Tag Archives: Tyrese Gibson

Review: Fast and Furious 8 (2017)

Percaya atau tidak, seri perdana The Fast and the Furious arahan Rob Cohen yang dirilis tahun 2001 mendasarkan kisahnya pada sebuah artikel karya jurnalis Kenneth Li berjudul Racer X yang dirilis pada Mei 1998 di majalah Vibe. Artikel yang mengupas tentang sekelompok pembalap yang secara rutin melakukan aksinya di jalanan kota New Yok, Amerika Serikat tersebut kemudian memberikan landasan realitas penceritaan pada beberapa seri awal The Fast and the Furious. Namun, seiring dengan pertambahan sekuel sekaligus nilai komersial yang dihasilkannya, film-film dalam rangkaian penceritaan The Fast and the Furious lantas bergerak menjadi sebuah film yang menjunjung penuh deretan adegan aksi bombastis layaknya (bahkan terkadang melebihi) adegan-adegan aksi dalam film-film pahlawan super. Tentu saja, dengan minat penonton yang cenderung terus meningkat – khususnya setelah Fast and the Furious 7 (James Wan, 2015) yang membukukan kesuksesan komersial sebesar lebih dari US$1.5 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – para produser seri film ini jelas akan terus bersiap untuk memuaskan setiap penggemar seri The Fast and the Furious dengan tampilan aksi yang semakin terlihat fantastis. Continue reading Review: Fast and Furious 8 (2017)

Advertisements

Review: Fast and Furious 7 (2015)

fast-and-furious-7-posterMeskipun lebih dikenal sebagai seorang sutradara yang menghasilkan film-film horor seperti Saw (2004), Dead Silence (2007), Insidious (2011) dan The Conjuring (2013), James Wan sebenarnya pernah menginjakkan kakinya ke ranah film aksi ketika ia mengarahkan Death Sentence pada tahun 2007. Sayang, selain film tersebut gagal untuk meraih keuntungan komersial seperti film-film horornya, kritikus film dunia sepertinya juga tidak begitu terkesan dengan film yang dibintangi Kevin Bacon tersebut. Namun, film aksi kedua arahan Wan sepertinya tidak akan dilupakan begitu saja oleh penikmat film dunia: film tersebut dibintangi oleh nama-nama besar bintang aksi Hollywood, memiliki efek visual yang mengagumkan dan menjadi bagian dari salah satu seri film aksi terlaris di dunia sepanjang masa. A little indie movie called Fast and Furious 7.

Jika Fast and Furious 6 memiliki linimasa penceritaan yang berada diantara 2 Fast 2 Furious (2003) dan The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006), maka film yang naskah ceritanya masih digarap oleh Chris Morgan ini memiliki latarbelakang waktu penceritaan tepat setelah The Fast and the Furious: Tokyo Drift – termasuk dengan mengikutsertakan aktor film tersebut, Lucas Black, yang seringkali terlupakan keberadaannya dalam seri film ini. Kisahnya sendiri dimulai ketika Deckard Shaw (Jason Statham), yang merupakan kakak dari Owen Shaw (Luke Evans) yang telah dikalahkan oleh Dominic Toretto (Vin Diesel), Brian O’Conner (Paul Walker) dan rekan-rekannya di seri sebelumnya, berusaha menuntut balas terhadap kawanan tersebut. Dom dan Brian yang sebenarnya telah berusaha untuk meninggalkan masa lalunya akhirnya terpaksa kembali melakukan aksinya setelah Deckard Shaw mulai membahayakn diri keluarga dan rekan-rekan yang dekat dekat dengan mereka.

Harus diakui, melalui Fast and Furious 7, Wan membuktikan dirinya adalah seorang sutradara aksi yang begitu handal dalam menangani deretan adegan aksi yang brutal sekaligus membutuhkan ritme penceritaan yang sangat cepat. Memadukan sajian ledakan-ledakan spektakuler a la film-film aksi Michael Bay dengan pertarungan seni bela diri yang mungkin mengingatkan sebagian penonton pada The Raid (2012) arahan Gareth Huw Evans, Fast and Furious 7 tampil begitu dinamis sebagai sebuah film aksi. Wan juga berhasil mengarahkan para pengisi departemen aktingnya dengan sangat baik. Sebuah tugas mudah mengingat nama-nama seperti Vin Diesel, Paul Walker, Dwayne Johnson, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, Tyrese Gibson dan Chris Bridges tentu saja telah mengenal dunia penceritaan seri film ini dengan baik. Jelas menjadi salah satu bagian dengan penggarapan terbaik dalam seri film ini yang akan sanggup membuat banyak penontonnya berdecak kagum.

Di sisi lainnya, sangat sulit untuk menyangkal bahwa Fast and Furious 7 dihadirkan secara (terlalu) berlebihan dalam penanganan ceritanya. Kisah yang semenjak seri sebelumnya telah dicanangkan menjadi ajang perburuan terhadap Deckard Shaw yang diperankan oleh Jason Statham ternyata kemudian mendapatkan banyak distraksi dari beberapa karakter sekaligus konflik baru. Plot yang melibatkan Deckard Shaw kemudian seringkali terasa hanya menjadi sekedar tempelan belaka dengan Jason Statham hadir dalam penampilan yang begitu terbatas. Sialnya, plot dan karakter tambahan yang dihadirkan untuk film ini juga tidak tersaji dengan kualitas lebih baik. Adalah sangat dimengerti bahwa plot baru tersebut diciptakan untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi film ini dalam menyajikan adegan aksi spektakulernya. Namun ketika plot tersebut gagal untuk terkelola dengan baik, adegan-adegan ledakan tersebut akhirnya hanya dapat tampil megah tanpa pernah memberikan sensasi menegangkan yang lebih kuat.

