Review: Incredibles 2 (2018)


Walau telah memproduksi film-film bertema pahlawan super semenjak lama namun ketika Pixar Animation Sudios merilis The Incredibles (Brad Bird, 2004), Hollywood jelas masih belum berada pada fase akan kegemarannya merilis film-film bertema pahlawan super tersebut di sepanjang tahun: Marvel Studios baru memulai perjalanan Marvel Cinematic Universe mereka dengan Iron Man arahan Jon Favreau pada tahun 2008 dan DC Entertainment mengawali perjalanan The Dark Knight Trilogy arahan Christopher Nolan dengan merilis Batman Begins di tahun 2005 – seri film DC Extended Universe mereka bahkan baru benar-benar resmi dimulai pada tahun 2013 dengan perilisan Man of Steel arahan Zack Snyder. Dengan tema yang berkisah mengenai petualangan sebuah keluarga yang masing-masing anggotanya memiliki kemampuan super, The Incredibles mampu mencuri hati banyak penikmat sekaligus kritikus film, menghasilkan pendapatan sebesar US$633 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia, serta memenangkan kategori Best Animated Feature dan Best Sound Editing di ajang The 77th Annual Academy Awards.

14 tahun setelah kesuksesan tersebut, Pixar Animation Studios merilis Incredibles 2 yang menjadi sekuel bagi The Incredibles – setahun lebih lama dari masa perilisan sekuel Finding Nemo (Andrew Stanton, 2003), Finding Dory (Stanton, 2016). Dengan Bird yang masih duduk di kursi penyutradaraan sekaligus bertanggungjawab untuk penulisan naskah cerita, Incredibles 2 memiliki latar belakang waktu pengisahan tiga bulan setelah deretan konflik yang dikisahkan pada The Incredibles. Keluarga Parr – Bob Parr/Mr. Incredible (Craig T. Nelson), Helen Parr/Elastigirl (Holly Hunter), Violet Parr (Sarah Vowell), dan Dashiell Parr (Huck Milner) – terus berjuang melawan tindak kejahatan di kota mereka secara diam-diam karena masih adanya larangan bagi para pahlawan super untuk beraksi dari pemerintah.

Suatu hari, Bob Parr, Helen Parr, beserta sahabat mereka, Lucius Best/Frozone (Samuel L. Jackson), mendapatkan tawaran dari Winston Deavor (Bob Odenkirk) yang merupakan seorang pemilik perusahaan komunikasi raksasa dan penggemar para pahlawan super untuk terlibat dalam sebuah kampanye agar pemerintah mau mendukung aksi para pahlawan super untuk membasmi kejahatan. Setuju untuk terlibat dalam kampanye tersebut, Winston Deavor lantas memilih Helen Parr/Elastigirl untuk mempromosikan kembali arti pentingnya kehadiran para pahlawan super di tengah-tengah masyarakat. Tugas tersebut jelas membuat Helen Parr/Elastigirl harus menjauh dari keluarganya dan menyerahkan urusan rumah tangga pada sang suami, Bob Parr/Mr. Incredible. Jelas bukan sebuah permasalahan yang gampang apalagi mengingat bahwa anak paling bungsu mereka, Jack Jack (Eli Fucile dan Nicholas Bird), adalah seorang bayi yang masih membutuhkan banyak perhatian.

Seperti halnya The Incredibles, Incredibles 2 masih berbicara mengenai pengasuhan anak. Namun, ketika The Incredibles mengisi konfliknya dengan kisah-kisah seperti krisis paruh baya, ikatan pernikahan yang mulai merenggang, atau fase dimana anak-anak mulai mencari jati diri maupun kekuatannya, Incredibles 2 memilih untuk mengembangkan konfliknya dengan melibatkan banyak karakter yang berasal dari luar karakter keluarga Parr. Pilihan tersebut, tentu saja, membuka peluang Bird untuk berbicara dalam cakupan yang lebih luas akan tema utama yang ingin ia sampaikan. Hasilnya, Bird mampu membahas berbagai isu seperti “Bapak rumah tangga,” ibu yang bekerja, kebijakan birokrasi pemerintah yang kerapkali terasa rumit, hingga sikap para politisi yang sering tidak berpihak pada masyarakat. Terdengar cukup rumit untuk disajikan pada sebuah film yang ditujukan bagi para penonton muda? Tenang saja. Bird mampu menyajikan isu-isu tersebut dengan begitu halus dan lancar serta tidak pernah terasa dipaksakan ataupun dipolitisasi. Tampil terintegrasi dengan baik dengan cerita utama film.

