Review: My Name is Khan (2010)


Selepas terjadinya tragedi 9/11, dimana pemerintah Amerika Serikat langsung menuduh keberadaan golongan ekstrimis Muslim Al-Qaeda yang berada di balik peristiwa tersebut, tak pelak membuat perubahan cara pandang terhadap setiap warga Muslim yang berada disana. Bagi sebagian mereka yang memiliki cara pandang sempit, warga Muslim yang berada di sekitar mereka tentu akan dipandang sebagai bagian dari sebuah ancaman terorisme pula.

Dasar cerita inilah yang dipakai oleh Karan Johar pada film teranyarnya, My Name is Khan. Selain menyinggung masalah diatas, film yang menjadi film keempat yang pernah diarahkan oleh Johar ini, juga menyinggung masalah perselisihan antara kaum Muslim dan kaum Hindu di Pakistan. Walau begitu, tetap saja, seperti layaknya di film-film Karan Johar terdahulu, tema arti kekuatan cinta yang sesungguhnya-lah yang menjadi pondasi utama dari My Name is Khan.

My Name is Khan juga kembali mempertemukan Johar kembali dengan salah satu pasangan paling ideal di perfilman Bollywood, Shahrukh Khan dan Kajol. Ini merupakan pertemuan mereka yang pertama kalinya dalam sembilan tahun setelah Johar merilis Kabhie Khushi Kabhie Gham yang sukses ketika dirilis pada tahun 2001 silam.

Film ini sendiri mengisahkan mengenai kisah hidup dari Rizwan Khan (Tanay Chheda), seorang Muslim India penderita sindrom Asperger — sebuah sindrom dimana sang penderita mengalami autisme dan susah berinteraksi dengan lingkungannya — yang semenjak kecil kehidupannya selalu diwarnai dengan kesusahan. Hanya sang ibulah (Zarina Wahab) yang menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bagaimana Rizwan.

Selepas meninggalnya sang ibu, Rizwan (dewasa, diperankan oleh Shahrukh Khan) pindah ke Amerika Serikat mengikuti sang adik, Zakir (Jimmy Sherrgil), yang telah terlebih dahulu hidup disana selama puluhan tahun. Disinilah petualangan hidup Rizwan dimulai. Ia bertemu dengan Mandira (Kajol), seorang wanita Hindu yang bekerja di sebuah salon, dan perlahan mulai jatuh cinta padanya. Karena perbedaan agama inilah — yang juga didasari konflik antara umat Hindu dan umat Islam di India — sang adik menentang keras hubungan mereka berdua. Walau begitu, Rizwan tetap memutuskan untuk menikahi Mandira, dengan segala perbedaan antara mereka berdua, termasuk agama. Bersama Sameer (Yuvaan Makaar), anak Mandira dari pernikahan sebelumnya, mereka bertiga pindah ke Los Angeles dan memulai hidup baru disana.

Walaupun tidak merubah kepercayaannya, Mandira dan Sam (nama panggilan Sameer) tidak keberatan untuk merubah nama belakang mereka menjadi Khan , sebuah nama belakang yang identik dengan Islam di India. Namun, tragedi 9/11 yang terjadi di kemudian hari akan merubah kehidupan warga Amerika Serikat, termasuk kehidupan Rizwan, Mandira dan Sam. Atas dasar kebencian terhadap umat Muslim, Sam menjadi korban penganiayaan sekelompok anak di sekolahnya. Sam akhirnya meninggal dunia. Dalam keadaan kalut, Mandira justru menyalahkan Rizwan atas kematian Sam. Ia menyalahkan keputusannya yang menikahi seorang Muslim dan mengganti nama belakangnya dan Sam, sehingga Sam akhirnya menjadi korban. Dalam kemarahannya, Mandira mengusir Rizwan dan memintanya untuk menemui Presiden Amerika Serikat dan mengatakan padanya bahwa seorang Khan bukanlah seorang teroris.

Tentu saja, karena sindrom Asperger yang ia derita, Rizwan mencerna kalimat tersebut secara penuh. Ia akhirnya meninggalkan Mandira dan mulai bertualang untuk mencari jalan untuk bertemu Presiden Amerika Serikat dan mengatakan padanya bahwa dirinya bukanlah seorang teroris seperti yang selama ini kebanyakan warga Amerika Serikat kira pada umat Muslim kebanyakan.

