Tag Archives: Vincent D’Onofrio

Review: Jurassic World (2015)

jurassic-world-posterKetika Steven Spielberg merilis Jurassic Park pada tahun 1993, Spielberg berhasil menghadirkan sebuah keajaiban sinema yang masih terasa begitu relevan bahkan hingga saat ini. Di era ketika komputer masih belum menjadi tumpuan utama para pembuat film untuk menghasilkan gambar-gambar dengan efek visual yang begitu mengagumkan, Spielberg mampu membawa penonton selama 127 menit untuk merasakan kesenangan/kekaguman/ketegangan/ketakutan hidup di tengah kawanan dinosaurus dan menjadikan perjalanan tersebut sebagai sebuah pengalaman sinema yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Tidak mengherankan jika film dengan sentuhan terobosan teknologi tinggi tersebut kemudian sempat menjadi film dengan pendapatan komersial terbesar sepanjang masa – sebelum akhirnya digeser oleh Titanic (James Cameron, 1997), meraih begitu banyak penghargaan termasuk tiga Academy Awards serta diikuti oleh dua sekuel, The Lost World (1997) yang masih diarahkan oleh Spielberg dan Jurassic Park III (2001) yang kemudian diarahkan oleh Joe Johnston.

Kini, lebih dua dekade dari perilisan Jurassic Park dan lebih dari satu dekade setelah perilisan sekuel keduanya, Hollywood kembali berusaha untuk menghadirkan keajaiban tersebut dengan merilis sekuel ketiga bagi Jurassic Park yang diberi judul Jurassic World. Film ini sendiri awalnya telah direncanakan untuk dirilis pada satu dekade lalu dengan Spielberg hanya bertugas sebagai produser eksekutif – seperti yang ia lakukan pada Jurassic Park III. Namun, naskah cerita yang masih belum mampu terasa memuaskan serta berbagai masalah teknikal lainnya kemudian membuat Jurassic World terus mengalami penundaan produksi. Secara perlahan, usaha Spielberg untuk mewujudkan Jurassic World akhirnya mulai membuahkan hasil dan benar-benar memasuki masa produksi pada tahun 2014 dengan naskah cerita yang digarap oleh trio Rick Jaffa, Amanda Silver dan Derek Connolly bersama dengan Colin Trevorrow yang juga duduk di kursi penyutradaraan film.

Jurassic World sendiri memulai kisahnya ketika dua orang anak, Zach (Nick Robinson) dan Gray Mitchell (Ty Simpkins), diundang oleh bibinya, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), yang bekerja sebagai manajer operasi dari Jurassic World untuk datang dan berliburan ke pulau yang menjanjikan hiburan dan kesenangan akan hidup bersama para dinosaurus. Liburan yang awalnya berjalan lancar sesuai rencana tersebut sayangnya kemudian berubah menjadi bencana ketika salah satu dinosaurus yang dibuat dengan rekayasa genetik dan dinamakan Indominus rex berhasil melarikan diri dari kandangnya. Jelas, kepanikan lantas mulai menyebar diantara para pengunjung taman wisata tersebut, termasuk Zach dan Gray yang terjebak di dalamnya. Bersama dengan Owen Grady (Chris Pratt) yang bertugas sebagai tenaga ahli di Jurassic World, Claire mulai menelusuri seluruh taman guna menemukan dan menyelamatkan dua keponakannya tersebut.

Dalam satu bagian penceritaannya, karakter Claire Dearing sempat mengucapkan dialog bahwa generasi modern kini tidak lagi merasa begitu tertarik dengan eksistensi dinosaurus dari era purbakala – sebuah pernyataan yang menjadi dasar para ilmuwan yang bekerja di laboratorium Jurassic World untuk menghasilkan sosok dinosaurus yang lebih besar, lebih menakutkan dengan suara yang lebih menggelegar dan deretan gigi yang lebih banyak. WellJurassic World sendiri seperti menjadi perwujudan nyata akan pernyataan tersebut. Deretan dinosaurus yang tampil dalam film ini dihadirkan dalam skala besar. Skala film-film blockbuster modern, untuk lebih tepatnya. Namun apakah keberadaan sosok dinosaurus yang lebih besar dengan sentuhan teknologi komputer yang lebih kompleks tersebut mampu menyaingi para dinosaurus yang dihadirkan Spielberg dalam Jurassic Park? Belum tentu.

