Review: Dara of Jasenovac (2020)

Setelah sebelumnya berkolaborasi untuk film A Soldier’s Courage (2018), sutradara Predrag Antonijević kembali mengarahkan naskah cerita yang digarap oleh penulis naskah Natasa Drakulic dalam Dara of Jasenovac. Dengan alur pengisahan yang ditulis berdasarkan pengakuan para korban yang selamat, Dara of Jasenovac merupakan film pertama yang mengangkat kisah tentang berbagai tindakan kejahatan perang yang berlangsung di kamp konsentrasi Jasenovac yang didirikan oleh rezim penguasa Ustaše dari Negara Merdeka Kroasia di kawasan Slavonia, Kroasia selama berlangsungnya Perang Dunia II. Juga dikenal dengan julukan “Auschwitz of the Balkans” berkat berbagai perilaku barbar serta tingginya jumlah korban yang mengingatkan banyak orang akan tindak holokaus yang pernah berlangsung di kamp konsentrasi Auschwitz buatan tentara Jerman, kamp konsentrasi Jasenovac yang beroperasi dari tahun 1941 hingga tahun 1945 ini diprediksi telah menghilangkan lebih dari seratus ribu nyawa manusia yang kebanyakan berasal dari suku bangsa Serbia, Yahudi, dan Roma.

Jalan cerita dari Dara of Jasenovac sendiri memberikan fokus kisahnya pada seorang gadis berumur sepuluh tahun, Dara Ilic (Biljana Čekić), yang bersama dengan ibu, Nada Ilic (Anja Stanić), kakak, Jovo Ilic (Marko Pipić), adiknya, Bude Ilic (Luka Šaranović, Jakov Šaranović, dan Simon Šaranović), serta ratusan orang yang kebanyakan berasal dari suku bangsa Serbia dibawa oleh pasukan tentara rezim Ustaše untuk masuk dan tinggal di kamp konsentrasi Jasenovac yang telah mereka bangun. Disana, Dara Ilic menjadi saksi kekejaman pasukan tentara rezim Ustaše yang tidak segan untuk melakukan tindak kekerasan bahkan membunuh para penghuni kamp konsentrasi tersebut – termasuk kaum perempuan dan anak-anak. Nasib malang menimpa keluarga Dara Ilic ketika ibu dan kakaknya lantas menjadi korban kekejaman pasukan tentara rezim Ustaše. Sendirian, Dara Ilic bertekad untuk menjadi sosok yang kuat agar dapat melindungi sang adik yang kini menjadi satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Sukar untuk tidak berbicara dan memberikan perbandingan antara Dara of Jasenovac dengan film arahan Jasmila Žbanić, Quo Vadis, Aida? (2020). Jika Dara of Jasenovac bercerita tentang tindak kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Kroasia kepada suku bangsa Serbia, maka Quo Vadis, Aida? justru berkisah tentang tindak genosida yang dilakukan oleh tentara Serbia terhadap etnis Bosnia. Sebuah ironi. Mengapa sekelompok manusia yang dahulu pernah merasakan pedihnya tindak penindasan justru kemudian tega melakukan penindasan pada kelompok manusia lainnya mungkin adalah misteri kemanusiaan yang tidak akan pernah terjawab sampai berakhirnya waktu. Dari segi filmis, kedua film tersebut disajikan dengan pendekatan cerita yang berbeda. Jika Quo Vadis, Aida? lebih memilih untuk mengedepankan nuansa dan atmosfer kelamnya peristiwa tragis tersebut, Antonijević sepertinya justru ingin mengedepankan pendekatan yang terasa lebih brutal dan bersimbah darah lewat beragam adegan yang bernuansa kekerasan dalam linimasa penceritaan Dara of Jasenovac.

Kehadiran adegan-adegan bernilai kekerasan memang bukan suatu hal yang benar-benar baru dalam barisan film yang mengangkat catatan sejarah tentang keberadaan holokaus. Namun, eksekusi yang dilakukan oleh Antonijević terhadap deretan adegan tersebut lebih sering terasa sebagai eksploitasi akan unsur horor dari kisah holokaus daripada sebagai bagian krusial dari narasi tentang hilangnya rasa kemanusiaan akibat penyampaiannya yang lebih sering tampil mendominasi daripada pengembangan akan kisah karakter-karakter yang berada di kamp konsentrasi tersebut. Hal ini khususnya terasa pada paruh pertama pengisahan film dimana Dara of Jasenovac terasa masih belum menemukan pijakan penceritaan maupun sudut pandang pengisahan dari karakter yang terasa benar-benar kuat. Akhirnya, ketika alur pengisahan terombang-ambing dari karakter satu ke karakter yang lain, film ini lantas memilih untuk mengedepankan barisan adegan kekerasan maupun penderitaan yang harus dilalui oleh para penghuni kamp konsentrasi Jasenovac.

Dara of Jasenovac baru mulai menemukan arah pengisahan yang lebih meyakinkan ketika karakter Dara Ilic diberikan pengembangan kisah dan karakter yang lebih luas pada paruh cerita lanjutan. Interaksi yang dibentuk oleh sang karakter dengan karakter-karakter lain yang berada di sekitarnya mampu menghasilkan kesan humanis yang cukup menyentuh – sekaligus tetap menghadirkan warna ketegangan dan ketakutan akan keberadaan di lokasi pusat kengerian tersebut – serta pendalaman yang memang cukup dibutuhkan tentang latar belakang keberadaan peristiwa bersejarah itu sendiri. Sayangnya, dengan durasi pengisahan yang mencapai 130 menit, alur kisah Dara of Jasenovac tidak banyak mendapatkan penggalian yang lebih luas, baik dari sisi karakter maupun konflik yang berlangsung. Plot sampingan tentang usaha dari karakter sang ayah, Mile Ilic (Zlatan Vidović), untuk mengejar dan bertemu kembali dengan anggota keluarganya juga tidak berkembang utuh. Presentasi Dara of Jasenovac lantas berakhir dengan kesan setengah matang dan melewatkan banyak kesempatan untuk bercerita secara lebih kuat.