Fast and Furious 7 sendiri menjadi seri film terakhir yang dibintangi oleh Paul Walker yang meninggal dunia pada tahun 2013 lalu. Dan seri ini memberikan sebuah ucapan selamat tinggal yang begitu manis bagi Walker. Meskipun hanya berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit di akhir film, adegan yang didekasikan pada Walker tersebut menjadi bagian paling emosional dalam sepanjang sejarah seri film Fast & Furious. Walker memang menjadi bagian tidak terpisahkan dari seri film yang kepopulerannya telah mengalami pancaroba selama lebih dari satu dekade keberadaannya. Dan para pengisi departemen akting film ini jelas telah memberikan sebuah persembahan yang begitu manis pada rekannya tersebut. [C]

Fast and Furious 7 (2015)

Directed by James Wan Produced by Neal H. Moritz, Vin Diesel Written by Chris Morgan (screenplay), Gary Scott Thompson (characters) Starring Vin Diesel, Paul Walker, Dwayne Johnson, Michelle Rodriguez, Jordana Brewster, Tyrese Gibson, Chris Bridges, Jason Statham, Lucas Black, Elsa Pataky, Kurt Russell, Tony Jaa, Ronda Rousey, Nathalie Emmanuel, Djimon Hounsou, John Brotherton, Ali Fazal, Noel Gugliemi, Iggy Azalea, Sung Kang, Luke Evans Music by Brian Tyler Cinematography Stephen F. Windon, Marc Spicer Editing by Christian Wagner, Leigh Folsim Boyd, Dylan Highsmith, Kirk M. Morri Studio Original Film/One Race Films/Relativity Media Running time 134 minutes Country United States Language English

Review: Fast and Furious 6 (2013)

fast-and-furious-6-header

Terakhir kali penonton menyaksikan petualangan duo karakter Dominic Toretto dan Brian O’Conner dalam Fast Five (2011), keduanya, bersama dengan segerombolan rekan-rekannya, sedang berada di Rio de Janeiro, Brazil dan sedang berada di bawah pengejaran seorang agen rahasia bernama Luke Hobbs (Dwayne Johnson), akibat kejahatan pencurian mobil-mobil mewah yang mereka lakukan. Terdengar seperti… errrOcean’s Eleven (2001)? Well… jika Fast Five adalah Ocean’s Eleven dari franchise The Fast and the Furious, maka Fast and Furious 6, atau yang juga dikenal dengan judul Furious 6, adalah Ocean’s Twelve (2004) dengan menggunakan lini penceritaan yang sama dimana karakter Hobbs kini berbalik kepada pasangan Dominic Toretto dan Brian O’Conner untuk membantunya dalam menyelesaikan sebuah kejahatan. Yep. Hollywood is definitely in the danger of running out their original ideas.

Continue reading Review: Fast and Furious 6 (2013)

Review: Fast Five (2011)

Mungkin tidak akan ada seorangpun yang akan menyangka bahwa franchise The Fast and the Furious yang pertama kali dimulai pada tahun 2001, akan mampu menarik cukup banyak penggemaar setia dan bertahan hingga masa satu dekade. Padahal, semenjak dirilis pertama kali, setiap seri dari franchise ini terus menerus mendapatkan kritikan tajam  dari kritikus film dunia – kebanyakan mengungkapkan rasa keberatan mereka atas plot cerita yang kurang masuk akal serta akting para jajaran pemerannya yang terlalu ‘terbatas.’ Pun begitu, setiap seri The Fast and the Furious menjadi bukti nyata bahwa kadang para penonton melihat film yang mereka saksikan dengan sudut pandang yang berbeda dari para kritikus film. Setiap seri menghasilkan cukup banyak keuntungan komersial bagi para produsernya yang, tentu saja, tidak berkeberatan untuk melanjutkan perolehan keuntungan mereka hingga saat ini.

Continue reading Review: Fast Five (2011)

Review: Transformers: Dark of the Moon (2011)

Adalah sebuah pengetahuan umum bagi setiap pecinta film di dunia bahwa Michael Bay adalah seorang sutradara yang sangat handal ketika ia menghantarkan sebuah film yang disertai dengan begitu banyak adegan ledakan yang memerlukan tingkat pengarahan special effect yang tinggi. Namun, merupakan rahasia umum pula bahwa dalam setiap film-film yang diarahkan oleh Bay, tidak seorangpun seharusnya mengharapkan adanya pengembangan karakter yang jelas, kontinuitas jalan cerita yang terjaga maupun aliran emosi yang akan mampu membuat penonton peduli dengan apa yang terjadi pada setiap karakter di film yang mereka tonton. Transformers: Dark of the Moon sepertinya menjadi sebuah pembuktian kembali atas kenyataan tersebut.

Continue reading Review: Transformers: Dark of the Moon (2011)