Tag Archives: Ty Simpkins

Review: Insidious: The Last Key (2018)

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang filmografinya diisi oleh film-film horor seperti The Taking of Deborah Logan (2014) dan Paranormal Activity: The Ghost Dimension (2015), film keempat dalam seri film Insidious, Insidious: The Last Key, kini menempatkan karakter Elise Rainier yang diperankan oleh Lin Shaye pada garda terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya. Jelas suatu hal yang tidak mengherankan mengingat naskah cerita Insidious: The Last Key berusaha menyelami karakter Elise Rainier secara personal yang sekaligus menjadikan film ini sebagai bagian pertama dari seri film Insidious jika dirunut berdasarkan kronologi pengisahannya. Shaye memang mampu menjadikan karakter yang ia perankan tampil begitu mengikat namun, sayangnya, naskah garapan Leigh Whannell tidak pernah bergerak dari berbagai taktik horor yang sebelumnya telah diterapkan oleh film-film Insidious sebelumnya. Hasilnya, Insidious: The Last Key berakhir sebagai sebuh presentasi cerita yang cenderung monoton dan membosankan. Continue reading Review: Insidious: The Last Key (2018)

Advertisements

Review: Jurassic World (2015)

jurassic-world-posterKetika Steven Spielberg merilis Jurassic Park pada tahun 1993, Spielberg berhasil menghadirkan sebuah keajaiban sinema yang masih terasa begitu relevan bahkan hingga saat ini. Di era ketika komputer masih belum menjadi tumpuan utama para pembuat film untuk menghasilkan gambar-gambar dengan efek visual yang begitu mengagumkan, Spielberg mampu membawa penonton selama 127 menit untuk merasakan kesenangan/kekaguman/ketegangan/ketakutan hidup di tengah kawanan dinosaurus dan menjadikan perjalanan tersebut sebagai sebuah pengalaman sinema yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Tidak mengherankan jika film dengan sentuhan terobosan teknologi tinggi tersebut kemudian sempat menjadi film dengan pendapatan komersial terbesar sepanjang masa – sebelum akhirnya digeser oleh Titanic (James Cameron, 1997), meraih begitu banyak penghargaan termasuk tiga Academy Awards serta diikuti oleh dua sekuel, The Lost World (1997) yang masih diarahkan oleh Spielberg dan Jurassic Park III (2001) yang kemudian diarahkan oleh Joe Johnston.

Kini, lebih dua dekade dari perilisan Jurassic Park dan lebih dari satu dekade setelah perilisan sekuel keduanya, Hollywood kembali berusaha untuk menghadirkan keajaiban tersebut dengan merilis sekuel ketiga bagi Jurassic Park yang diberi judul Jurassic World. Film ini sendiri awalnya telah direncanakan untuk dirilis pada satu dekade lalu dengan Spielberg hanya bertugas sebagai produser eksekutif – seperti yang ia lakukan pada Jurassic Park III. Namun, naskah cerita yang masih belum mampu terasa memuaskan serta berbagai masalah teknikal lainnya kemudian membuat Jurassic World terus mengalami penundaan produksi. Secara perlahan, usaha Spielberg untuk mewujudkan Jurassic World akhirnya mulai membuahkan hasil dan benar-benar memasuki masa produksi pada tahun 2014 dengan naskah cerita yang digarap oleh trio Rick Jaffa, Amanda Silver dan Derek Connolly bersama dengan Colin Trevorrow yang juga duduk di kursi penyutradaraan film.

Jurassic World sendiri memulai kisahnya ketika dua orang anak, Zach (Nick Robinson) dan Gray Mitchell (Ty Simpkins), diundang oleh bibinya, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), yang bekerja sebagai manajer operasi dari Jurassic World untuk datang dan berliburan ke pulau yang menjanjikan hiburan dan kesenangan akan hidup bersama para dinosaurus. Liburan yang awalnya berjalan lancar sesuai rencana tersebut sayangnya kemudian berubah menjadi bencana ketika salah satu dinosaurus yang dibuat dengan rekayasa genetik dan dinamakan Indominus rex berhasil melarikan diri dari kandangnya. Jelas, kepanikan lantas mulai menyebar diantara para pengunjung taman wisata tersebut, termasuk Zach dan Gray yang terjebak di dalamnya. Bersama dengan Owen Grady (Chris Pratt) yang bertugas sebagai tenaga ahli di Jurassic World, Claire mulai menelusuri seluruh taman guna menemukan dan menyelamatkan dua keponakannya tersebut.

Dalam satu bagian penceritaannya, karakter Claire Dearing sempat mengucapkan dialog bahwa generasi modern kini tidak lagi merasa begitu tertarik dengan eksistensi dinosaurus dari era purbakala – sebuah pernyataan yang menjadi dasar para ilmuwan yang bekerja di laboratorium Jurassic World untuk menghasilkan sosok dinosaurus yang lebih besar, lebih menakutkan dengan suara yang lebih menggelegar dan deretan gigi yang lebih banyak. WellJurassic World sendiri seperti menjadi perwujudan nyata akan pernyataan tersebut. Deretan dinosaurus yang tampil dalam film ini dihadirkan dalam skala besar. Skala film-film blockbuster modern, untuk lebih tepatnya. Namun apakah keberadaan sosok dinosaurus yang lebih besar dengan sentuhan teknologi komputer yang lebih kompleks tersebut mampu menyaingi para dinosaurus yang dihadirkan Spielberg dalam Jurassic Park? Belum tentu.

