Tag Archives: Will Smith

Review: Collateral Beauty (2016)

How do you cope with grief and loss of your loved one? Dalam film terbaru arahan David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006), Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai seorang eksekutif periklanan bernama Howard Inlet yang sedang berada dalam masa duka akibat kehilangan puteri satu-satunya yang meninggal dunia. Rasa duka tersebut telah merubah diri Howard sepenuhnya. Howard yang dulu adalah sosok pemimpin perusahaan yang optimistis dan mampu mendorong semangat orang-orang yang berada di sekitarnya kini berubah menjadi seseorang yang penyendiri, tertutup dan hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan siapapun termasuk orang-orang terdekatnya. Perubahan tersebut secara perlahan akhirnya mempengaruhi kestabilan perusahaan yang dipimpin oleh Howard. Continue reading Review: Collateral Beauty (2016)

Advertisements

Review: Focus (2015)

focus-posterDengan kemampuan akting dan daya tariknya yang demikian memikat, Will Smith pernah menjadi bintang terbesar di Hollywood. Film-film yang ia bintangi seperti Independence Day (1996), Men in Black (1997), Hitch (2007) dan Hancock (2008) berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dan meraup pendapatan lebih dari US$500 juta selama masa edarnya di seluruh dunia. Tidak hanya itu, Smith juga mampu mengimbangi kesuksesan komersialnya dengan kesuksesan artistik ketika ia berhasil meraih nominasi Best Actor in a Leading Role di ajang Academy Awards untuk perannya di film Ali (2001) dan The Pursuit of Happyness (2006). Namun, layaknya sebuah roda yang berputar, peruntungan Smith mulai menemui masa terjal. Dimulai dengan Seven Pounds (2008) yang gagal baik secara komersial maupun kritikal, film-film lain yang dibintangi Smith seperti Men in Black 3 (2012), After Earth (2013) dan Winter’s Tale (2014) turut menemui nasib yang tidak lebih baik daripada Seven Pounds. Ketidakberuntungan secara beruntun itulah yang kemudian menyebabkan banyak pihak kini memandang Smith sebagai aktor yang tidak lagi relevan di Hollywood.

Namun Hollywood selalu dipenuhi oleh kisah para petarung yang tidak akan pernah berhenti berjuang demi harga dirinya. Dan jika ada satu film yang akan mampu meremajakan kembali karir Smith yang telah melesu maka film itu adalah Focus. Film arahan duo Glenn Ficarra dan John Requa (Crazy, Stupid, Love., 2011) ini adalah sebuah film drama komedi romansa yang mampu mendayagunakan daya tarik dan kemampuan komikal Smith sebagai seorang aktor secara maksimal. Tidak seperti empat film terakhirnya dimana Smith terlihat setengah hati dalam menghidupkan karakter yang ia perankan, Smith yang hadir dalam Focus terlihat sebagai seorang aktor yang mencoba membuktikan kembali kemampuan dirinya… dan berhasil. Perannya sebagai seorang pencopet dan penipu lihai bernama Nicky Spurgeon mampu disajikan dengan begitu matang, dan benar-benar hidup.

Oh. Hal lain yang jelas mendukung kesuksesan penceritaan Focus jelas adalah kualitas penulisan naskah cerita Ficarra dan Requa yang benar-benar cerdik. Berkisah mengenai kehidupan komplotan para penipu yang mencari penghidupan mereka dengan mencopet di jalanan – plus dengan beberapa plot romansa di beberapa bagiannya, Ficarra dan Requa mampu memberikan apa yang diinginkan penonton dari film-film sejenis. Dalam penceritaannya, Focus membawa para penontonnya untuk mengenal berbagai trik penipuan yang dapat berlangsung di jalanan. Dikemas secara komikal, kejutan demi kejutan yang dikemas dengan baik oleh kedua sutradara film ini akan berhasil memberikan hiburan tersendiri bagi para penontonnya.

