Review: 7 Days in Entebbe (2018)


Diarahkan oleh José Padilha, 7 Days in Entebbe bercerita tentang kisah nyata mengenai dibajaknya sebuah pesawat Air France yang sedang terbang dari Tel Aviv Israel ke Paris, Perancis melalui Athena, Yunani oleh dua orang anggota Popular Front for the Liberation of Palestine serta dua orang anggota pergerakan Revolutionary Cells yang berkewarganegaraan Jerman, Brigitte Kuhlmann (Rosamund Pike) dan Wilfried Böse (Daniel Brühl) yang sempat menghebohkan dunia pada tahun 1976. Tujuan dari pembajakan tersebut adalah untuk mendukung sekaligus mempopularkan perjuangan rakyat Palestina yang wilayah negaranya telah direbut oleh Israel dengan meminta tebusan uang sebesar US$5 juta serta pembebasan sejumlah militan pendukung gerakan pembebasan Palestina. Pesawat Air France yang membawa 260 penumpang dan kru pesawat – dengan hampir separuhnya berkewarganegaraan Israel, kemudian diarahkan untuk mendarat di Bandara Entebbe yang berada di wilayah Entebbe, Uganda, untuk kemudian ditahan disana selama proses negosiasi dengan pemerintahan Israel berlangsung.

Dengan pengalamannya dalam menggarap Elite Squad (2007) dan sekuelnya, Elite Squad: The Enemy Within (2010), serta serial televisi Narcos (2015) yang memiliki pola pengisahan bernuansa thriller dengan sentuhan politis yang kental – meskipun kemungkinan lebih banyak orang yang mengenal namanya lewat versi buat ulang dari RoboCop (2014) yang bernasib buruk, Padilha memang pilihan yang sesuai untuk mengarahkan 7 Days in Entebbe. Lihat saja adegan dimana karakter Brigitte Kuhlmann dan Wilfried Böse mengambil alih pesawat Air France atau momen ketika pasukan Israel Defense Forces menyerbu masuk untuk menyelamatkan para penumpang pesawat Air France yang menjadi tawanan para pembajak atau banyak momen-momen kecil yang mengisi keseharian para penumpang pesawat Air France ketika diri mereka dalam masa tawanan para pembajak. Padilha berhasil menggarap adegan-adegan yang mampu memberikan sensasi ketegangan kepada para penonton tersebut dengan sangat baik.  Garapan Padilha untuk menjaga ritme penceritaan film yang juga dirilis dengan judul Entebbe ini juga tampil tidak mengecewakan. Dengan banyaknya konten konflik maupun karakter yang ingin diajukan, Padilha menyajikan filmnya dengan detil cerita yang tertata dengan baik sehingga masing-masing konflik maupun karakter yang dihadirkan berhasil diberikan ruang pengisahan yang cukup luas.

Di saat yang bersamaan, naskah cerita 7 Days in Entebbe yang digarap oleh Gregory Burke (’71, 2014) harus diakui memuat (terlalu) banyak konflik untuk dapat disederhanakan menjadi sebuah presentasi cerita film yang hanya berdurasi 107 menit. Selain berkisah tentang penyekapan para penumpang pesawat Air France, film ini juga berputar pada persinggungan politik antara karakter Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin (Lior Ashkenazi) – yang lebih memilih jalan diplomasi dan perdamaian dalam menghadapi konflik Israel dengan Palestina, dengan Menteri Pertahanan-nya, Shimon Peres (Eddie Marsan) – yang selalu mendesak dilakukannya perang terbuka untuk menyelesaikan perlawanan pihak Palestina, dalam menyelesaikan kasus pembajakan pesawat Air France. Untuk memberikan sentuhan personal pada pengisahan film, Burke masih menambahkan konflik yang dihadapi seorang karakter tentara anggota Israel Defense Forces, Zeev Hirsch (Ben Schnetzer), ketika harus meninggalkan kekasihnya, Sarah (Zina Zinchenko). Perputaran fokus pada konflik-konflik tersebut secara perlahan membuat 7 Days in Entebbe kehilangan kemampuannya untuk tampil tajam dalam berkisah. Deretan konflik dan karakter dalam jumlah yang banyak seringkali justru tampil rumit dan membingungkan penonton daripada memberikan kedalaman sudut pandang pada jalan cerita yang sedang berlangsung.

Elemen terkuat 7 Days in Entebbe jelas berasal dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Pike dan Brühl memberikan penampilan akting yang membuat karakter-karakter mereka terlihat humanis bahkan setelah perbuatan jahat yang telah mereka lakukan. Karakter-karakter kompleks yang berhasil dihidupkan dengan baik. Sayang, kedua karakter yang diperankan Pike dan Brühl secara perlahan tenggelam dalam jalan penceritaan 7 Days in Entebbe yang membuat penampilan mereka terasa tidak terolah dengan baik – khususnya pada paruh akhir pengisahan. Penampilan Marsan sebagai karakter Shimon Peres juga seringkali memberikan detak kehidupan yang kuat bagi jalan penceritaan film ini. Secara keseluruhan, departemen akting 7 Days in Entebbe berhasil memberikan penampilan yang begitu meyakinkan. Cukup membantu mempertahankan perhatian penonton yang mungkin mulai terasa terpecah akibat desakan konflik cerita film yang terlalu berlebihan. [C]

7-days-in-entebbe-rosamund-pike-daniel-bruhl-movie-poster7 Days in Entebbe (2018)

Directed by José Padilha Produced by  Tim Bevan, Liza Chasin, Eric Fellner, Ron Halpern, Kate Solomon, Michelle Wright Written by Gregory Burke Starring Rosamund Pike, Daniel Brühl, Lior Ashkenazi, Mark Ivanir, Denis Ménochet, Eddie Marsan, Ben Schnetzer, Peter Sullivan, Andrea Deck, Brontis Jodorowsky, Angel Bonanni, Nonso Anozie, Vincent Riotta, Yiftach Klein, Natalie Stone, Trudy Weiss, Michael Lewis, Zina Zinchenko Music by Rodrigo Amarante Cinematography Lula Carvalho Edited by Daniel Rezende Production company  Participant Media/Working Title Films Running time 107 minutes Country United States, United Kingdom Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: 7 Days in Entebbe (2018)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s