Review: Sajadah Ka’bah (2011)


Setelah hampir empat dekade berkecimpung di industri perfilman Indonesia, Rhoma Irama akhirnya memberanikan dirinya untuk duduk di kursi sutradara dan mengarahkan sebuah film yang juga menandai kali kedua ia membintangi sebuah film bersama puteranya, Ridho Rhoma. Berbeda dengan Dawai 2 Asmara (2010) yang menjadi kali pertama Rhoma Irama kembali berakting setelah sekian tahun, Sajadah Ka’bah adalah sebuah film yang mengembalikan Rhoma Irama ke dalam sebuah film yang memiliki jalan cerita bernuansa relijius… sekaligus menempatkannya kembali dalam sebuah peran yang menuntutnya untuk melakukan deretan adegan laga seperti di film-film yang banyak ia bintangi di masa lalu.

Dengan naskah yang ditulis oleh Asep Kusdinar, Sajadah Ka’bah berkisah mengenai perjalanan Rhoma Irama (Ya! Rhoma Irama di film ini kembali memerankan sesosok karakter yang memiliki nama yang sama dengan namanya) yang sedang mengunjungi masjid-masjid di Lombok dalam rangka silahturahmi dan syiar ukhuwah Islamiyah dengan para pengurus masjid di daerah tersebut. Setibanya di Lombok, Rhoma disambut oleh sahabat lamanya, Usman (Leroy Osmani). Tidak disangka, selain bertemu dengan sahabat lamanya, Rhoma juga bertemu kembali dengan Towi (Ruhut Sitompul), seorang pria yang masih memendam dendam terhadap Rhoma akibat perbuatan Rhoma di masa lalu yang secara tidak sengaja telah merusak sebelah matanya dan menyebabkan kebutaan permanen.

Konflik kemudian dimulai ketika Rhoma mengetahui bahwa Towi berniat untuk membangun sebuah kawasan pusat hiburan di daerah pinggir pantai Lombok dengan mengorbankan sebuah mesjid yang dimiliki oleh seorang janda bernama Sohiba (Ida Iasha). Sohiba sendiri telah semenjak lama menolak penawaran yang dilakukan oleh Towi agar dirinya mau menjual tanah miliknya dan merelakan mesjid sederhana yang ia miliki turut dihancurkan. Namun, sekeras usaha Sohiba untuk menolak tawaran Towi, sekeras itu pula Towi berusaha untuk melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Harapan Sohiba untuk berlindung dari segala perbuatan licik Towi mulai datang ketika ia akhirnya bertemu dengan Rhoma yang juga kemudian turut berjanji bahwa ia tidak akan membiarkan Towi dengan semena-mena meruntuhkan mesjid yang dimiliki oleh Sohiba.

Adalah dapat dimengerti jika Rhoma Irama ingin mengenang kembali masa-masa kejayaannya ketika ia membintangi puluhan film yang menempatkannya sebagai pemeran karakter utama yang memiliki sifat relijius, heroik dan berani untuk melawan siapapun yang dianggapnya bertindak semena-mena dan melanggap berbagai prinsip kepercayaan yang ia pegang. Sayangnya, Sajadah Ka’bah memiliki dasar penulisan naskah cerita yang terlalu lemah untuk dapat menampilkan kembali masa-masa nostalgia tersebut dalam sebuah sentuhan kualitas yang menawan. Terdapat begitu banyak plothole di sepanjang penceritaan Sajadah Ka’bah yang membuatnya kadang terkesan terlalu mengada-ada dan sama sekali gagal untuk membentuk hubungan emosional dengan para penonton film ini.

Sajadah Ka’bah sendiri bukanlah sebuah film yang murni hanya berfokus pada karakter Rhoma Irama serta deretan konflik dan karakter yang ia temui ketika karakter tersebut diceritakan sedang berada dalam perjalanannya di Lombok. Di bagian lain, film ini juga mengisahkan mengenai karakter Ridho Rhoma (Ya! Ridho Rhoma mengikuti jejak ayahnya dan memerankan sesosok karakter yang memiliki nama yang sama dengan dirinya) dan jalinan kisah percintaan yang ia alami bersama karakter Rara (Michella Adlen). Hingga pertengahan film ini berjalan, dua sisi cerita yang ditampilkan oleh kedua karakter ini tidak pernah menemukan titik temu. Penonton dibiarkan berasumsi bahwa karakter Ridho adalah putera dari karakter Rhoma hanya berdasarkan hubungan darah yang dimiliki oleh kedua pemerannya di dunia nyata.

Semakin lama film ini menceritakan kisahnya, jalan cerita Sajadah Ka’bah terasa berjalan semakin datar dan tidak masuk akal. Lihat saja adegan akhir film ini, dimana seorang karakter diceritakan tewas dan disaksikan secara langsung oleh karakter yang diceritakan adalah puterinya. Absurd, orang-orang yang menyaksikan kematian tersebut justru bertepuk tangan dan puteri sang karakter yang tewas tadi kemudian menangis sesaat untuk kemudian secara perlahan dapat tersenyum kembali setelah seluruh karakter yang ada di dalam jalan cerita Sajadah Ka’bah berkumpul dan menghiburnya. Terkesan menggampangkan hanya untuk mencapai sebuah happy ending dari perjalanan sebuah kisah.

