Review: The Secret Garden (2020)


The Secret Garden arahan Marc Munden (Miranda, 2002) bukanlah film pertama yang alur cerita diadaptasi dari novel klasik berjudul sama karangan penulis asal Inggris, Frances Hodgson Burnett. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1911, adaptasi film layar lebar pertama dari The Secret Garden dirilis pada tahun 1919 dengan Gustav von Seyffertitz duduk di kursi penyutradaraan dan Burnett terlibat sebagai salah satu penulis naskahnya. Sutradara Fred M. Wilcox mengarahkan adaptasi kedua dari The Secret Garden yang dirilis pada tahun 1949, sedangkan Agnieszka Holland (dan melibatkan Francis Ford Coppola sebagai produser eksekutif) menyutradarai adaptasi lainnya yang dirilis pada tahun 1993. Aktor Colin Firth yang turut berperan dalam film ini sebelumnya juga pernah terlibat dalam adaptasi film televisi dari The Secret Garden yang ditayangkan oleh saluran televisi CBS pada tahun 1987. Catatan panjang bagi koneksi sebuah novel dengan layar sinema namun apakah pengisahan The Secret Garden masih mampu memikat perhatian penonton yang datang dari era generasi terkini?

Berlatar belakang pengisahan pada tahun 1947, The Secret Garden memulai ceritanya ketika seorang anak perempuan bernama Mary Lennox (Dixie Egerickx) yang kedua orangtuanya baru saja meninggal dunia akibat penyakit kolera kini tinggal di rumah besar milik pamannya, Lord Archibald Craven (Firth). Oleh asisten rumah tangga yang mengelola rumah besar tersebut, Mrs. Medlock (Julie Walters), Mary Lennox diingatkan berulangkali untuk tidak menimbulkan masalah mengingat Lord Archibald Craven masih berduka setelah meninggalnya sang istri. Bosan, Mary Lennox lantas memilih untuk mengelilingi pekarangan di sekitar rumah tersebut dan menemukan sebuah taman yang sepertinya telah lama tidak disentuh maupun dirawat oleh manusia. Di taman tersebut, Mary Lennox secara perlahan mulai dapat mengobati rasa dukanya akan kehilangan kedua orangtuanya sekaligus, bersama dengan dua sahabat barunya, Dickon (Amir Wilson) dan Colin Craven (Edan Hayhurst), membuka lembaran-lembaran masa lalu akan kehidupan orang-orang yang disayanginya.

Harus diakui, sulit untuk merasa jatuh hati pada penuturan sebuah cerita ketika penuturan tersebut tidak pernah benar-benar mampu menentukan kepada siapa cerita tersebut ditujukan. Hal tersebut, sayangnya, terjadi pada The Secret Garden. Dengan alur cerita yang bermula di negara India – pada masa menjelang terpisahnya negara Pakistan dari India – dan momen ketika peperangan masih berkecamuk serta mengambil korban jutaan jiwa, The Secret Garden sebenarnya berniat untuk mengeksplorasi tema kelam akan rasa duka, kehilangan, serta depresi yang ditimbulkan oleh hilangnya sosok yang dicinta dari kehidupan. Namun, naskah cerita garapan Jack Thorne (Enola Holmes, 2020) sepertinya berusaha untuk tidak menjadikan barisan tema pengisahan bernada kelam tersebut hadir secara utuh mewarnai linimasa pengisahan film ini. Sial, hilangnya warna pengisahan tersebut justru membuat The Secret Garden terasa hampa tanpa adanya esensi cerita yang kuat maupun jelas.

The Secret Garden sendiri bukanlah sebuah hasil produksi yang buruk. Sebagai adaptasi film layar lebar pertama dari novel berjudul sama yang dirilis di era teknologi modern, Munden memanfaatkan dengan baik teknologi animasi untuk menghidupkan berbagai impian ataupun kenangan ataupun khayalan yang berada di kepala sang karakter utama. Tata sinematografi garapan Lol Crawley juga memberikan sokongan kuat pada penampilan apik yang diberikan tiap gambar dalam adegan film ini. Tetap saja, naskah cerita yang lemah hampir membuat The Secret Garden tidak mampu menyingkirkan rasa bosan yang muncul dari pengisahannya. Film ini mungkin berniat untuk menjadi sebuah presentasi yang ditujukan bagi para penonton muda dengan menjadikan karakter-karakter anak sebagai karakter sentral dalam pengisahan. Tapi, pengolahan cerita yang bertutur secara dewasa dan lamban justru akan membuat banyak penonton muda menjadi jenuh. Di saat yang bersamaan, ketiadaan konflik atau karakter dewasa yang menarik juga membuat The Secret Garden gagal untuk menarik perhatian penonton dewasa. The Secret Garden lantas berakhir hambar bagi semua kalangan.

Cukup disayangkan memang mengingat Munden berhasil mendapatkan talenta yang kuat untuk mengisi departemen akting filmnya. Para aktor muda, Egerickx, Wilson, dan Hayhurst, berhasil menghidupkan tiap karakter yang mereka perankan dengan baik. Chemistry yang terjalin antara ketiganya juga tampil meyakinkan untuk membuat alur kisah persahabatan antara ketiga karakter yang mereka perankan mampu terasa kuat. Sayangnya, tidak ada ruang cerita yang luas bagi karakter-karakter yang diperankan Firth maupun Walters. Karakter Lord Archibald Craven dan Mrs. Medlock nyaris tidak memiliki kegunaan apapun pada alur penceritaan The Secret Garden teranyar ini.

 

The Secret Garden (2020)

Directed by Marc Munden Produced by David Heyman, Rosie Alison Written by Jack Thorne (screenplay), Frances Hodgson Burnett (novel, The Secret Garden) Starring Dixie Egerickx, Colin Firth, Julie Walters, Edan Hayhurst, Amir Wilson, Isis Davis, Maeve Dermody, Richard Hansell, David Verrey, Tommy Surridge, Fozzie, Anne Lacey, Rupert Young, Jemma Powell, Sonia Goswami Music by Dario Marianelli Cinematography Lol Crawley Edited by Luke Dunkley Production companies StudioCanal/Heyday Films Running time 100 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s