Meskipun begitu, Incredibles 2 tidak lantas melupakan inti pengisahan filmnya. Keluarga Parr dan segala permasalahan yang mereka hadapi tetap menjadi daya tarik sekaligus kekuatan utama cerita. Harus diakui, jika dibandingkan dengan The Incredibles, pilihan Bird untuk mengikutsertakan banyak tema pengisahan pada naskah cerita Incredibles 2 sering menjadikan banyak bagian film ini menjadi kurang terasa fokus dalam berkisah. Incredibles 2 kadang memilih untuk berkisah pada satu konflik dan karakter dalam satu adegan untuk kemudian pindah jalur serta bertukar fokus konflik dan karakter pada adegan lainnya. Setiap karakter memang kemudian mendapatkan porsi pengisahannya masing-masing namun tidak pernah terasa hadir dengan fokus pengisahan yang benar-benar utuh. Beruntung, Bird sukses memberikan pengolahan cerita yang cukup apik bagi filmnya. Meskipun Incredibles 2 tidak memiliki ikatan emosional yang sekuat film-film buatan Pixar Animation Studio lainnya, Incredibles 2 berhasil tampil sebagai sebuah film aksi yang menarik dan, bahkan, seringkali tampil mendebarkan. Tata musik garapan Michael Giacchino juga berhasil memberikan sentuhan ketegangan yang kuat daalam setiap adegan film. Jelas sebuah capaian yang akan mampu memenuhi ekspektasi para penggemar The Incredibles yang telah menunggu kehadiran sekuel ini selama puluhan tahun.

Jelas tidak akan mengherankan untuk meyaksikan sebuah film rilisan Pixar Animation Studios yang hadir dengan deretan karakter yang tergarap dengan baik: mulai dari penggambarannya, pengolahan vokalnya, hingga fungsi keberadaannya dalam jalan cerita. Incredibles 2 juga diberkahi dengan keunggulan tersebut. Nelson, Hunter, Vowell, Milner, dan Jackson kembali memberikan nyawa bagi karakter-karakter yang mereka perankan. Chemistry yang mereka hadirkan juga terasa begitu kuat dan meyakinkan. Departemen pengisi suara Incredibles 2 juga diperkuat oleh Odenkirk, Catherine Keener, Isabella Rossellini, Jonathan Banks, dan Sophia Bush yang turut menambah solid performa kualitas penampilan film ini. Namun, penampilan yang paling mencuri perhatian jelas datang dari penampilan karakter Jack Jack dan Edna Mode – yang diisisuarakan oleh Bird. Bird memberikan kedua karakter tersebut porsi pengisahan komikal yang berhasil tereksekusi dengan baik dan memberikan banyak momen yang sangat, sangat menyenangkan bagi Incredibles 2. [B]

incredibles2-disney-pixar-movie-posterIncredibles 2 (2018)

Directed by Brad Bird Produced by  John Walker, Nicole Paradis Grindle Written by Brad Bird Starring Craig T. Nelson, Holly Hunter, Sarah Vowell, Huck Milner, Eli Fucile, Nicholas Bird, Samuel L. Jackson, Bob Odenkirk, Catherine Keener, Brad Bird, Jonathan Banks, Michael Bird, Sophia Bush, Phil LaMarr, Paul Eiding, Isabella Rossellini, Bill Wise, John Ratzenberger, Kimberly Adair Clark Music by Michael Giacchino Cinematography Mahyar Abousaeedi Edited by Stephen Schaffer Production companies Walt Disney Pictures/Pixar Animation Studios Running time 118 minutes Country United States Language English

Advertisements

One thought on “Review: Incredibles 2 (2018)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s