Salah satu hal yang membuat Jurassic Park begitu mampu melekat di benak penontonnya hingga saat ini adalah Spielberg mampu menciptakan deretan dinosaurus yang terlihat dan terasa begitu nyata ketika dihadirkan di dalam jalan penceritaan. Teknologi komputer saat ini memang mampu menyajikan tampilan visual dinosaurus yang sama (atau bahkan lebih) nyata dalam Jurassic World. Sayangnya, pengembangan cerita yang cenderung lemah justru membuat kehadiran para dinosaurus dalam film ini terasa hanya seperti makhluk buas yang dapat membunuh siapa saja dan harus segera dienyahkan tanpa pernah diberikan lapisan penceritaan yang membuat kehadirannya lebih berkesan. Hasilnya, daripada mampu memberikan ketegangan dan kekaguman pada penonton ketika muncul di layar penceritaan, deretan dinosaurus dalam Jurassic World kini tampil tanpa kejutan berarti yang dapat membuatnya terasa istimewa.

Olahan naskah cerita yang disediakan untuk Jurassic World juga terasa cukup mengecewakan. Dengan pakem cerita yang terasa begitu mengikuti berbagai formula yang telah diterapkan tiga seri Jurassic Park sebelumnya, Jurassic World jelas tidak akan begitu mampu menawarkan sesuatu yang baru dalam pengisahannya. Sayang, formula familiar tersebut juga mendapatkan pengembangan yang begitu dangkal. Banyak karakter yang hadir tanpa porsi cerita yang maksimal, dialog-dialog yang terdengar cukup menggelikan serta konflik yang gagal untuk tersaji dengan menarik. Hal ini begitu terasa pada dua paruh awal penceritaan Jurassic World dimana konflik dan karakter-karakter cerita yang dihadirkan terasa begitu berantakan, hadir dan datang dari berbagai penjuru tanpa pernah mampu terasa memiliki tujuan penceritaan yang kuat. Arahan Colin Trevorrow juga terasa lemah dalam mengendalikan ritme cerita serta karakter-karakter yang ada dalam filmnya. Beruntung, meskipun terasa sedikit terlambat, Trevorrow mampu menyajikan paruh ketiga penceritaan yang benar-benar kuat, berjalan dengan cepat dan mampu menghadirkan ketegangan yang terasa begitu maksimal.

Terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, mereka yang menyaksikan Jurassic World untuk kembali mendapatkan berbagai kenangan indah akan Jurassic Park sepertinya juga masih akan dapat cukup terpuaskan. Tata musik arahan Michael Giacchino yang beberapa kali menghadirkan komposisi musik orisinal arahan John Williams mampu memberikan ketegangan tersendiri. Begitu pula dengan sinematografi arahan John Schwartzman yang membuat setiap kepingan gambar dalam film ini terasa megah. Dari departemen akting, Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard mampu tampil prima dengan chemistry antara satu sama lain yang benar-benar tercipta begitu meyakinkan. Sayangnya pengembangan karakter pendukung yang dangkal tidak memberikan ruang yang cukup bagi para pemeran lain untuk mampu tampil dengan ruang yang lebih luas. Jurassic World secara keseluruhan masih mampu tampil sebagai sebuah film blockbuster modern yang cukup menyenangkan dengan beberapa ketegangan yang tersaji cukup baik. Namun, lebih dari itu, film ini gagal untuk tampil dengan pengisahan yang lebih mengesankan, khususnya untuk sebuah film yang berada dalam barisan seri film Jurassic Park yang begitu monumental tersebut. [C]

Jurassic World (2015)

Directed by Colin Trevorrow Produced by Frank Marshall, Patrick Crowley Written by Rick Jaffa, Amanda Silver, Derek Connolly, Colin Trevorrow (screenplay), Rick Jaffa, Amanda Silver (story), Michael Crichton (charactersStarring Chris Pratt, Bryce Dallas Howard, Vincent D’Onofrio, Ty Simpkins, Nick Robinson, Omar Sy, B. D. Wong, Irrfan Khan, Jake Johnson, Brian Tee, Lauren Lapkus, Katie McGrath, Judy Greer, Andy Buckley, James DuMont, Jimmy Fallon Music by Michael Giacchino Cinematography John Schwartzman Editing by Kevin Stitt Studio Amblin Entertainment/Legendary Pictures Running time 124 minutes Country United States Language English

Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

indisious-chapter-2-header

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

Continue reading Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

Review: Iron Man 3 (2013)

iron-man-3-header

Sowhat’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.

Continue reading Review: Iron Man 3 (2013)

Review: Insidious (2011)

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

Continue reading Review: Insidious (2011)