Review: 12 Strong (2018)


12 Strong jelas bukanlah film produksi Hollywood perdana yang membawakan tema mengenai serangan teroris ke Amerika Serikat pada 11 September 2001. Namun, berbeda dengan film-film seperti Flight 93 (Paul Greengrass, 2006), World Trade Center (Oliver Stone, 2006), Remember Me (Allen Coulter, 2010), atau Extremely Loud and Incredibly Closer (Stephen Daldry, 2011) yang membawa penontonnya ke detik-detik terjadinya tragedi tersebut, 12 Strong menghadirkan sebuah kisah nyata yang tidak banyak diketahui publik tentang pengiriman tim militer Amerika Serikat ke Afghanistan untuk menemukan sosok yang berada di balik serangan teror tersebut. Merupakan debut pengarahan dari Nicolai Fuglsig, 12 Strong mendapatkan dukungan solid dari deretan pengisi departemen aktingnya yang mampu menciptakan deretan karakter yang tampil begitu meyakinkan. Sayangnya, dengan durasi pengisahan yang mencapai 129 menit dan tema pengisahan yang sebenarnya memiliki susunan intrik yang kuat, 12 Strong justru gagal hadir dengan jalinan cerita yang lebih mengikat.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ted Tally (Red Dragon, 2002) dan Peter Craig (The Town, 2010) berdasarkan buku karya Doug Stanton yang berjudul Horse Soldiers, 12 Strong berkisah mengenai Captain Mitch Nelson (Chris Hemsworth) dan sebelas orang anggota timnya yang berasal dari gabungan pihak Central Intelligence Agency dan pasukan militer Angkatan Darat Amerika Serikat yang terpilih menjadi pasukan pertama yang dikirimkan Amerika Serikat ke wilayah Afghanistan untuk melakukan perlawanan terhadap pihak Taliban yang dianggap bertanggungjawab terhadap peristiwa serangan teroris ke Amerika Serikat pada 11 September 2001. Jelas bukan sebuah masalah mudah. Namun, dengan kemampuan negosiasi Captain Mitch Nelson yang mampu menjalin kerjasama dengan pasukan Aliansi Utara pimpinan General Abdul Rashid Dostum (Navid Negahban) yang memiliki agenda sendiri dalam melawan pihak Taliban, Captain Mitch Nelson dan pasukannya mulai menemukan titik terang dalam perjalanan perang mereka.

Dengan keberadaan Jerry Bruckheimer – yang telah berpengalaman dalam menggarap film-film sejenis seperti Pearl Harbor (Michael Bay, 2001) dan Black Hawk Down (Ridley Scott, 2001) – yang duduk sebagai salah satu produser bagi film ini, rasanya tidak mengherankan untuk melihat 12 Strong hadir dengan deretan adegan aksi yang tergarap dengan meyakinkan. Sebagai sebuah film yang membawakan tema peperangan, 12 Strong hadir dengan garapan aksi dan tata efek visual yang kuat. Pengarahan Fuglsig mampu menjadikan adegan-adegan tersebut sebagai bagian terbaik dari 12 Strong – hadir dengan banyak momen menegangkan sekaligus emosional yang jelas akan membuat para penonton film ini berpegangan erat pada kursi menonton mereka.

Di saat yang bersamaan, sebagai film yang memuat kisah nyata tentang sebuah kepingan sejarah, naskah cerita 12 Strong, sayangnya, tidak mampu menawarkan komposisi pengisahan yang solid. Kehadiran banyak karakter dalam alur pengisahannya kemudian gagal untuk mendapatkan pengembangan yang kuat. Karakter-karakter tersebut tampil begitu dangkal dan seringkali terasa berlalu begitu saja tanpa pernah mendapatkan penggalian karakter maupun kisah yang mumpuni. Konflik yang disajikan film ini juga nyaris seluruhnya terasa begitu monoton. Beberapa potensi pengisahan yang menarik – seperti kisah hubungan persahabatan yang terjalin antara karakter Captain Mitch Nelson dengan General Abdul Rashid Dostum atau hubungan antara anggota pasukan pimpinan Captain Mitch Nelson – disajikan setengah matang. Penonton memang akan merasa kagum dengan sajian aksi dan efek visual film ini. Namun, ketika adegan-adegan tersebut menghilang dari jalan penceritaan, 12 Strong terasa begitu datar dan membosankan untuk diikuti pengisahannya.

Kedangkalan karakter-karakter yang hadir dalam jalan penceritaan film juga tidak mampu diselamatkan oleh kehadiran deretan jajaran pemeran yang tampil dengan kemampuan akting mereka yang tidak mengecewakan. Diisi oleh nama-nama seperti Hemsworth, Michael Shannon, Michael Peña, hingga Trevante Rhodes, departemen akting 12 Strong sayangnya tidak mampu berbuat banyak untuk menghidupkan maupun menyelamatkan deretan karakter yang tergambar dengan kualitas yang cukup menyedihkan. Secara keseluruhan, 12 Strong sebenarnya bukanlah sebuah presentasi yang benar-benar buruk. Namun, dengan potensi kuat yang sebenarnya dimiliki oleh jalan penceritaan film ini, 12 Strong hadir dengan garapan naskah cerita yang terlalu lemah untuk mampu membuat film ini meninggalkan kesan yang lebih mendalam daripada sekedar film aksi peperangan yang hanya mengandalkan adegan-adegan ledakan belaka. [C-]

12-strong-chris-hemsworth-movie-poster12 Strong (2018)

Directed by Nicolai Fuglsig Produced by Jerry Bruckheimer, Molly Smith, Thad Luckinbill, Trent Luckinbill Written by Ted Tally, Peter Craig (screenplay), Doug Stanton (book, Horse Soldiers) Starring Chris Hemsworth, Michael Shannon, Michael Peña, Navid Negahban, Trevante Rhodes, Geoff Stults, Thad Luckinbill, William Fichtner, Rob Riggle, Elsa Pataky, Austin Stowell, Ben O’Toole, Austin Hébert, Kenneth Miller, Kenny Sheard, Jack Kesy, Numan Acar, Fahim Fazli Music by Lorne Balfe Cinematography Rasmus Videbæk Edited by Lisa Lassek Production company Alcon Entertainment/Black Label Media/Jerry Bruckheimer Films Running time 129 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s