Review: Possessor (2020)

Delapan tahun setelah merilis film layar lebar perdananya, Antiviral (2012), Brandon Cronenberg kembali hadir dengan film arahan terbarunya yang diberi judul Possessor. Dengan naskah cerita yang juga digarapnya sendiri, Possessor memberikan fokus kisahnya pada sosok pembunuh bayaran bernama Tasya Vos (Andrea Riseborough). Berbeda dengan pembunuh bayaran biasa, Tasya Vos bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki kemampuan untuk menanamkan implan ke otak seseorang agar orang tersebut dapat dikontrol kelakuannya oleh pembunuh bayaran yang telah ditugaskan dan lantas membunuh target yang telah ditentukan sebelum akhirnya membunuh dirinya sendiri. Tasya Vos adalah salah satu pembunuh bayaran terpercaya yang menjadi andalan perusahaannya. Namun, tugas baru yang harus dilaksanakannya yaitu untuk mengontrol tubuh dan otak dari seorang pria bernama Colin Tate (Christopher Abbott) dengan tujuan untuk membunuh seorang konglomerat terkenal bernama John Parse (Sean Bean) terbukti memberikan tantangan dan bahaya tersendiri bagi diri Tasya Vos dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Layaknya Antiviral – serta inspirasi yang mungkin diturunkan oleh sang ayah, David Cronenberg, elemen pengisahan Possessor kental diisi dengan unsur teknologi serta body horror yang memuat akan adegan-adegan horor bernuansa kekerasan terhadap berbagai anggota tubuh manusia. Semenjak detik awal Possessor memulai perjalanan kisahnya, film ini dengan lantang menampilkan adegan aliran darah yang menyeruak setelah seorang wanita menusukkan jarum tajam ke batok kepalanya. Terdengar mengerikan? Cronenberg bahkan melanjutkan dan meningkatkan intensitas alur cerita filmnya dengan berbagai adegan berdarah lain yang lebih memilukan. Harus diakui, secara sekilas, Cronenberg sepertinya memang ingin menyajikan Possessor sebagai ajang pamer kemampuannya untuk menggarap adegan-adegan bernuansa brutal. Cronenberg tidak pernah memalingkan fokusnya dari konflik dan karakter yang memicu munculnya adegan-adegan tersebut dan tidak pernah sekalipun berusaha memberikan latar atau penggalian kisah yang lebih mendalam.

Di saat yang bersamaan, kemampuan Cronenberg untuk mewujudkan visi akan body horror­-nya memberikan kekuatan tersendiri bagi karakter maupun konflik yang berada di linimasa penceritaan. Konflik yang tercipta antara otak (dan tubuh) dari karakter Tasya Vos dan Colin Tate mampu dieksplorasi secara utuh. Lihat saja bagaimana Cronenberg menggambarkan momen ketika “jiwa” dari karakter Tasya Vos berusaha melawan ketika “jiwa” dari karakter Colin Tate mencoba untuk merebut kembali kendali atas tubuhnya. Dengan pilihan visual yang berkesan trippy – mulai dari gambaran dari wajah kedua karakter utama yang melebur untuk kemudian berusaha memisahkan diri dari satu dengan yang lain hingga penggunaan warna-warna terang pada adegan-adegan krusialnya – serta musik latar yang diciptakan oleh Jim Walliams, Cronenberg sukses menciptakan atmosfer kengerian yang begitu padat.

Possessor juga tidak melulu berfokus pada tampilan kualitas produksinya. Meskipun tak satupun karakter dalam alur cerita film ini digambarkan sebagai sosok karakter yang layak untuk diberikan simpati, Cronenberg masih memberikan ruang cerita personal bagi karakter Colin Tate dan khususnya karakter Tasya Vos yang mampu membentuk keterikatan emosional. Departemen akting film ini juga tampil dalam kapasitas yang memuaskan dalam mengeksplorasi setiap karakter yang mereka perankan. Riseborough membuat karakternya yang tergambar sedang berada dalam fase kehilangan identitas diri mampu terlihat depresif – dan sekaligus menarik setiap penonton menuju wilayah kelam tersebut. Begitu pula dengan Abbott yang memberikan penampilan yang meyakinkan akan sosok yang berusaha merebut kembali identitas dirinya. Dukungan penampilan akting dari Bean, Jennifer Jason Leigh, dan Rossif Sutherland juga semakin menambah solid kualitas pengisahan keseluruhan dari Possessor.

Meskipun menyajikan filmnya dalam ritme pengisahan yang tergolong cepat, Cronenberg tidak pernah membuat Possessor berkisah secara terburu-buru. Konflik dan karakternya berkembang dengan seksama seiring dengan merasuknya secara perlahan elemen kengerian yang muncul akan berbagai eksplorasi body horror yang tidak segan ditampilkan Cronenberg di banyak bagian film. Tidak akan mudah terlepas dari otak setiap mata yang menyaksikannya.

Possessor (2020)

Directed by Brandon Cronenberg Produced by Fraser Ash, Niv Fichman, Kevin Krikst, Andrew Starke Written by Brandon Cronenberg Starring Andrea Riseborough, Christopher Abbott, Rossif Sutherland, Tuppence Middleton, Sean Bean, Jennifer Jason Leigh, Kaniehtiio Horn, Raoul Bhaneja, Gage Graham-Arbuthnot, Gabrielle Graham Music by Jim Williams Cinematography Karim Hussain Edited by Matthew Hannam Production companies Rhombus Media/Telefilm Canada/Ontario Creates/Rook Films/Ingenious Media/Crave/Well Go USA/Arclight Films Running time 104 minutes Country United Kingdom, United States, Canada Language English

One thought on “Review: Possessor (2020)”

Leave a Reply