Seperti yang diutarakan sebelumnya, walaupun menggunakan sisi relijius sebagai bagian dasar dari naskah cerita, namun tetap saja My Name is Khan masih merupakan sebuah bagian dari film Johar: film yang mengisahkan tentang cinta, kekuatan cinta dan… well… apapaun yang berhubungan dengan tema kekuatan cinta akan mampu merubah segalanya. Semenjak awal, My Name is Khan berjalan sangat sempurna sebagai sebuah film drama. Johar mampu memberikan lapisan yang ringan dan lebih membumi pada tema mengenai konflik agama, yang terdengar berat dan sensitif, sehingga My Names is Khan mampu dapat dicerna dengan mudah.

Namun sayangnya, kekuatan naskah film ini yang semenjak awal telah berhasil dijaga baik dengan Johar, semakin menurun kualitasnya ketika menuju bagian akhir cerita. Film yang pada awalnya terasa sangat membumi ini, tiba-tiba berubah menjadi sebuah film dengan sentuhan drama yang terlalu hiperbolis dan sedikit tidak masuk akal. Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa film-film Bollywood seringkali terjebak dengan stereotype cerita yang hiperbolis, namun setengah dari durasi film ini berjalan sebagai sebuah film yang humanis, dimana karakter Rizwan adalah manusia biasa dan My Name is Khan serasa sebagai sebuah drama yang sangat, sangat berkualitas tinggi. Menit dimana Rizwan berubah menjadi seorang ‘bukan manusia biasa’ dan ‘apa saja yang ia lakukan serasa benar’ membuat My Name is Khan jatuh kembali ke kategori sebuah film stereotype Bollywood. Ini membuat karakter Rizwan yang awalnya dekat dengan penonton, menjadi semakin menjauh dan menjauh hingga akhir cerita.

Tidak diragukan, setengah dari kekuatan film ini dipegang penuh oleh kolaborasi hangat dari duo Shahrukh Khan dan Kajol. Dan harus Anda akui, ketika pasangan ini sedang berada di adeagn film, My Name is Khan sangat terasa kualitasnya. Chemistry yang telah tersusun baik antara Khan dan Kajol semenjak puluhan tahun silam, ternyata mampu dibangkitkan kembali oleh mereka. Simak saja bagaimana adegan ketika Rizwan mengucapkan ‘marry me’ terhadap Mandira yang sangat lucu sekaligus romantis tersebut. Chemistry hangat antara keduanya pula yang berhasil membuat beberapa adegan lucu-nan-romantis khas film Bollywood menjadi sangat mengesankan di film ini. Hal ini pula yang mungkin menjelaskan mengapa film ini serasa kekurangan nyawa ketika karakter Rizwan dan Mandira digambarkan berpisah. Semua kehangatan yang tadi dirasakan penonton ikut hilang dari jalan cerita.

Satu hal yang juga sangat memorable ketika menyaksikan My Name is Khan adalah jalinan musik yang ditampilkan oleh trio Shankar-Ehsaan-Loy. Rangkaian musik latar yang mereka hadirkan serasa mampu mengisi film dengan sangat baik. Bahkan, pada beberapa adegan, musik latar yang mereka hasilkan terbukti berhasil menjadi faktor utama dari perubahan emosi penonton ketika menyaksikan My Name is Khan. Ini adalah sebuah keberhasilan yang sangat mengagumkan!

Sebagai seorang penderita sindrom Asperger, King Khan sekali lagi mampu berhasil menunjukkan posisinya yang sangat esensial di industri perfilman Bollywood. Kajol juga ternyata mampu masih memberikan kesan manis yang sama seperti yang pernah penonton lihat di film-filmnya sebelumnya. Masih tetap sama, namun tidak pernah membosankan. Kombinasi keduanya-lah yang kemudian menjadi nyawa utama film ini, yang menjadikan My Name is Khan adalah sebuah film yang akan mampu dengan mudah dicintai penontonnya. Walau kekuatan naskah cerita seperti semakin terus memudar ketika menuju penghujung film, akibat beberapa dramatisasi yang berlebihan, namun My Name is Khan tetap mampu keluar sebagai sebuah film yang berkualitas. Berada di atas Kuch Kuch Hota Hai, namun masih jauh berada di bawah Kabhie Kushi Kabhie Gham, pencapaian terbaik dari seorang Karan Johar.

