Review: W. (2008)

Ketika sutradara Oliver Stone mengumumkan rencananya untuk membuat sebuah film biografi mengenai Presiden Amerika Serikat ke-43, George Walker Bush, semua orang menjadi penasaran dengan film seperti apa yang akan dihasilkannya. Selain karena ingin tahu bagaimana sudut pandang Stone terhadap Bush, para penggemar dan kritikus film dunia juga sepertinya ingin melihat sesuatu yang ‘berani’ dari Stone, seperti yang sering ia perlihatkan di awal karirnya.

Presiden Bush sendiri saat itu sedang berada pada titik dimana, dapat dikatakan, sedang dibenci oleh seluruh umat manusia di dunia akibat kebijakan perangnya. Sementara Stone, yang sempat banyak dipuji kritikus dunia karena keberanian sudut pandangnya di setiap film yang ia rilis, sedang berada pada titik dimana banyak orang yang mengira ia semakin melunak, khususnya setelah film bertema tragedi 9/11 yang ia buat, World Trade Center, yang dianggap banyak orang kurang begitu berhasil.

Dengan naskah yang ditulis oleh Stanley Weiser, yang mendasarkannya pada 17 buku biografi mengenai George Walker Bush dan keluarganya, akhirnya Stone memfilmkan W. dengan membuatnya senada dengan The Queen: menjadi sebuah film yang menceritakan satu bagian dari kehidupan George Walker Bush, dimana dalam W. akan menceritakan detik-detik dimana Bush membuat keputusan kontroversialnya yang memutuskan untuk menyerang Irak.

Lewat alur maju mundur, film ini menceritakan beberapa bagian kehidupan George Walker Bush (Josh Brolin) sebelum hingga ketika ia menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Bush sendiri digambarkan pada awalnya sebagai seorang ‘anak yang gagal’ di keluarganya. Bush muda lebih sering keluar bersenang-senang menghabiskan uang sang ayah, George HW Bush (James Cromwell), yang seorang pengusaha ternama, daripada berusaha bekerja atau belajar seperti saudara-saudara lainnya.

Di dalam dirinya, Bush sebenarnya merasa tertekan atas keberadaan keluarganya yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Ia seringkali tidak dianggap oleh sang ayah — yang menyebabkan mereka berdua sering terlibat percekcokan mulut — karena dianggap akan melakukan hal yang sia-sia dengan mewujudkan mimpinya sebagai seorang manajer tim baseball. Walau sering berfoya-foya dan menjadi pecandu alkohol, Bush berhasil menyelesaikan sekolahnya di Yale dan Harvard. Ketika itulah ia kemudian ingin mengikuti jejak sang ayah di politik: dengan mencalonkan diri menjadi Gubernur Texas di tahun 1977, dan gagal.

Mendekati usia 40, dan telah memiliki istri, Laura (Elizabeth Banks), Bush akhirnya benar-benar seperti terlahir kembali. Ia menjadi seorang yang taat beragama, berhenti dari foya-foya dan alkohol serta memfokuskan dirinya di dunia politik. Ia, bersama beberapa temannya, kemudian menjadi tim sukses sang ayah yang mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat di tahun 1989, dan berhasil memenangkannya. Keberhasilannya dalam memenangkan sang ayah inilah yang semakin mendorong hasrat Bush untuk terjun ke dunia politik.

Terjunnya ia di dunia politik dimulainya dengan mencalonkan diri menjadi Gubernur Texas, yang kemudian ia menangkan. Langkah berikutnya, seperti yang diketahui banyak orang, adalah mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat di tahun 2000. Dengan hasil yang kontroversial (simak review Fahrenheit 9/11), ia pun berhasil memenangkan pemilihan umum. Masa kepemimpinannya sendiri kemudian diikuti oleh serangkaian tragedi, termasuk tragedi 9/11. Dari tragedi itulah, Bush mulai melirik berbagai cara untuk melindungi rakyatnya, termasuk dengan memerangi Irak, yang dianggapnya memiliki potensi terorisme terbesar yang dapat mengancam keselamatan warganya. W. kemudian berputar pada berbagai perundingan yang dilakukan oleh George W. Bush bersama seluruh staf-stafnya sebelum melakukan invasi ke Irak.