Salah satu hal yang membuat Jurassic Park begitu mampu melekat di benak penontonnya hingga saat ini adalah Spielberg mampu menciptakan deretan dinosaurus yang terlihat dan terasa begitu nyata ketika dihadirkan di dalam jalan penceritaan. Teknologi komputer saat ini memang mampu menyajikan tampilan visual dinosaurus yang sama (atau bahkan lebih) nyata dalam Jurassic World. Sayangnya, pengembangan cerita yang cenderung lemah justru membuat kehadiran para dinosaurus dalam film ini terasa hanya seperti makhluk buas yang dapat membunuh siapa saja dan harus segera dienyahkan tanpa pernah diberikan lapisan penceritaan yang membuat kehadirannya lebih berkesan. Hasilnya, daripada mampu memberikan ketegangan dan kekaguman pada penonton ketika muncul di layar penceritaan, deretan dinosaurus dalam Jurassic World kini tampil tanpa kejutan berarti yang dapat membuatnya terasa istimewa.

Olahan naskah cerita yang disediakan untuk Jurassic World juga terasa cukup mengecewakan. Dengan pakem cerita yang terasa begitu mengikuti berbagai formula yang telah diterapkan tiga seri Jurassic Park sebelumnya, Jurassic World jelas tidak akan begitu mampu menawarkan sesuatu yang baru dalam pengisahannya. Sayang, formula familiar tersebut juga mendapatkan pengembangan yang begitu dangkal. Banyak karakter yang hadir tanpa porsi cerita yang maksimal, dialog-dialog yang terdengar cukup menggelikan serta konflik yang gagal untuk tersaji dengan menarik. Hal ini begitu terasa pada dua paruh awal penceritaan Jurassic World dimana konflik dan karakter-karakter cerita yang dihadirkan terasa begitu berantakan, hadir dan datang dari berbagai penjuru tanpa pernah mampu terasa memiliki tujuan penceritaan yang kuat. Arahan Colin Trevorrow juga terasa lemah dalam mengendalikan ritme cerita serta karakter-karakter yang ada dalam filmnya. Beruntung, meskipun terasa sedikit terlambat, Trevorrow mampu menyajikan paruh ketiga penceritaan yang benar-benar kuat, berjalan dengan cepat dan mampu menghadirkan ketegangan yang terasa begitu maksimal.

Terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, mereka yang menyaksikan Jurassic World untuk kembali mendapatkan berbagai kenangan indah akan Jurassic Park sepertinya juga masih akan dapat cukup terpuaskan. Tata musik arahan Michael Giacchino yang beberapa kali menghadirkan komposisi musik orisinal arahan John Williams mampu memberikan ketegangan tersendiri. Begitu pula dengan sinematografi arahan John Schwartzman yang membuat setiap kepingan gambar dalam film ini terasa megah. Dari departemen akting, Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard mampu tampil prima dengan chemistry antara satu sama lain yang benar-benar tercipta begitu meyakinkan. Sayangnya pengembangan karakter pendukung yang dangkal tidak memberikan ruang yang cukup bagi para pemeran lain untuk mampu tampil dengan ruang yang lebih luas. Jurassic World secara keseluruhan masih mampu tampil sebagai sebuah film blockbuster modern yang cukup menyenangkan dengan beberapa ketegangan yang tersaji cukup baik. Namun, lebih dari itu, film ini gagal untuk tampil dengan pengisahan yang lebih mengesankan, khususnya untuk sebuah film yang berada dalam barisan seri film Jurassic Park yang begitu monumental tersebut. [C]

Jurassic World (2015)