Rating: 3.5 / 5

My Name is Khan (Imagenation Abu Dhabi/Dharma Productions/Red Chillies Entertainment/Fox Searchlight Pictures/20th Century Fox, 2010)

My Name is Khan (2010)

Directed by Karan Johar Produced by Hiroo Yash Johar, Gauri Khan Written by Story and screenplay Shibani Bathija Dialogues Shibani Bathija, Niranjan Iyengar Starring Shahrukh Khan, Kajol, Jimmy Shergill, Tanay Chheda Music by Shankar-Ehsaan-Loy Cinematography Ravi K. Chandran Editing by Deepa Bhatia Studio Imagenation Abu Dhabi/Dharma Productions/Red Chillies Entertainment Distributed by Fox Searchlight Pictures/20th Century Fox Running time 161 minutes Language Hindi

8 thoughts on “Review: My Name is Khan (2010)”

  1. Nice review..!

    Saya belum pernah menonton film-film Karan Johar yang lain, tapi setelah baca review ini, dan setelah menyukai My Name Is Khan, saya mau mencoba mencari film-filmnya.

    Thank you. ^^V

    1. Harus diakui, saya mengikuti karya Karan Johar karena Johar baru membuat empat film (sebagai sutradara), makanya bisa dibilang mengenal baik karya-karyanya. Kalau mau mencoba karya Johar, saya sarankan Kuch Kuch Hota Hai lanjut dengan Kabhi Alvida Naa Kehna dan kemudian ditutup dengan karya terbaiknya, menurut saya, Kabhie Kushi Kabhie Gham. Yahhh… harus bersabar-sabar sih. Seperti kebanyakan film Bollywood, durasinya suka gak nahaaaannn…

      Anyway, hati-hati juga dengan musiknya yah. Bisa-bisa berubah jadi penggemar musik-musik India lohhh… (bukannya berarti menggemari musik India tidak baik sih… :P)

  2. seutuju banget nih dengan review-nya, dipenghujung film pas adegan ditusuk oleh terorist itu serasa nggak penting banget..

    ngomongin film-filmnya si karan johar, Kabhi Alvida Naa Kehna cuma bagus di OST-nya..

  3. hmm.. pendapat gw mungkin sedikit beda sama para sahabat yang ada di sini. entah kenapa, gw ngerasa kalo gw jadi aktor di film ini, gw pasti langsung banjir air mata waktu pertama kali baca scriptnya…

    di tengah banyaknya berkeliaran film film konsumsi-kelompok sekarang ini, yang sedikit banyak menyumbangkan kultur judgemental, bigotry, over fanatic dan yang jelas sangat tidak bhinneka tunggal ika, “My Name Is Khan, berhasil menyampaikan sebuah pesan humanisme religius yang dashyat tanpa harus menjadi bias”

    herannya, gw koq melihat ada kata “berlebihan” di review, padahal jelas jalur plot 8 sequence yang coba dihadirkan para sineas dari India ini berhasil menelurkan hasil “yang sangat berlebihan.” sebuah Box Office dengan hasil hampir mendekati anak 40 Million $ dollar.

    remember, numbers dont lie…

    dan yang kenyataan yang paling simple adalah, gw… seorang penikmat film yang jarang sekali suka film India, berhasil duduk selama 3 jam lebih di bioskop sambil nahan ambisi untuk pergi ke belakang. pulang, menuturkan premis film ini kepada teman-teman dengan amatirnya, dan kembali menonton film ini untuk kedua kalinya.

    this film is good.

    untuk orang yang mempunyai filosofi tulus, “there’s only two kinds of people in this world. bad people and good people,” film ini sangat direkomendasikan.

    rating 5/5

  4. yup..review ini emang bener bang amir,di ujung film,hiperbola bollywooodny keluar,hehe..

    tapi,tetepp,kabhi khushi kabhi ghum,best movie ever nya karan johar,palagi adegan favorit q ,di mall,dmana shahrukh bertemu ibunya(jaya bachan),sumpah deh,nangis2 dah,,hehe

    1. Di bioskop? My Name is Khan sudah ditayangkan kira-kira awal tahun lalu. DVD orisinal-nya udah dirilis kok kalo kelewatan nonton di bioskop.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s