Review: Chaos Walking (2021)

Selain menjadi judul dari film terbaru arahan Doug Liman (American Made, 2017), Chaos Walking jelas merupakan ungkapan yang juga tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana proses pembuatan film ini. Diadaptasi dari buku The Knife of Never Letting Go yang merupakan buku pertama dari trilogi Chaos Walking karangan Patrick Ness, kekacauan serta hambatan yang dihadapi film yang dibintangi Daisy Ridley dan Tom Holland ini telah dimulai ketika naskah cerita yang awalnya ditulis oleh Charlie Kaufman (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, 2004) kemudian dinilai kurang memuaskan dan lantas mendapatkan revisi dari sejumlah penulis naskah lain seperti Jamie Linden (Dear John, 2010) dan John Lee Hancock (The Little Things, 2021) sebelum akhirnya menggunakan naskah yang digarap oleh Ness bersama dengan Christopher Ford (Spider-Man: Homecoming, 2017). Proses pengambilan gambar film sendiri sebenarnya telah diselesaikan pada tahun 2017. Namun, setelah mendapatkan respon buruk dari sejumlah tes penayangan, Chaos Walking lantas melakukan sejumlah proses pengambilan gambar ulang – yang melibatkan sutradara Fede Álvarez (The Girl in the Spider’s Web, 2018) – dan menunda perilisan film ini dari tahun 2019 menjadi awal tahun ini. Tidak mengejutkan bila kemudian deretan kekacauan tersebut cukup terefleksi pada kualitas akhir dari pengisahan Chaos Walking.

Alur pengisahan Chaos Walking dimulai ketika penonton diperkenalkan pada sebuah planet asing yang menyerupai Bumi dan kini telah ditinggali oleh umat manusia. Di sebuah pemukiman yang dikenal dengan sebutan Prentisstown yang dipimpin oleh David Prentiss (Mads Mikkelsen), terjadi kehebohan ketika seorang remaja, Todd Hewitt (Holland), menemukan kepingan kapal luar angkasa yang diperkirakan telah mengalami kecelakaan serta menewaskan seluruh penumpangnya kecuali seorang gadis (Ridley) yang kemudian berusaha menyembunyikan dirinya dari para penghuni Prentisstown. Datang dari lingkungan yang tidak dihuni oleh kaum perempuan – suatu tragedi yang disebabkan oleh para makhluk penghuni asli New World yang dikenal dengan sebutan The Spackle – Todd Hewitt jelas meras kagum dengan keberadaan gadis tersebut. Ketika mengetahui bahwa David Prentiss dan orang-orangnya berusaha untuk menangkap sang gadis, atas saran kedua ayah angkatnya, Ben Moore (Demián Bichir) dan Cillian Boyd (Kurt Sutter), Todd Hewitt lantas membawa sang gadis untuk pergi jauh dari Prentisstown.

Rasanya cukup mudah untuk membaca berbagai garis cerita Chaos Walking yang sepertinya berusaha untuk menghadirkan komentar sosial maupun perbandingan dengan kondisi sebenarnya dari kehidupan umat manusia di era modern. Kisah tentang penggusuran masyarakat asli – yang kemudian justru diberikan label penjahat oleh para pendatang, kiasan akan perbedaan cara berpikir atau memecahkan masalah antara kaum pria dengan wanita, sikap manusia yang sepertinya berusaha menjauhi atau membenci sosok yang berbeda dari diri maupun kebiasaan mereka, ataupun gambaran bagaimana kaum perempuan sering dipandang sebelah mata oleh kaum pria menjadi barisan tema yang berusaha disinggung oleh konflik-konflik yang dikisahkan dalam linimasa penceritaan film ini. Sayangnya, meskipun melibatkan campur tangan Ness yang menulis novel yang menjadi sumber penceritaan film, banyak diantara tema tersebut tersampaikan secara mentah akibat pengelolaan konflik yang kurang matang.

Chaos Walking seringkali terasa lebih berfokus pada pembangunan kisah akan keberadaan New World serta berbagai mitos yang melingkupinya daripada berusaha untuk menjadikan tiap karakter maupun konflik yang sedang berlangsung diatasnya terasa tampil utuh. Lihat saja kisah tentang keberadaan The Spackle yang sebenarnya cukup krusial namun hanya diberikan porsi pengisahan yang minimalis. Begitu pula dengan keberadaan Noise – sebutan untuk suara-suara yang terdengar yang berasal dari pemikiran setiap karakter pria. Konsep yang menarik, namun seringkali hanya digunakan sebagai pelengkap cerita tanpa pernah benar-benar dieksplorasi dengan jauh lebih baik lagi keberadaannya. Atau juga tentang keberadaan pemukiman manusia lain yang tidak pernah diberikan penggalian cerita maupun karakter yang lebih mendalam. Daripada menggugah penonton dengan konflik maupun tema yang dibawakan, Chaos Walking lantas berakhir sebagai sajian yang berlalu begitu saja dan jelas akan cukup mudah untuk dilupakan.

Jelas sebuah kekecewaan besar. Dengan penampilan akting dari Holland dan Ridley – yang interaksi antara karakter yang mereka perankan cukup mampu mempertahankan kualitas pengisahan film ini untuk tidak semakin jatuh terjerembab – serta dukungan Mikkelsen, Bichir, Chyntia Erivo, serta David Oyelowo, Liman gagal untuk membentuk alur penceritaan yang lebih kuat. Selain dari penampilan akting, Chaos Walking mungkin masih mampu tampil kuat dari kualitas departemen produksinya yang mampu menghasilkan tatanan visual yang meyakinkan akan New World. Dukungan tata musik garapan Marco Beltrami dan Brandon Roberts juga cukup berhasil memberikan sejumlah kehidupan dalam banyak adegan pengisahan film yang cenderung terasa datar. Bukan sebuah kegagalan yang benar-benar masif namun, dengan ide cerita yang cerdas serta nama-nama besar yang berada di depan maupun belakang kamera, Chaos Walking tidak mampu menghasilkan presentasi yang layak untuk disebut berkelas.

 

Chaos Walking (2021)

Directed by Doug Liman Produced by Doug Davison, Allison Shearmur, Erwin Stoff, Alison Winter Written by Patrick Ness, Christopher Ford (screenplay), Patrick Ness (novel, The Knife of Never Letting GoStarring Daisy Ridley, Tom Holland, Mads Mikkelsen, Demián Bichir, Cynthia Erivo, Nick Jonas, David Oyelowo, Kurt Sutter, Ray McKinnon, Bethany Anne Lind, Camren Bicondova, Harrison Osterfield Cinematography Ben Seresin Edited by Doc Crotzer Music by Marco Beltrami, Brandon Roberts Production companies Lionsgate/TIK Films/Quadrant Pictures/Allison Shearmur Productions/3 Arts Entertainment/Hercules Film Fund/Bron Creative Running time 109 minutes Country United States Language English

Leave a Reply