Review: Alone (2020)

Alur cerita Alone dimulai ketika seorang wanita, Jessica (Jules Willcox), berusaha untuk melupakan salah satu momen terburuk dalam hidupnya dengan cara pindah dari kediaman lamanya. Dengan mengendarai sebuah mobil kargo sewaan guna membawa seluruh barang-barangnya, Jessica memulai perjalanan darat yang direncanakan akan berlangsung selama empat hari tersebut. Perjalanan yang awalnya berjalan lancar mulai menemui gangguan setelah sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang pria asing (Marc Menchaca) mengikuti mobil yang dikendarai Jessica dan hampir saja menyebabkan mobil Jessica terserempet dan terjebak dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Tidak berhenti disitu, pria asing tersebut ternyata berniat untuk menculik Jessica. Meskipun telah berulang kali berusaha untuk menghindar, Jessica akhirnya terperangkap oleh kejaran sang pria asing yang lantas menyekap dan mengancam untuk membunuhnya.

Diarahkan oleh John Hyams (Universal Soldier: Day of Reckoning, 2012), Alone memang menawarkan premis pengisahan yang telah cukup familiar. Plot cerita tentang sesosok perempuan yang sedang berada dalam kejaran seorang laki-laki asing serupa bahkan sebelumnya pernah digunakan oleh penulis naskah cerita Alone, Mattias Olsson, untuk film asal Swedia berjudul Gone (2011) yang naskah ceritanya juga ia tulis sekaligus arahkan. Tampil sederhana dan familiar, baik Hyams maupun Olsson tidak pernah berusaha untuk menghadirkan lapisan yang lebih mendalam bagi presentasi cerita film mereka. Selain beberapa penggalian kecil yang dihadirkan pada sosok karakter Jessica, konflik yang terbentuk antara karakter protagonis dengan karakter antagonis tidaklah pernah mendapatkan bangunan cerita yang lebih utuh. Begitu mudah ditebak, khususnya bagi mereka yang menggemari film-film semacam ini.

Terlepas dari kesederhanaan komposisi cerita, Hyams harus diakui berhasil mengemas Alone dengan tata produksi yang memikat. Dengan arahan penceritaan yang kuat, Hyams dengan teliti menjaga ritme pengisahan untuk terus berjalan teratur. Alone dengan perlahan mengikuti bahaya yang sedang mengintai sang karakter utama namun tidak pernah ragu untuk kemudian berjalan cepat ketika intensitas film dibutuhkan untuk meningkat. Arahan kuat Hyams juga dibantu dengan kualitas apik tampilan audio dan visualnya. Membawa karakternya mengarungi hutan serta jalanan besar nan gelap, tata sinematografi garapan Federico Verardi berhasil memberikan atmosfer mencekam yang dibutuhkan bagi nada pengisahan Alone. Hal yang sama juga dapat dirasakan hadir dari tata suara serta tata gambar film yang mendukung visi Hyams untuk menjadikan Alone sebagai film yang kuat dalam penyajian terornya.

Tentu saja, nyawa sekaligus kekuatan utama dari Alone berasal dari solidnya penampilan departemen aktingnya. Baik Willcox maupun Menchaca sukses menampilkan dua sosok karakter yang begitu mengesankan. Willcox mampu menjadikan karakternya sebagai sosok “korban” yang kemudian mampu bangkit untuk memberikan perlawanan pada sosok yang mencoba menjatuhkannya. Willcox juga berhasil memberikan lapisan emosional yang meyakinkan pada karakter yang ia perankan. Di sisi lain, Menchaca jelas akan mampu menghadirkan kengerian tersendiri atas penampilannya sebagai karakter yang digambarkan akan berusaha untuk berbuat apa saja untuk menyiksa korbannya. Dua penampilan meyakinkan yang akan menjadi pengikat mata penonton untuk terus tertuju pada perguliran cerita film.

Alone (2020)

Directed by John Hyams Produced by Jordan Foley, Jonathan Rosenthal, Mike Macari, Henrik JP Akesson Written by Mattias Olsson Starring Jules Willcox, Marc Menchaca, Anthony Heald Music by Nima Fakhrara Cinematography Federico Verardi Edited by Scott Roon, John Hyams Production company Mill House Motion Pictures/Paperclip Ltd./XYZ Films Running time 98 minutes Country United States Language English

Leave a Reply