Review: Scream (2022)


Menjadi film terakhir yang diarahkan oleh Wes Craven sebelum sutradara legendaris tersebut meninggal dunia di tahun 2015, Scre4m (2011) menawarkan peningkatan kualitas cerita yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan Scream 3 (Craven, 2000). Sayang, film tersebut tidak mampu untuk menarik minat serta perhatian penonton dan gagal meraih kesuksesan komersial yang setara dengan tiga film pendahulunya. Lebih dari satu dekade kemudian, duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (Ready or Not, 2019) berusaha untuk menghidupkan kembali seri film Scream dengan memproduksi dan mengarahkan bagian kelima dari seri film tersebut yang berjudul… Scream – sebuah pilihan judul yang jelas merupakan referensi terhadap alur cerita film ini yang, seperti yang selalu dilakukan oleh Craven pada setiap bagian dari seri film ini, menawarkan meta commentary terhadap formula cerita film-film horor garapan Hollywood.

Meneruskan tradisi film-film Scream pendahulunya, Scream dibuka dengan adegan seorang gadis muda, Tara Carpenter (Jenna Ortega), yang mendapatkan telepon dari sosok asing, yang menanyakan, “What’s your favorite scary movie?”, kemudian secara tiba-tiba muncul sebagai sosok bertopeng yang dikenal dengan sebutan Ghostface, dan berusaha untuk membunuh gadis tersebut. Peristiwa tersebut jelas menghebohkan seisi kota Woodsboro yang pada dua puluh lima tahun yang lalu pernah menghadapi tragedi yang sama. Penyerangan yang terjadi pada Tara Carpenter juga membuat sang kakak, Samantha Carpenter (Melissa Barrera), yang telah lama meninggalkan Woodsboro kemudian kembali lagi ke kota tersebut bersama dengan sang kekasih, Richard Kirsch (Jack Quaid). Belajar dari berbagai tragedi yang melibatkan sosok Ghostface, Samantha Carpenter tahu bahwa pelaku penyerangan terhadap adiknya adalah orang yang juga selama ini berada di dekatnya.

Selain berusaha untuk melanjutkan pengisahan seri film Scream, Bettinelli-Olpin dan Gillett sepertinya juga merancang Scream untuk dapat menghadirkan nafas sekaligus warna pengisahan yang baru, baik bagi para penggemar lama seri film horor tersebut maupun bagi para penonton yang berasal dari generasi lebih muda. Hal ini kemudian mendorong fokus cerita yang pada empat film sebelumnya bertumpu pada dinamika hubungan yang terjalin antara karakter-karakter Sidney Prescott (Neve Campbell), Gale Weathers (Courteney Cox), dan Dewey Riley (David Arquette) bergeser kepada barisan karakter-karakter baru. Tiga karakter ikonik dalam seri film Scream tersebut, ditambah dengan beberapa karakter yang telah dikenalkan di film-film sebelumnya, memang masih diberikan porsi cerita yang signifikan dan cukup vital. Meskipun begitu, naskah cerita garapan James Vanderbilt (White House Down, 2013) dan Guy Busick (Urge, 2016) menjadikan karakter-karakter baru serta konflik yang terbentuk antara mereka sebagai penggerak utama bagi alur pengisahan Scream.

And it works! Selain berhasil memberikan garapan karakterisasi yang cukup solid yang mampu membuat banyak karakter baru terasa mengesankan kehadirannya, Vanderbilt dan Busick lihai untuk menghasilkan bangunan kisah misteri yang kuat. Mereka yang telah memahami formula ketegangan serta misteri dalam seri film Scream mungkin dapat menangkap sejumlah petunjuk yang mengarah kepada sosok pelaku utama di pertengahan film. Tetap saja, apiknya pengolahan tuturan cerita film akan membuat setiap penonton turut terseret dalam setiap menit perjalanan menuju terbukanya tabir misteri dalam linimasa pengisahan.

Meta commentary yang memang menjadi ciri pengisahan seri film Scream juga berhasil dikelola dengan cerdas dan menghibur. Formula penuturan a la requel – paduan antara reboot dan sequel – yang banyak diterapkan oleh film-film Hollywood belakangan serta juga diaplikasikan pada penuturan film ini digunakan sebagai landasan guyonan di banyak dialog film. Penggunaan referensi terhadap berbagai konflik maupun karakter yang hadir di film-film pendahulu dalam jalan cerita Scream memang tidak selalu berjalan mulus. Keterkaitan yang terlalu mendalam pada konflik maupun karakter terdahulu beberapa kali menyebabkan penuturan Scream terasa melelahkan maupun tidak relevan – khususnya di bagian pertengahan film. Beruntung, pengolahan cerita Bettinelli-Olpin dan Gillett yang menjaga ritme penuturan Scream agar terus bergerak cepat dengan tampilan pembunuhan yang berkesan lebih sadis cukup berhasil untuk menghindarkan Scream dari kesan pemaparan yang monoton.

Penampilan Campbell, Cox, dan Arquette dalam karakter ikonik mereka masih mampu menghadirkan banyak momen terbaik dalam Scream. Ketiganya juga tetap lugas dalam menghidupkan karakter mereka meskipun dengan porsi pengisahan yang kini semakin mengecil. Jajaran pemeran muda yang menjadi wajah-wajah baru dalam departemen akting seri film Scream juga tampil dalam performa yang tidak hanya enerjik namun juga solid. Barrera dan Ortega, khususnya, menghadirkan penampilan yang mampu bersanding dengan sejumlah penampilan mengesankan yang pernah muncul dalam seri film Scream.

Meneruskan warisan presentasi horor seikonik Scream yang sebelumnya digarap oleh sosok pencipta kisah-kisah horor seikonik Craven jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah. Kemampuan Bettinelli-Olpin dan Gillett untuk menjaga kesinambungan penuturan dari seri film Scream terdahulu dan sekaligus menciptakan ruang bagi alur pengisahan yang baru menjadi kunci bagi kesukesan bagian teranyar dari Scream. Perjalanan misteri berlumuran darah yang begitu menyenangkan.

popcornpopcornpopcornpopcorn-halfpopcorn2

Scream-2022-Ghostface-movie-posterScream (2022)

Directed by Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett Produced by William Sherak, James Vanderbilt, Paul Neinstein Written by James Vanderbilt, Guy Busick (screenplay), Kevin Williamson (characters) Starring Melissa Barrera, Mason Gooding, Jenna Ortega, Jack Quaid, Marley Shelton, Courteney Cox, David Arquette, Neve Campbell, Kyle Gallner, Mikey Madison, Dylan Minnette, Skeet Ulrich, Jasmin Savoy Brown, Sonia Ben Ammar, Reggie Conquest, Roger L. Jackson, Heather Matarazzo, Chester Tam, James A. Janisse, Chelsea Rebecca, Hayden Panettiere Cinematography Brett Jutkiewicz Edited by Michel Aller Music by Brian Tyler Production companies Spyglass Media Group/Project X Entertainment/Radio Silence/Lantern Entertainment Running time 114 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s