek dari Papillon rilisan sebelumnya – Papillon sayangnya masih terasa repetitif dalam pengolahan konflik-konfliknya akibat ketidakmampuan Guzikowski dalam memberikan pembaharuan kisah yang lebih kuat. Arahan Noer juga terasa setengah matang. Walau kualitas produksi film dapat didorong untuk memberikan sokongan pada intensitas penceritaan namun Papillon seringkali terasa tampil dalam ritme penceritaan yang kurang mampu terjaga dengan baik.

Kekuatan utama dari presentasi Papillon jelas berasal dari penampilan prima Hunnam dan Malek. Sebagai dua karakter yang digambarkan sebagai dua sosok yang awalnya hanya bekerjasama untuk dapat bertahan hidup namun kemudian berkembang menjadi dua sahabat yang tidak dapat melepaskan dirinya antara satu dengan yang lain, Hunnam dan Malek hadir dengan jalinan chemistry yang sangat meyakinkan. Kuatnya esensi persahabatan yang mampu ditampilkan Hunnam dan Malek itulah yang kemudian membuat banyak bagian pengisahan Papillon – bahkan pada momen-momen terlemahnya sekalipun – menjadi terasa bernyawa. Memang, jika ingin melihat dari pengembangan karakter sendiri, karakter Papillon yang diperankan Hunnam tampil lebih kuat dan mengesankan jika dibandingkan dengan karakter Louis Dega yang diperankan Malek. Tetap saja, penampilan apik Hunnam dan Malek berhasil menutupi kelemahan tersebut guna menjadikan kedua karakter mereka tampil mengikat.

Tidak banyak hal lain yang terlalu menonjol dalam presentasi Papillon. Dengan karakter-karakter pendukung yang tampil dengan pengisahan yang minimalis, tidak begitu banyak kesempatan bagi para pemeran pendukung untuk memberikan presentasi akting dalam kapasitas lebih. Tata sinematografi garapan Hagen Bogdanski serta tata musik karya David Buckley hadir dengan kualitas yang tidak mengecewakan walau jelas tidak akan meninggalkan kesan yang lebih mendalam bagi para penonton film. Secara keseluruhan, Papillon bukanlah sebuah presentasi yang buruk. Melewatkan kesempatan untuk tampil lebih baik atau bahkan menyamai raihan kualitas film pendahulunya namun setidaknya masih cukup layak untuk dinikmati. [C]

papillon-charlie-hunnam-movie-posterPapillon (2018)

Directed by Michael Noer Produced by Joey McFarland, David Koplan, Ram Bergman, Roger Corbi Written by Aaron Guzikowski (screenplay), Henri Charrière (book, Papillon and Banco), Dalton Trumbo, Lorenzo Semple Jr. (screenplay, Papillon (1973)) Starring Charlie Hunnam, Rami Malek, Roland Møller, Tommy Flanagan, Eve Hewson, Michael Socha, Ian Beattie, Yorick van Wageningen, Nikola Kent, Petar Cirica Music by David Buckley Cinematography Hagen Bogdanski Edited by John Axelrad, Lee Haugen Production company Czech Anglo Productions/Ram Bergman Productions/FishCorb Films Running time 133 minutes Country Malta, Montenegro, Serbia, United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s