Sama sekali tidak ada yang istimewa dari penampilan para jajaran pengisi departemen akting Sajadah Ka’bah. Sebagian dari hasil tersebut muncul karena memang karakterisasi setiap peran yang hadir di film ini digambarkan secara dangkal dan tidak pernah benar-benar mampu hadir dengan kesan yang nyata. Sebagian lainnya, memang jajaran aktor dan aktris pengisi film ini tampil dengan kapasitas akting yang pas-pasan. Rhoma Irama murni muncul memerankan karakter yang telah diperankan dirinya selama bertahun-tahun. Ridho Rhoma tampil dengan kemampuan akting yang sama sekali tidak berkembang semenjak penampilannya di Dawai 2 Asmara. Ida Iasha terlihat sangat kesulitan dalam mengeluarkan ekspresi wajah yang tepat untuk karakter yang ia perankan ketika ia sendiri juga seperti kesulitan untuk melafalkan setiap dialog dengan notasi yang benar. Ruhut Sitompul tampil sama menyebalkannya seperti penampilan yang selalu ia perlihatkan ketika ia sedang memberikan sebuah pernyataan politik di berbagai stasiun televisi Indonesia dan penampilan aktor asing Chap Martin Ryan juga semakin memperburuk kualitas Sajadah Ka’bah secara keseluruhan.

Mungkin terdengar sinis untuk menggambarkan Sajadah Ka’bah sebagai sebuah film yang dibuat untuk memenuhi ego seorang Rhoma Irama. Namun, hal tersebutlah yang sebenarnya akan dapat dirasakan setiap orang ketika sedang menyaksikan film ini. Sayangnya, pemenuhan ego tersebut tidak diiringi dengan kualitas keluaran akhir yang sesuai. Jalan cerita Sajadah Ka’bah tampil begitu membosankan dengan deretan karakter yang digambarkan secara dangkal. Yang juga sama sekali tidak membantu adalah kualitas penampilan akting yang disajikan para pemeran film ini dan juga kualitas tata produksi film yang sama sekali jauh dari kesan istimewa. Membosankan dan jelas merupakan sebuah film dengan kualitas yang sangat mengecewakan.

Sajadah Ka'bah (Falcon Pictures/Rumah Kreatif 23, 2011)

Sajadah Ka’bah (2011)

Directed by Rhoma Irama Produced by Endri Pelita, Erna Pelita Written by Asep Kusdinar Starring Rhoma Irama, Ida Iasha, Ruhut Sitompul, Ridho Rhoma, Michella Adlen, Leroy Osmani, Qomar, Zahwa Aqilah, Chap Martin Ryan Music by Wiwiek Sudarno Cinematography Gunung Nusa Pelita Studio Falcon Pictures/Rumah Kreatif 23 Running time 111 minutes Country Indonesia Language Indonesian

 

Advertisements

23 thoughts on “Review: Sajadah Ka’bah (2011)”

    1. ente! udah tau sampah knp ente tonton? sampah kan bau gan, ente juga jd ikutan bau dong gan? kaya ente bsa berkarya aje, buktikan dulu hasil karya ente, trus bandingin sma orang lain!!! paham ente, bahlul!! pake nama ustadz lg!!! smoga Allah mengampuni dosa2 ente

  1. “Ambil yg Baik dan Campakkanlah Buruknya”,,

    salah satu syair dari Bang Haji,, mengingatkan kita bahwa sebaik apapun karya cipta manusia pasti ada celanya,,

    “Dunia hanya tempat persinggahan,,
    Ladang akhirat dan Bukan tujuan,,
    Namun jgn kau lupa nasibmu di dunia,
    Walaupun sementara,, ya dinikmati juga,,'”

    Walau Film ini kurang menarik bagi Bang Amir Syarif Siregar,
    tetapi masih bayak yg menikmati juga,,,

    he,, he,,

    Wassalam,

  2. eh guys n lovely girls si amir syarif itu siapa sih..kok kagak pernah kenal di media ye…sepertinya semua film yg direview kritik dimatanya ada bercela/buruk kualitasnya n tak bernilai….! apa dia mantan aktor mantan sutradara atau malah mantan pengelola lembaga perfilman holywood or bollywood ye….TEERRLLAALLUUU…emang kira-kira ada film yang pernah dia buat n apa lebih baeek dari opininya sendiri selama ini ya..?? huhf… namanya jg pendapat pribadinya ya biarkan saja itu hak semua orang..!
    cobalah introspeksi n bs menghargai keringat orang lain yang telah berbuat bener dalam karya nya walau secuil ya kan bro..! kritik yg membangun bos..oke
    waktu gue nonton dihari setelah tayang seminggu itu di delta surabaya msh antri n ekspresi penonton didalam ruangan wah macem-macem ahihihiq lucu-lucu!
    oke deh guys n girls be happy n nice don’t we always in anger because its makes us look older hehe oke coy …SALAM SONETA

  3. kalian smuanya muslim, setiap 1 muslim dngn yg lainnya adalah sdra, bgmn islam kga berpecah belah klo klian saling mencela, terlaaaluu

  4. sekian lama..aq menunggu,untuk kedatanganmu….
    bukankah engkau,telah berjanji..kita jumpa disini…
    datanglah…
    kedatnganmu kutunggu,tlah lama,telah lama aku menunggu….

  5. ente bsa nya mencela d0ank,
    skarang ane tanya, ente bsa kga bkin film ?
    boro” kentut jga ga merdu, hehe,

    orang yg pandai mengkritik,blm tntu pndai brbuat.
    menurut gw ini film trbaik, dgn view l0mbok sngat indah.

    ente iri ?
    hahaha
    salam soneta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s