Terlepas dari pengelolaan cerita yang belum maksimal, Dara of Jasenovac tergarap dengan kualitas produksi yang cukup meyakinkan. Mulai dari desain produksi, tata sinematografi, hingga tata rias dan rambut akan mampu membawa setiap mata yang menyaksikan ke masa-masa kelam berlangsungnya kekejaman di kamp konsentrasi Jasenovac. Antonijević juga mendapatkan kualitas penampilan terbaik dari barisan pengisi departemen akting filmnya, khususnya dari Čekić yang memerankan karakter sentral dalam pengisahan film ini. Karakterisasi yang diberikan pada sosok Dara Ilic memang seringkali tampil tidak terlalu mulus maupun mendalam. Meskipun begitu, penampilan Čekić selalu mampu untuk membuat penonton dapat merasakan setiap lapisan emosional yang coba diluapkan oleh karakter tersebut. Sebuah penampilan yang mampu mengangkat bahkan momen terlemah dalam penceritaan Dara of Jasenovac sekalipun.

Dara of Jasenovac (2020)

Directed by Predrag Antonijević Produced by Predrag Antonijević, Maksa Ćatović, Petar Vukašinović Written by Nataša Drakulić Starring Biljana Čekić, Anja Stanić, Zlatan Vidović, Luka Šaranović, Jakov Šaranović, Simon Šaranović, Sandra Ljubojević, Nikola Radulj, Rajko Lukač, Vesna Kljajić Ristović, Nikolina Friganović, Igor Đorđević, Nataša Ninković, Marko Pipić, Vuk Kostić, Marko Janketić, Radoslav Milenković, Bojan Žirović, Nikolina Jelisavac, Alisa Radaković, Jelena Grujičić, Sanja Moravčić Music by Roman Goršek, Aleksandra Kovač Cinematography Miloš Kodemo Edited by Filip Dedić Production company Dandelion Production Inc/Film Danas/Komuna/Cineplanet Running time 130 minutes Country Serbia Language Serbian

5 thoughts on “Review: Dara of Jasenovac (2020)”

  1. There is a reason why there is an accent to gore and mutilations.. as that was the everyday life in Jasenovac camp. There was no such depicting in other Holocaust movies as there were no such camps outside of Jasenovac and WW2 Croatia. Germans were killing industrially, with gas and on masse. Croats in WW2 were using all the methods you saw in this movie, and many others that were deemed too much to be produced on the screen. So what you are seeing here is a watered down version of the actual events.

  2. Do You know who is financed this movie?
    – President of Serbia Aleksandar Vucic.
    Do you know who he was in 1991?
    – He personally participated in the aggression against Croatia in 1991-1995. He walked around occupied Croatia and held rallies for Serbs that a third of Croatia would belong to Serbia. He spoke if the Serbs would vote for him and and for his Chetnik party he promised Great Serbia, include the territory of Croatia. Even today, he stands for Greater Serbia, that’s why he made this film because he can’t regret that his project of great serbia from 1991. is failed… There is no need for a movie about his Greater Serbian speech in Croatia, just open it youtube and and watch and listen how he wants Aleksandar Vucic to annex the territory of Croatia to Serbia.

    A week ago the envoy of Serbia sent by Aleksandar Vucic came to Croatia as a humanitarian, and when the night fell in the city of Knin in Croatia that envoy records a video in which he speaks that one day they would Serbia attack Croatia again and how it will be all of Serbia, he posted this video it on his facebook profile and his to erase it later. His name is Milos Stojkovic. Croatia has sent a protest note to Serbia, but there is no answer.

    In 2019., the Serbian army wanted to enter in Croatian with hiding the uniforms in the trunk of a car to make this film? Is that normal?

    From such a man who is currently leading Serbia can you expect a true and realistic film? NO

    Question over questions:
    Ask the Republic of Serbia why it does not want independent experts to investigate Jasenovac?

    1. Sadly that people are not interested in Truth but are interested in who payed film making? The truth of Jasenovac is much worse than that shown in the film and if it would be presented it will be film than no one can watch.

  3. After watching the film “Dara iz Jasenovac”, one should be honest, put aside all possible ideological and political motives and say openly – the film is complete garbage:

    1. Why the Ustashas are killing and why they were brought to the camp – nothing. What motives, desires, traumas, fears lead them – nothing.

    2. Character characterization is one of the worst I’ve seen in my life. In 2 hours of film about almost no character we learn nothing. There are some Ustashas in the camp who are Croats and some prisoners who are Serbs

    3. We in “Dara of Jasenovac” watch impersonal characters without deeper emotion. Victims try to survive, unless they get too tired from work, then they ask to be killed, Ustashas like to slaughter because they have fun.

    I could write a lot more, but 2 hours of lost life on this garbage is enough for me. Only thing that this film has achieved is that many Serbs started writing on social networks that Croats should be exterminated.

Leave a Reply