Review: Malcolm & Marie (2021)

Sukses dengan kerjasama mereka dalam serial televisi Euphoria – yang berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus sekaligus memenangkan sejumlah penghargaan prestisius di industri pertelevisian dunia, termasuk Outstanding Lead Actress in a Drama Series pada The 72nd Primetime Emmy Awards, aktris Zendaya bersama dengan sutradara sekaligus penulis naskah Sam Levinson kembali berkolaborasi dalam film Malcolm & Marie. Merupakan film perdana yang ditulis, didanai, dan diproduksi oleh Hollywood selama masa pandemi COVID-19, Malcolm & Marie memiliki penuturan yang cukup sederhana dalam 106 menit durasi presentasi pengisahannya. Sutradara Malcolm Elliott (John David Washington) dikisahkan baru saja pulang dari perayaan pemutaran perdana film yang ia tulis dan arahkan bersama dengan kekasihnya, Marie Jones (Zendaya). Lewat tengah malam dan merasa kelaparan, Marie Jones lantas memilih untuk memasak hidangan makaroni dan keju untuk dinikmati sang kekasih. Sembari menunggu hidangan masak, Malcolm Elliott dan Marie Jones terlibat dalam gulungan dialog mengenai industri perfilman, kondisi lingkungan sosial, serta, tentu saja, hubungan romansa mereka yang telah terjalin selama lima tahun.

Sebagai sebuah film yang berfokus penuh pada naik turunnya interaksi yang terbentuk antara dua karakter yang mengisi utuh linimasa penceritaan film, Levinson mampu menghadirkan Malcolm & Marie sebagai sebuah presentasi yang terasa begitu intim melalui kualitas tatanan produksinya. Pilihan untuk menghadirkan film dalam balutan warna hitam dan putih melalui penataan sinematografi garapan Marcell Rév mendukung penuh atmosfer pengisahan tersebut, baik untuk memberikan fokus secara utuh pada dialog yang terjalin antara kedua karakter maupun untuk membentuk gambaran yang lebih personal akan kedua karakter. Banyak adegan dalam Malcolm & Marie diisi oleh lagu-lagu popular bernuansa jazz dan blues, mulai dari Down and Out in New York City milik James Brown, Get Rid of Him dari Dionne Warwick, hingga Liberation yang dinyanyikan OutKast bersama dengan Cee-Lo. Kebanyakan dari lagu-lagu tersebut mengumandangkan barisan lirik yang menggambarkan situasi dari banyak adegan dalam film ini. Namun, banyak momen terasa menjadi lebih kuat ketika Malcolm & Marie lebih memilih untuk membiarkan komposisi musik buatan Labrinth yang mengendalikan suasana.

Lalu bagaimana dengan kualitas tata cerita Malcolm & Marie sendiri? Levinson menata “pertarungan” kata-kata yang terjadi antara karakter Malcolm Elliott dan Marie Jones layaknya sebuah pertandingan tinju dengan tiap karakter menghadirkan pukulan maupun tinjuan mereka melalui serangkaian teriakan demi teriakan. Cukup melelahkan. Mudah untuk merasakan bahwa Levinson membentuk dua karakter dalam jalan cerita Malcolm & Marie sebagai perwakilan akan berbagai pemikirannya sebagai seorang pembuat film, bagaimana reaksinya terhadap para kritikus film, hingga tanggapannya pada kritik film yang sering kali bernuansa politis ketika dihadapkan pada film-film yang dihasilkan oleh kelompok orang kulit berwarna – meskipun hal ini jelas terasa aneh ketika mengingat bahwa Levinson adalah seorang pembuat film berkulit putih. Lewat “teriakan” dari karakter Malcolm Elliott, Levinson ingin menyuarakan bahwa sinema bukan tentang menyampaikan “pesan” namun menyampaikan sentuhan emosi, bahwa sinema bukan tentang menggambarkan kenyataan namun menghasilkan kesan nyata akan sebuah situasi, serta bahwa tidak segala hal harus diberikan pemikiran yang jauh lebih mendalam. Pernyataan-pernyataan menohok yang jelas dapat memaksa setiap telinga yang mendengarnya untuk menjadi lebih awas terhadap isu yang disampaikan.

Namun, jelas cukup sukar untuk menanggapi berbagai pemikiran Levinson secara serius ketika ia menyalurkannya melalui teriakan demi teriakan yang datang dari seorang sosok sutradara yang menganggap dirinya adalah sosok yang begitu berbakat, mampu memuntahkan segala referensi tentang pembuat film ataupun film-film klasik, dan bukanlah seorang sosok karakter yang dapat dianggap menyenangkan secara keseluruhan. Pilihan dialog dan penyampaian dari Levinson lebih sering terasa pretensius dan datang dari kumpulan perasaan yang getir daripada tampil sebagai presentasi yang hangat dan tajam sehingga mampu mengena secara mendalam. Gambaran itu pula yang lantas menjebak penampilan Washington sehingga terasa begitu berlebihan dalam penampilannya. Kelemahan ini masih diperparah dengan plot cerita yang seolah hadir sebagai repetisi tanpa pernah dapat berkembang secara lebih utuh. Mungkin Malcolm & Marie lebih efektif jika disajikan sebagai sebuah film dengan durasi pengisahan yang jauh lebih pendek.

Elemen terbaik yang muncul dalam presentasi Malcolm & Marie jelas berasal dari chemistry yang muncul antara Washington dengan Zendaya. Ketika Levinson membiarkan konflik romansa dalam alur pengisahan filmnya berjalan tanpa kehadiran kesan dan pesannya akan industri perfilman, Malcolm & Marie sebenarnya hadir dengan sentuhan emosional yang cukup menohok. Zendaya, khususnya, mampu menyajikan sosok Marie Jones sebagai karakter rapuh dengan masa lalu yang kelam dan berusaha untuk (akhirnya) melakukan konfrontasi terhadap sang kekasih yang selama ini selalu menomorduakan keberadaannya. Mudah untuk berpihak kepada sosok Marie Jones ketika dihadapkan dengan karakter arogan seperti Malcolm Elliott namun, lebih dari itu, penampilan Zendaya memberikan karakter yang ia perankan lapisan emosional yang begitu efektif dalam menjadikannya sosok yang humanis. Malcolm & Marie, akhirnya, berakhir sebagai sebuah presentasi yang akan diingat atas ruang yang diberikan untuk penampilan akting megah kedua pemerannya daripada sebagai media bagi Levinson untuk bermonolog tentang industri perfilman yang lantas tereksekusi dangkal dan berakhir begitu melelahkan.

 

Malcolm & Marie (2021)

Directed by Sam Levinson Produced by Kevin Turen, Ashley Levinson, Sam Levinson, Zendaya, John David Washington Written by Sam Levinson Starring Zendaya, John David Washington Music by Labrinth Cinematography Marcell Rév Edited by Julio C. Perez IV Production company Regency Enterprises/Little Lamb/Fotokem Running time 106 minutes Country United States Language English

Leave a Reply