Review: Beirut (2018)


Dalam film terbaru arahan Brad Anderson (The Call, 2013), Beirut, yang berlatarbelakang pengisahan di awal tahun ‘80an, Jon Hamm berperan sebagai Mason Skiles, seorang mantan diplomat Amerika Serikat yang sekarang bekerja sebagai seorang negosiator yang sering mabuk-mabukan akibat depresi yang ia rasakan setelah kehilangan sang istri, Nadia (Leïla Bekhti), dalam sebuah tragedi di Beirut, Lebanon, sepuluh tahun yang lalu. Masa lalu seakan kembali menghampiri Mason Skiles ketika ia dihubungi oleh pihak Central Intelligence Agency yang kemudian meminta bantuannya untuk bernegosiasi dengan pihak penculik salah satu agen mereka, Cal Riley (Mark Pellegrino), yang sedang bertugas di Beirut. Walau awalnya ingin menghindar akibat kenangan buruknya di kota tersebut, Mason Skiles akhirnya berangkat ke Beirut dan memulai proses negosiasi yang panjang dengan para penculik Cal Riley. Sebuah pilihan yang lantas mempertemukan Mason Skiles dengan sosok yang krusial dengan kisah tragis yang dialami oleh almarhumah istrinya.

Naskah cerita yang digarap oleh Tony Gilroy menjadi bagian yang cukup krusial bagi kualitas penceritaan Beirut secara keseluruhan. Dengan pengalamannya dalam menggarap naskah cerita untuk film-film seperti Michael Clayton (2007), Duplicity (2009) – yang keduanya juga ia arahkan, dan State of Play (Kevin Macdonald, 2009) yang juga memiliki ritme pengisahan thriller dengan nuansa politis yang kental, Gilroy mampu menyajikan deretan langkah prosedural dari seorang negosiator dalam menangani permasalahan dihadapinya dengan jeli dan sangat rapi. Garapan dialognya juga tajam, khususnya ketika Gilroy ingin menampilkan perbandingan antara iklim politik luar negeri Amerika Serikat dari masa lalu dengan sekarang. Di saat yang bersamaan, Gilroy juga memberikan pendalaman kisah yang cukup apik pada setiap karakter yang tampil dalam jalan cerita film. Gilroy menghadirkan karakter-karakter yang memiliki gambaran penokohan yang terasa memiliki sisi kehidupan yang tersembunyi dan misterius. Elemen yang jelas kemudian mendorong penonton untuk terus menebak peran dari setiap karakter dalam konflik utama yang disajikan oleh Beirut.

Anderson sendiri juga hadir dengan kualitas pengarahan yang prima. Naskah cerita garapan Gilroy mampu diterjemahkan Anderson dengan menghadirkannya dalam ritme pengisahan yang begitu terjaga dengan baik. Harus diakui, Beirut sempat tampil monoton pada paruh pertengahan film akibat stagnannya perkembangan konflik. Meskipun begitu, pengarahan Anderson yang lihai berhasil menjaga Beirut untuk tidak pernah terjerembab dalam atmosfer pengisahan yang membosankan. Beirut juga berhasil dihadirkan dalam kualitas produksi yang memikat. Sinematografi arahan Björn Charpentier berhasil menciptakan nuansa lingkungan kota Beirut yang keras namun begitu menarik untuk terus disaksikan. Tatanan musik karya John Debney juga memberikan dorongan emosional yang dibutuhkan oleh Beirut pada beberapa adegannya. Cukup memuaskan secara keseluruhan.

Sokongan yang solid juga datang dari penampilan para pengisi departemen akting film ini. Meskipun karakter Mason Skiles sekilas terasa seperti karakter Michael Raymond Clayton yang diperankan George Clooney dalam Michael Clayton – karakter yang penuh intrik dengan kepribadian yang bermasalah meskipun pada akhirnya tampil sebagai seorang “penyelamat,” Hamm mampu memberikan penampilan yang meyakinkan untuk karakternya tersebut. Hamm juga memanfaatkan kharisma dan daya tariknya secara maksimal untuk memberikan gambaran seorang negosiator bagi karakternya terasa begitu kuat. Eksplorasi Hamm terhadap kepribadian dari karakter Mason Skiles juga terasa mengesankan. Jelas merupakan salah satu penampilan terbaik Hamm sebagai seorang aktor.

Selain Hamm, departemen akting Beirut juga diperkuat oleh penampilan dari Rosamund Pike, Shea Whigham, Dean Norris, dan Larry Pine. Penampilan Pike di film ini jelas hadir lebih baik daripada penampilannya dalam 7 Days in Entebbe (José Padilha, 2018). Pike is a great actress for sure. Namun dalam Beirut, Pike hadir memikat lewat karakter yang juga memiliki dimensi pengisahan yang lebih kuat. Trio Whigham, Norris, dan Pine berperan sebagai tiga pejabat pemerintahan yang masing-masing memiliki agenda tersembunyi tersendiri. Ketiganya hadir solid dengan chemistry yang hangat – khususnya ketika berhadapan dengan karakter yang diperankan oleh Hamm. [B-]

beirut-rosamund-pike-jon-hamm-movie-posterBeirut (2018)

Directed by Brad Anderson Produced by Tony Gilroy, Ted Field, Mike Weber, Shivani Rawat, Monica Levinson Written by Tony Gilroy Starring Jon Hamm, Rosamund Pike, Dean Norris, Shea Whigham, Larry Pine, Mark Pellegrino, Idir Chender, Ben Affan, Leïla Bekhti, Alon Abutbul, Kate Fleetwood, Douglas Hodge, Jonny Coyne, Mohamed Zouaoui, Mohamed Attougui Music by John Debney Cinematography Björn Charpentier Edited by Andrew Hafitz Production company Radar Pictures/ShivHans Pictures Running time 109 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s