Directed by Colin Trevorrow Produced by Frank Marshall, Patrick Crowley Written by Rick Jaffa, Amanda Silver, Derek Connolly, Colin Trevorrow (screenplay), Rick Jaffa, Amanda Silver (story), Michael Crichton (charactersStarring Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Vincent D’Onofrio, Ty Simpkins, Nick Robinson, Omar Sy, B. D. Wong, Irrfan Khan, Jake Johnson, Brian Tee, Lauren Lapkus, Katie McGrath, Judy Greer, Andy Buckley, James DuMont, Jimmy Fallon Music by Michael Giacchino Cinematography John Schwartzman Editing by Kevin Stitt Studio Amblin Entertainment/Legendary Pictures Running time 124 minutes Country United States Language English

Advertisements

Review: Run All Night (2015)

run-all-night-posterUntuk kali ketiga setelah Unknown (2011) dan Non-Stop (2014) yang berhasil meraih kesuksesan komersial sekaligus memantapkan posisinya sebagai seorang bintang film-film aksi, Liam Neeson kembali berada di bawah arahan sutradara Jaume Collet-Serra untuk film teranyarnya, Run All Night. Layaknya peran yang ia sajikan selama tujuh tahun terakhir setelah membintangi Taken (2008), Run All Night juga menampilkan Neeson sebagai sosok pria paruh baya yang memiliki kekuatan fisik dan mental luar biasa dalam menghadapi bahaya yang mengancam diri dan orang-orang yang ia sayangi. Apakah Run All Night memiliki kejutan yang berarti dalam penuturan kisahnya? Tidak juga. Mereka yang telah mengikuti petualangan Neeson dalam film-film aksi jelas telah tahu pasti apa yang ditawarkan oleh film yang juga dibintangi Joel Kinnaman dan Ed Harris ini. Meskipun begitu, daya tarik Neeson yang masih luar biasa kuat ditambah dengan kualitas penampilan dari departemen akting serta pengarahan aksi yang solid cukup mampu membuat Run All Night tampil begitu memikat.

Dengan naskah yang ditulis oleh Brad Ingelsby (Out of the Furnace, 2013), Run All Night berkisah mengenai Jimmy Conlon (Neeson), seorang mantan pembunuh bayaran yang kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan mengkonsumsi minuman keras akibat dihantui rasa bersalah akan orang-orang yang telah dibunuhnya di masa lampau. Satu-satunya orang yang masih peduli pada Jimmy adalah Shawn Maguire (Harris), mantan kriminal yang dahulu pernah mempekerjakan Jimmy sekaligus merupakan sahabat Jimmy semenjak mereka kecil. Namun kisah persahabatan keduanya berada dalam situasi genting ketika di suatu malam Jimmy terpaksa menembak mati putra tunggal Shawn, Danny (Boyd Holbrook), akibat berusaha membunuh putra tunggal Jimmy, Mike (Kinnaman). Jelas saja Shawn dengan segera mengerahkan seluruh kaki tangannya untuk menemukan sekaligus membunuh Jimmy dan Mike.

Chemistry antara Jaume Collet-Serra dengan Liam Neeson jelas menjadi salah satu faktor mengapa Run All Night dapat bekerja dengan baik. Collet-Serra tahu pasti bahwa Neeson adalah aktor yang ia butuhkan untuk mampu menghidupkan sekaligus membuat sosok karakter yang sebenarnya sulit untuk disukai akhirnya justru dapat menerima dukungan penuh dari penonton. Dan Neeson, tentunya, mampu memenuhi harapan Collet-Serra tersebut dengan baik. Tidak hanya Neeson, Run All Night juga mendapatkan dukungan penampilan yang begitu prima dari jajaran pengisi departemen akting lainnya, mulai dari Ed Harris, Joel Kinnaman, Vincent D’Onofrio bahkan hingga Nick Nolte dan Boyd Holbrook yang hadir dalam kapasitas penceritaan yang begitu terbatas. Jika ada keluhan yang cukup berarti dalam departemen akting film ini maka hal tersebut mungkin datang dari penampilan Common yang begitu datar. Bukan sepenuhnya salah dari sang aktor. Karakter pembunuh bayaran berdarah dingin yang diperankan Common mendapatkan porsi penceritaan dan penggalian karakter yang begitu minim sehingga kehadiran karakter tersebut dalam jalan cerita sering terasa sia-sia belaka.

