Review: Agora (2009)


Apakah agama akan selalu bersinggungan dengan ilmu pengetahuan? Atau kedua sisi tersebut harus benar-benar dipisahkan antara satu sama lain? Tema tersebut mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendiskusikannya. Sutradara asal Spanyol, Alejandro Amenábar (The Others, 2001) mencoba memaparkan sedikit mengenai hal ini berdasarkan kisah historis mengenai Hypatia, seorang filsuf wanita dari era Mesir kuno, dalam film terbarunya, Agora.

Terlahir dari keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berada, Hypatia (Rachel Weisz), menjadi telah terbiasa menerima berbagai pengetahuan baru di setiap hari kehidupannya, khususnya dari sang ayah, Theon (Michael Lonsdale). Bersama ayahnya, Hypatia mengajarkan pengetahuan kepada para pemuda di kota Agora di sebuah institusi yang dilengkapi perpustakaan yang berisi banyak kumpulang pengetahuan dari para filsuf Yunani.

Hypatia sendiri merupakan seorang profesor yang terkenal dengan ilmu filosofinya dan sangat tertarik dengan dunia astronomi. Bersama dengan rekan-rekannya, seringkali Hypatia melakukan pembahasan mengenai teori apakah Bumi menjadi pusat dari alam semesta, ataukah Bumi adalah bagian dari alam semesta yang ikut mengelilingi matahari. Karena dedikasinya di bidang ilmu pengetahuan dan penelitiannya mengenai astronomi tersebutlah, Hypatia seringkali menolak lamaran pria yang datang padanya.

Hypatia sendiri hidup di saat era kepercayaan Pagan mulai mengalami pengunduran setelah datangnya agama Kristen, termasuk di Agora. Dua pemeluk kepercayaan ini seringkali mengalami bentrok karena melakukan pembelaan atas kepercayaannya masing-masing. Pada suatu ketika, para Pagan memutuskan untuk menyerang umat Kristen yang saat itu sedang berkumpul dan mengolok-olok beberapa patung dewa yang disembah umat Pagan. Penyerangan itu ternyata berbalik arah. Kaum Pagan tidak menyadari bahwa umat Kristen di Agora sudah sedemikian banyak. Kaum Pagan akhirnya tersingkir. Hypatia dan para penghuni perpustakaan pun berusaha menyelamatkan berbagai tulisan kuno karena kaum Kristen telah menjadikan perpustakaan tersebut tujuan serangan mereka, karena dianggap sebagai pusat ibadah kaum Pagan.

Beberapa tahun setelahnya, kaum Pagan benar-benar menjadi minoritas. Bahkan, banyak diantara mereka yang telah merubah kepercayaannya menjadi Kristen. Hypatia, yang hanya peduli akan ilmu pengetahuan, tidak memperdulikan akan hal tersebut. Setiap harinya, Hypatia hanya berfokus untuk menemukan berbagai ilmu baru dan mengajarkannya. Hypatia sendiri, semenjak ditinggal mati oleh sang ayah, kini berfokus pada ilmu astronomi, dengan hasrat untuk menyibak misteri mengenai hubungan Bumi, matahari dan perputaran antara keduanya.

Sikap Hypatia yang memilih untuk bertahan pada kepercayaan Pagan-nya sendiri membuat beberapa pemuka Kristen menjadi sedikit terganggu. Lewat Cyril (Sammy Samir), seorang pendeta pimpinan kaum Kristen di Agora, kaum Kristen diwajibkan untuk menyingkirkan kaum Pagan yang tersisa agar tidak mempengaruhi pemikiran-pemikiran umat Kristen yang ada. Secara spesifik, Cyril bahkan menuding apa yang sedang dikerjakan oleh Hypatia adalah sebuah bentuk ilmu sihir. Ini membuat gejolak tersendiri bagi Orestes (Oscar Isaac), seorang gubernur yang dahulu beragama Pagan dan menuntuk ilmu kepada Hypatia, serta Davus (Max Minghella), mantan budak keluarga Hypatia, yang keduanya telah semenjak lama memendam rasa suka terhadap Hypatia.

Kalau mau dilihat secara mendasar, Amenábar sebenarnya ingin memaparkan mengenai jalan hidup seorang Hypatia dalam Agora. Namun, apa yang dilakukan Amenábar sepertinya sedikit lebih jauh dari fokus utama yang ingin dihadirkannya.

Sebagai latar belakang cerita, yang nantinya berhubungan dengan bagaimana nasib Hypatia di akhir cerita, Amenábar menggambarkan mengenai sekelompok penganut kepercayaan yang sepertinya terus menerus melakukan berbagai tindakan kekerasan kepada mereka yang tidak menuruti keinginan kaum tersebut. Sebenarnya hal ini tidak akan menjadi permasalahan besar jika Amenábar mampu menyeimbangkan kedua sisi cerita ini. Namun, di sepanjang Agora, Amenábar lebih sering terlihat memanjangkan kisah latar cerita daripada kehidupan Hypatia sendiri. Hasilnya, hubungan emosional antara penonton dengan karakter Hypatia menjadi kurang dapat terjalin dengan baik.

Dari segi filmis, Amenábar berhasil memberikan sebuah gambaran yang sangat mengagumkan mengenai Agora. Dipenuhi oleh berbagai sinematografi yang indah untuk menggambarkan Agora, Amenábar juga berhasil menyusun secara detil mengenai berbagai hal yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan kota Agora di saat itu.

Dari departemen akting, Rachel Weisz tentu saja yang menjadi perhatian utama dari film ini. Sebagai pemeran karakter utama, sekaligus satu-satunya tokoh wanita yang hadir di sepanjang jalan cerita, Weisz tampil sesuai sebagai Hypatia yang memiliki pemikiran yang maju dan pintar dibandingkan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Weisz tidak hanya mampu memberikan gambaran mengenai seorang Hypatia yang pintar, ia juga memberikan keanggunan tersendiri pada karakter tersebut yang membuat Hypatia benar-benar menjadi fokus perhatian setiap ia hadir dalam adegannya.

Sebagai sebuah drama bertema sejarah, Agora hadir dengan tampilan visual yang sangat memuaskan. Alejandro Amenábar berhasil memberikan setiap detil mengenai bagaimana keadaan Agora dengan sangat baik. Sayangnya, naskah cerita ini sepertinya terlalu terfokus pada penceritaan mengenai konflik agama yang terjadi di saat itu, daripada berfokus pada kisah pribadi yang dialami sang karakter utama. Tidak begitu fatal, namun penonton seperti kehilangan sedikit kehilangan hubungan emosional dengan jalan cerita yang ada. Durasi yang panjang dan tema yang tidak umum mungkin akan menghalangi sebagian orang untuk menikmati film ini. Namun, secara keseluruhan, Agora bukanlah sebuah pencapaian yang mengecewakan.

Rating: 3.5 / 5

Agora (Mod Producciones/Himenóptero/Telecinco Cinema/Canal+ España/Cinebiss/Focus Features, 2009)

Agora (2009)

Directed by Alejandro Amenábar Produced by Fernando Bovaira Written by Alejandro Amenábar, Mateo Gil Starring Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac Music by Dario Marianelli Cinematography Xavi Giménez Editing by Nacho Ruiz Capillas Studio Mod Producciones/Himenóptero/Telecinco Cinema/Canal+ España/Cinebiss Distributed by Focus Features Running time 126 minutes Country Spain Language English, Spanish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s