Review: Downsizing (2017)


Setelah memenangkan Academy Awards untuk naskah cerita yang mereka tulis bagi film The Descendants (2011), Alexander Payne dan Jim Taylor kembali berkolaborasi dalam film terbaru arahan Payne, Downsizing. Kali ini, keduanya menawarkan sebuah kisah satir sosial yang dibungkus dengan pola pengisahan fiksi ilmiah yang jelas memiliki warna yang cukup berbeda dengan film-film arahan Payne sebelumnya. Harus diakui, ide cerita yang dimiliki oleh Payne dan Taylor – tentang penemuan prosedur penyusutan ukuran tubuh manusia dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari kepunahan – jelas terdengar sebagai sebuah premis pengisahan yang segar sekaligus fantastis. Sayangnya, ide besar tersebut kemudian seringkali tidak mampu untuk mendapatkan pengembangan yang lebih kuat sehingga gagal tampil untuk menjadi presentasi cerita yang lebih mengikat.

Pengisahan Downsizing sendiri dimulai ketika pasangan suami istri, Paul (Matt Damon) dan Audrey Safranek (Kristen Wiig), yang sedang dilanda masalah finansial kemudian memutuskan untuk mengikuti program penyusutan ukuran tubuh yang sedang popular dan bergabung dengan sebuah komunitas baru dimana kesejahteraan mereka dijamin akan menjadi lebih baik. Sial, seusai Paul Safranek menjalani prosedur penyusutan ukuran tubuhnya, ia menerima telepon dari Audrey Safranek yang mengatakan bahwa dirinya terlalu takut untuk menjalani prosedur tersebut dan akhirnya membatalkan keikutsertaannya. Paul Safranek akhirnya pindah sendirian ke Leisureland – nama kota buatan dimana para manusia yang telah mengikuti program penyusutan ukuran tubuh menjalani kehidupan barunya. Jelas, masa-masa awal kesendiriannya di Leisureland dijalani dengan penuh duka. Namun, secara perlahan, Paul Safranek mulai menemukan kebahagiaan dan arti kehidupan baru – khususnya ketika ia bertemu dengan pembersih rumah yang berasal dari Vietnam, Ngoc Lan Tran (Hong Chau), yang berhasil membuka matanya untuk melihat hal-hal baru dalam kehidupannya.

Sebagai sebuah film yang dipenuhi dengan deretan satir sosial yang cukup kuat – mulai dari isu tentang kondisi lingkungan, politik, krisis ekonomi dan finansial, pandangan tentang posisi kaum imigran, terorisme, hingga kesenjangan sosial – Payne dan Taylor, sayangnya, menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menggambarkan konsep cerita yang ingin mereka sampaikan pada Downsizing daripada benar-benar terjun dan menyelami langsung deretan konflik yang mampu membuat penonton memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam pengisahan film ini. Hal ini khususnya benar-benar dapat dirasakan pada paruh awal presentasi cerita Downsizing yang terasa datar meskipun beberapa kali mampu diselamatkan oleh sentuhan black comedy yang disalurkan oleh deretan dialog yang terlontar dari karakter-karakter dalam jalan cerita film. Tidak benar-benar buruk namun Downsizing jelas akan tampil lebih efektif jika Payne hadir dengan fokus pengisahan yang lebih tajam.

Downsizing baru benar-benar terasa hidup – dan bahkan mampu tampil emosional – ketika jalan ceritanya akhirnya bergerak dari karakter Paul Safranek dan mulai mengembangkan karakter-karakter pendukung yang berada di sekitarnya. Karakter-karakter pendukung tersebut berhasil memberikan warna yang lebih tegas pada banyak konflik yang kemudian hadir dalam pengisahan Downsizing. Kredit khusus rasanya layak diberikan pada penampilan fantastis yang diberikan oleh Chau. Sebagai karakter Ngoc Lan Tran – yang dikisahkan sebagai sosok aktivis lingkungan hidup asal Vietnam yang kemudian disusutkan ukuran tubuhnya sebagai hukuman dari pemerintah negara tersebut – Chau menghadirkan penampilan yang terasa begitu humanis. Banyak momen-momen komikal hadir dari dialog karakternya namun, di saat yang bersamaan, Chau berhasil menjadikan karakter Ngoc Lan Tran sebagai sosok perempuan dengan masa lalu yang kelam tetap begitu tangguh dan berani menghadapi masa depannya. Sosok kompleks yang oleh penampilan Chau hadir sebagai karakter yang akan mampu menyentuh setiap penonton film ini.

Seperti halnya Chau, Damon juga dihadirkan dengan sosok karakter dengan kemuraman akan masa lalu yang kental. Damon mampu menghantarkan perjalanan karakternya – dari sosok yang pesimis hingga akhirnya mengenal sebuah harapan dan berubah menjadi karakter yang lebih kuat – dengan penampilan akting yang dinamis. Chemistry yang diberikan Damon dan Chau juga hadir meyakinkan. Selain Damon dan Chau, Downsizing diperkuat dengan penampilan-penampilan solid dari Christoph Waltz – yang meskipun tampil dengan karakter yang cukup monoton namun mampu memberikan penampilan yang menyenangkan, Wiig – yang begitu mencuri perhatian sehingga ketika karakternya menghilang, Downsizing kemudian terasa kehilangan sedikit detak kehidupannya, hingga penampilan singkat dari Jason Sudeikis, Rolf Lassgård, dan Ingjerd Egeberg. Jangan lewatkan pula penampilan-penampilan dari beberapa wajah popular Hollywood yang hadir sebagai kameo pada beberapa adegan di film ini.

Di tengah miskinnya ide baru dan segar yang ditawarkan oleh Hollywood kepada para penikmat produk-produknya, Downsizing jelas terasa sebagai sebuah sajian yang sangat menyenangkan. Sayang, dengan ide yang begitu besar dan berani dalam menyentuh berbagai isu sosial yang tampil relevan dengan kehidupan manusia di era modern ini, Downsizing kemudian kurang berhasil untuk tampil dengan eksekusi yang benar-benar mampu mengembangkan ide besar tersebut secara lebih matang. Beruntung, pengarahan Payne dan penampilan para pengisi departemen aktingnya mampu memberikan sentuhan yang kuat bagi performa kualitas keseluruhan dari film ini. [B-]

downsizing-matt-damon-hong-chau-movie-posterDownsizing (2017)

Directed by Alexander Payne Produced by Mark Johnson, Alexander Payne, Jim Taylor Written by Alexander Payne, Jim Taylor Starring Matt Damon, Christoph Waltz, Hong Chau, Kristen Wiig, Jason Sudeikis, Maribeth Monroe, Udo Kier, Rolf Lassgård, Ingjerd Egeberg, Søren Pilmark,  Margo Martindale, James Van Der Beek, Niecy Nash, Donna Lynne Champlin, Don Lake, Neil Patrick Harris, Laura Dern, Brigette Lundy-Paine, Joaquim de Almeida, Eric Burns Music by Rolfe Kent Cinematography Phedon Papamichael Edited by Kevin Tent Production company Ad Hominem Enterprises Running time 135 minutes Country United States Language English

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s