Dan memang, penggalian cerita dari beberapa karakter yang hadir dalam jalan cerita Run All Night menjadi salah satu masalah dari naskah cerita garapan Brad Ingelsby. Naskah cerita Ingelsby seringkali mengabaikan keberadaan karakter-karakter pendukung yang sebenarnya, jika ingin dicerna lebih lanjut, memiliki peran yang vital dalam keseluruhan penceritaan. Hal ini yang membuat beberapa plot pendukung cerita terasa hadir tanpa pengembangan kisah yang kuat. Tidak hanya itu, Ingelsby juga terasa gagal untuk mengisi celah-celah dalam konflik utama film agar mampu membuatnya kuat untuk bercerita sepanjang hampir selama dua jam, khususnya di pertengahan paruh kedua dan ketiga film. Tidak buruk namun jelas memberikan beberapa celah hampa tersendiri di dalam penceritaan Run All Night.

Terlepas dari berbagai kelemahan di departemen penceritaan, Run All Night masih mampu dikemas sebagai sebuah film action popcorn yang benar-benar menarik. Collet-Serra berhasil mengeksekusi setiap adegan aksi dalam tampilan visual yang memukau dan menegangkan. Begitu pula dengan pengarahannya akan alur penceritaan yang sukses mengalirkan kisah film ini dengan baik kepada penontonnya. Jika Anda merupakan penggemar dari dua film kolaborasi Collet-Serra dan Neeson sebelumnya, maka Run All Night jelas tidak akan mengecewakan. [B-]

Run All Night (2015)

Directed by Jaume Collet-Serra Produced by Roy Lee, Michael Tadross, Brooklyn Weaver Written by Brad Ingelsby Starring Liam Neeson, Ed Harris, Joel Kinnaman, Boyd Holbrook, Bruce McGill, Génesis Rodríguez, Vincent D’Onofrio, Common, Holt McCallany, Malcolm Goodwin, Nick Nolte Music by Junkie XL Cinematography Martin Ruhe Edited by Craig McKay Production company Vertigo Entertainment/Energy Entertainment Running time 114 minutes Country United States Language English

Review: Sinister (2012)

sinister-header

Sinister mungkin memiliki premis yang telah dihadirkan ribuan kali oleh kebanyakan film horor buatan Hollywood lainnya: sebuah keluarga memasuki sebuah rumah baru dimana salah seorang anggota keluarga tersebut menemukan sebuah benda misterius di dalam rumah yang kemudian memberikan teror pada dirinya serta seluruh anggota keluarga tersebut. Klise. Namun terlepas dari premis yang terkesan terlalu biasa, sutradara Scott Derickson (The Exorcism of Emily Rose, 2005) bersama dengan penulis naskah C. Robert Cargill mampu merancang sebuah susunan naskah cerita yang berhasil menghadirkan dua elemen yang sering dilupakan oleh kebanyakan film horor modern: karakter-karakter yang layak untuk diperhatikan sekaligus kemampuan jalan cerita untuk benar-benar tampil menakuti para penontonnya.

Continue reading Review: Sinister (2012)

Review: Fire with Fire (2012)

fire_with_fire_header

Well… semua elemen yang dihadirkan dalam Fire with Fire secara gamblang menjelaskan mengapa film ini langsung dirilis dalam wujud home video di banyak negara – dan seharusnya memang dan tetap diperlakukan seperti itu. Fire with Fire sendiri sebenarnya tidak pernah berjalan dengan kualitas yang begitu buruk. Kualitas akting yang tidak mengecewakan dari para jajaran pemerannya yang diisi oleh nama-nama seperti Josh Duhamel, Rosario Dawson, Bruce Willis dan Vincent D’Onofrio juga mampu membuat film ini setidaknya tampil menghibur sebagai sebuah film aksi. Kelemahan terbesar film ini berasal dari naskah cerita garapan Tom O’Connor yang menyajikan kisah, konflik dan dialog Fire with Fire dengan begitu klise, datar dan terkesan sebagai comotan plot cerita dari berbagai film-film sejenis yang telah pernah dirilis sebelumnya.

Continue reading Review: Fire with Fire (2012)