Focus sendiri tidak lepas dari beberapa kelemahan. Sebagai sebuah film yang berjudul Focus, Ficarra dan Requa seringkali terasa kehilangan fokus mereka dalam bercerita akibat terlalu… errr… berfokus dalam penyajian kejutan dalam cerita. Kejutan yang awalnya terasa segar di setengah bagian awal penceritaan secara perlahan mulai terasa menjemukan pada beberapa bagian akhir. Beberapa plot penceritaan juga kurang mampu terasah dengan baik, khususnya di bagian pengisahan mengenai karakter Nicky Spurgeon dan Jess Barrett (Margot Robbie) dalam menjalani kehidupan baru mereka di paruh kedua penceritaan. Belum lagi dalam hal pengaturan ritme penceritaan yang kadang terasa berbenturan antara berusaha menjadi sebuah film romansa atau film tentang kehidupan para penipu jalanan. Pengarahan cerita Ficarra dan Requa benar-benar melemah meskipun akhirnya mampu dibangkitkan kembali di penghujung bagian ketiga penceritaan.

Berbicara mengenai Margot Robbie, Focus juga mampu tampil demikian memikat berkat chemistry yang demikian erat antara Smith dan Robbie. Jalinan love and hate relationship yang terjalin antara dua karakter yang mereka perankan benar-benar mampu diterjemahkan dengan sangat baik. Robbie sendiri – selepas penampilannya yang spektakuler dalam The Wolf of Wall Street (2013) – juga mampu membuktikan bahwa dirinya adalah lebih dari sekedar aktris yang hanya bermodalkan tampang saja. Penampilan dan kharisma Robbie mampu mengimbangi Smith dengan baik untuk menjadikan penonton lupa akan beberapa kelemahan yang hadir dalam penyajian cerita film ini.

Selain Smith dan Robbie, Focus juga didukung oleh penampilan solid para pengisi departemen akting lainnya – meskipun penulisan karakter yang terasa benar-benar minimalis jelas membuat kehadiran mereka terasa kurang berarti. Dari sisi teknikal film ini juga mampu dihadirkan dalam tata produksi yang kuat. Tata sinematografi yang tampil glossy serta pemilihan musik yang benar-benar menghidupkan atmosfer playful dalam jalan cerita film menjadi dua elemen teknikal paling kuat dalam film yang akan sanggup membuat penontonnya kembali menghargai kehadiran Will Smith. Welcome back, Mr. Smith! [B-]

Focus (2015)

Directed by Glenn Ficarra, John Requa Produced by Denise Di Novi Written by Glenn Ficarra, John Requa  Starring Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro, Gerald McRaney, B. D. Wong, Robert Taylor, Dominic Fumusa, Brennan Brown, Griff Furst, Adrian Martinez, Alfred Tumbley Music by Nick Urata Cinematography Xavier Pérez Grobet Edited by Jan Kovac Production company Zaftig Films/Di Novi Pictures/Kramer & Sigman Films/Overbrook Entertainment Running time 104 minutes Country United States Language English

The 34th Annual Razzie Awards Winners List

movie43Seperti biasa. Sebelum Hollywood merayakan film-film terbaiknya di sepanjang satu tahun terakhir esok hari, Golden Raspberry Awards Foundation tidak lupa memastikan bahwa dunia turut mengingat karya-karya terburuk Hollywood yang dirilis pada tahun 2013 lalu lewat The 34th Annual Razzie Awards. Secara mengejutkan, film Grown Ups 2 (2013) yang meraih nominasi terbanyak untuk penyelenggaraan Razzie Awards tahun ini justru pulang dengan tangan hampa. Adalah Movie 43 (2013) yang justru meraih gelar Worst Picture sekaligus memenangkan Worst Director dan Worst Screenplay. Tiga “penghargaan” raihan Movie 43 juga berhasil disamai oleh film After Earth. Film arahan M. Night Shyamalan tersebut “berhasil” meraih gelar Worst Actor untuk Jaden Smith, Worst Supporting Actor untuk Will Smith dan Worst Screen Combo untuk kolaborasi ayah dan anak tersebut. Ouch!

