Review: Greta (2019)


Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Neil Jordan (Byzantium, 2013), bersama dengan Ray Wright (The Crazies, 2010), Greta berkisah mengenai pertemuan dan perkenalan yang terjadi antara seorang pramusaji bernama Frances McCullen (Chloë Grace Moretz) dengan seorang guru piano bernama Greta Hideg (Isabelle Huppert) setelah Frances McCullen mengembalikan tas milik Greta Hideg yang tertinggal di kereta yang mereka naiki bersama. Sosok Greta Hideg yang hidup dalam kesendirian setelah kematian sang suami dan ditinggal oleh puterinya yang menuntut ilmu ke luar negeri ternyata menyita perhatian dan simpati Frances McCullen – yang juga baru kehilangan ibu kandungnya dan memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan sang ayah, Chris McCullen (Colm Feore). Hubungan keduanya lantas berkembang menjadi hubungan persahabatan dengan jalinan komunikasi yang terjadi secara intens. Namun, ketika Frances McCullen menemukan sebuah rahasia kelam dari kehidupan Greta Hideg yang dapat membahayakan hidupnya, Frances McCullen sadar bahwa ia harus segera menjauh sekaligus mengakhiri hubungan persahabatan tersebut.

Greta sebenarnya memiliki begitu banyak potensi untuk menjadi sebuah thriller yang tidak hanya mampu tampil menegangkan tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyenangkan para penontonnya. Alur pengisahannya sendiri mungkin telah dapat ditebak dengan mudah. Sebuah alur pengisahan yang memberikan beberapa sentuhan alternatif pada kisah-kisah serupa yang sebelumnya telah dieksplorasi oleh film-film seperti Fatal Attraction (Adrian Lyne, 1987), Single White Female (Barbet Schroeder, 1992), Obsessed (Steve Shill, 2009), atau The Boy Next Door (Rob Cohen, 2015). Berbeda dengan film-film tersebut, Jordan dan Wright menghadirkan nada penceritaan yang cenderung lebih ringan dan sederhana pada naskah cerita Greta. Hampir di sepanjang 98 menit durasi penceritaan film ini, interaksi yang terbentuk berfokus pada kedua karakter utama. Cukup baik dalam menjaga intensitas ketegangan cerita namun terasa hampa dalam pengelolaan konflik cerita.

Dengan minimnya konflik sampingan yang disajikan untuk mendampingi konflik utama yang terbentuk antara kedua karakter utama, pilihan Jordan untuk menghadirkan Greta dalam tempo pengisahan yang terlalu cepat juga terasa kurang tepat. Lihat saja bagaimana hubungan antara karakter Frances McCullen dan Greta Hideg yang terasa dibangun dengan buru-buru sehingga gagal untuk tampil meyakinkan. Hal ini masih ditambah dengan terlalu cepatnya sisi misteri dari kehidupan karakter Greta Hideg dibuka pada penonton. Hasilnya, Greta kemudian berisi pengulangan demi pengulangan momen ketegangan antara kedua karakter utama sebelum Jordan akhirnya memutuskan untuk menghadirkan puncak pengisahan pada paruh akhir cerita. Karakter-karakter pendukung yang hilir mudik di sepanjang linimasa cerita film juga lebih sering hanya hadir sebagai penggerak kisah belaka tanpa pernah mampu membuat film ini tampil bercerita lebih kuat.

Terlepas dari lemahnya kualitas cerita film, Greta harus diakui tidak pernah hadir sebagai sebuah presentasi yang membosankan. Penampilan Huppert dan Moretz jelas memberikan dorongan kualitas tersebut. Seperti yang ditampilkannya pada Elle (Paul Verhoeven, 2016), Huppert memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk menghadirkan sosok wanita dengan perilaku yang dingin sekaligus “berbahaya” bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam Greta, kapabilitas tersebut ditampilkan Huppert dengan nada yang jauh dari kesan serius namun tetap akan mampu membuat penonton merasakan esensi “kegilaan” dari karakter yang diperankannya. Moretz juga sukses mengimbangi penampilan apik Huppert. Sebagai dua karakter dengan latar belakang kisah kehidupan yang hampir serupa dan kemudian saling menemukan satu sama lain, Moretz menjadikan karakternya sebagai sosok pendamping sebelum akhirnya mampu menghadirkan kekuatan personalnya untuk menjauh dari karakter yang diperankan Huppert. Tanpa penampilan prima Huppert dan Moretz mungkin Greta akan hadir dengan kualitas cerita yang jauh lebih buruk. Maika Monroe, yang berperan sebagai sosok sahabat bagi karakter Frances McCullen, mungkin merupakan satu-satunya karakter dengan kesan hangat yang dimiliki oleh Greta. Monroe tidak menyia-nyiakan setiap menit momen penampilan karakternya dan sukses untuk mencuri perhatian. [C-]

greta-isabelle-huppert-chloe-grace-moretz-movie-posterGreta (2019)

Directed by Neil Jordan Produced by Sidney Kimmel, John Penotti, James Flynn, Lawrence Bender, Karen Richards Written by Ray Wright, Neil Jordan (screenplay), Ray Wright (story) Starring Isabelle Huppert, Chloë Grace Moretz, Maika Monroe, Colm Feore, Stephen Rea, Zawe Ashton, Graeme Thomas King, Parker Sawyers, Jeff Hiller Music by Javier Navarrete Cinematography Seamus McGarvey Edited by Nick Emerson Production companies Sidney Kimmel Entertainment/Showbox/Starlight Culture Entertainment Group/Screen Ireland/Lawrence Bender Productions/Metropolitan Films/Little Wave Productions Running time 98 minutes Country United States, Ireland Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s