Mengenyampingkan sisi politis, dan hanya memandang film ini dari sisi filmis, maka setiap penonton tentu akan merasa tidak diberikan apa-apa oleh Oliver Stone, selain mengenai kisah pribadi George W. Bush semasa muda sebagai seorang pecandu alkohol. Di sisi lain, film ini gagal memberikan dramatisasi dari inti permasalahan yang ingin diungkapkan Stone lewat film ini, yakni mengenai pandangan mendalam dari orang-orang Gedung Putih mengapa invasi ke Irak oleh Amerika Serikat dapat terjadi.

Permasalahan tersebut mungkin muncul setelah keputusan Stone yang menggunakan alur maju mundur dalam penggambarannya terhadap kisah hidup George W. Bush. Di satu sisi, penonton tidak dapat dengan benar-benar terfokus pada proses pembentukan ide dari invasi Amerika Serikat ke Irak, di sisi lain, Stone sangat lemah dalam memanfaatkan sisi dramatikal yang dapat digali dari kehidupan masa muda Bush. Padahal, seperti layaknya film biografi lainnya, Stone sebenarnya dapat saja membumbui kisah perseteruan antara Bush, Sr dengan Bush, Jr atau ketika Bush, Jr masih dilingkari dengan permasalahan kecanduannya akan alkohol.

Naskah yang tidak dapat menangkap perhatian para penontonnya secara penuh, membuat akting para jajaran pemeran film ini menjadi sia-sia. Padahal, dapat diakui jajaran pemeran film ini memberikan penampilan meraka yang sangat sempurna. Lihat saja bagaimana Josh Brolin memerankan tokoh Bush, Jr semenjak ia muda hingga ia duduk di kursi kepresidenan. Brolin berhasil mambawakan sisi manusiawi dari seorang Bush, Jr yang bahkan para pembencinya akan mengakui bahwa ternyata Bush, Jr adalah seorang manusia biasa. W. juga menampilkan akting bagus dari aktris Elizabeth Banks, sebagai istri Bush, Jr, yang sayangnya, penampilan karakternya dalam W. sangat kurang tergali dengan baik. Selain Brolin dan Banks, film ini juga menampilkan penampilan yang baik dari para aktor dan aktris pendukungnya. Namun, seperti yang diutarakan sebelumnya, menjadi kurang begitu dihargai akibat naskah yang sangat lemah serta beberapa karakter yang kurang tergali dengan baik.

Kurang tergalinya beberapa karakter di film W. mungkin disebabkan oleh keputusan Stone yang ingin menjadikan film ini sebagai filmnya George Walker Bush. Sayangnya, sisi kehidupan Bush, Jr sendiri sepertinya kurang memiliki konflik-konflik hangat yang dapat menjadikan sebuah film biografi menjadi menarik. Kurangnya konflik malah diperparah dengan kurangnya penyempurnaan sisi drama yang dihadirkan di sepanjang film. Hasilnya, film ini sangat terasa sekali kurang gregetnya dan kurang mengena kepada para penontonnya. Setidaknya, para penonton masih dihargai dengan akting para jajaran pemeran film ini yang sangat jauh dari mengecewakan.

Rating: 3 / 5

W. (Lions Gate Entertainment, 2008)

W. (2008)

Directed by Oliver Stone Produced by Moritz Borman, Jon Kilik, Bill Block, Oliver Stone Written by Stanley Weiser Starring Josh Brolin, Elizabeth Banks, James Cromwell, Ellen Burstyn, Richard Dreyfuss, Toby Jones, Thandie Newton, Jeffrey Wright, Scott Glenn, Bruce McGill, Jennifer Sipes, Noah Wyle, Ioan Gruffudd, Robb Cordry, Jason Ritter, Stacy Keach, Jesse Bradford, Colin Hanks, Marley Shelton Cinematography Phedon Papamichael Jr Editing by Julie Monroe Distributed by Lions Gate Entertainment Running time 129 min Country United States Language English

Leave a Reply