Continue reading The 34th Annual Razzie Awards Winners List

Review: Winter’s Tale (2014)

Winter's Tale (Village Roadshow Pictures/Weed Road Pictures, 2014)
Winter’s Tale (Village Roadshow Pictures/Weed Road Pictures, 2014)

Wellmaybe it’s true: tidak semua novel dapat diadaptasi menjadi sebuah penceritaan film layar lebar. Kadang, hal tersebut disebabkan karena beberapa novel memiliki deretan karakter dan plot penceritaan yang terlalu kompleks untuk dapat dijabarkan dengan seksama dalam dua atau bahkan tiga jam penceritaan. Sementara itu, beberapa novel lainnya memiliki struktur penceritaan yang terlalu luas untuk dapat dibawa keluar dari daya imajinasi para pembacanya. Kedua bentuk tantangan inilah yang harus dihadapi oleh Akiva Goldsman ketika mengadaptasi novel karya Mark Helprin yang berjudul Winter’s Tale. Novel tersebut memiliki sejumlah karakter yang cukup rumit dalam penceritaannya serta alur magical realism yang menuntut pembaca untuk larut dalam berbagai fantasi yang dibentuk oleh Helprin sekaligus turut percaya bahwa fantasi-fantasi tersebut dapat terjadi di sekitar lingkungan nyata mereka pada saat yang bersamaan. Jelas sebuah tantangan yang sangat serius – bahkan bagi seorang penulis naskah pemenang Academy Awards seperti Goldsman yang juga bertindak sebagai seorang sutradara bagi film ini.

Continue reading Review: Winter’s Tale (2014)

The 34th Annual Razzie Awards Nominations List

27th Annual Razzie Awards - Worst Picture - "Basically, It Stinks, Too"They’re back! Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, sehari menjelang Academy of Motion Picture Arts and Sciences mengumumkan deretan film-film terbaik peraih nominasi Academy Awards, Golden Raspberry Award Foundation turut hadir untuk memeriahkan awards season dengan mengumumkan nominasi Razzie Awards yang akan diberikan pada film-film berkualitas buruk yang dirilis di sepanjang satu tahun terakhir. Untuk pelaksanaannya yang ke-34 kali ini, film Grown Ups 2 (2013) yang dibintangi oleh Adam Sandler berhasil menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak. Film tersebut berhasil menyabet sebanyak delapan nominasi termasuk nominasi untuk Worst Picture, Worst Director, Worst Screenplay serta tiga nominasi akting untuk Sandler (Worst Actor), Taylor Lautner (Worst Supporting Actor) dan Salma Hayek (Worst Supporting Actress). Yikes!

Continue reading The 34th Annual Razzie Awards Nominations List

Review: After Earth (2013)

after-earth-header

First of alllet’s just be clear about one thing. Melihat bagaimana kualitas presentasi cerita beberapa film M. Night Shyamalan terakhir, rasanya tidak seorangpun yang harusnya masih menantikan Shyamalan kembali hadir dengan kualitas yang serupa seperti yang pernah ia hadirkan dahulu dalam The Sixth Sense (1999). On the other hand, rasanya adalah suatu hal yang jelas pula bahwa hingga saat ini, Shyamalan sama sekali belum pernah hadir dengan kualitas film yang benar-benar buruk. Baiklah, Lady in the Water (2006), The Happening (2008) maupun The Last Airbender (2010) mungkin sulit diterima banyak orang sebagai deretan karya yang menonjol karena jalan cerita yang cenderung datar, membosankan atau gagal tergarap dengan baik. Pun begitu, harus diakui, bahkan dalam filmnya yang dianggap memiliki kualitas terlemah, Shyamalan mampu menghadirkan alur cerita serta desain produksi yang masih sanggup memberikan filmnya beberapa poin keunggulan.

Continue reading Review: After Earth (2013)

Review: Men in Black 3 (2012)

Sepuluh tahun seusai perilisan Men in Black II – yang mendapatkan kesuksesan komersial walaupun dihujani kritikan tajam dari banyak kritikus film dunia – sutradara Barry Sonnenfeld akhirnya merilis bagian ketiga dari franchise Men in Black. Masih dibintangi oleh duo Will Smith dan Tommy Lee Jones, proses produksi Men in Black 3 sendiri telah berjalan cukup lama, dengan hambatan kebanyakan datang dari sisi penulisan naskah yang terus menerus mengalami perbaikan. Pun begitu, usaha perbaikan naskah yang secara intensif terus dilakukan tersebut sepertinya jelas terlihat dalam penceritaan Men in Black 3. Lebih bernuansa serius jika dibandingkan dengan dua seri sebelumnya, Men in Black 3 mampu menghadirkan tata cerita yang lebih terjaga dengan karakterisasi yang lebih mendalam.

Continue reading Review: Men in Black 3 (2012)